meringankan bacaan berat

Tuesday, 20 March 2012

Menerbitkan Buku Sendiri dari Rumah

(foto: askdavetaylor.com)

Sejak akhir Maret 2009 yang lalu, kami berusaha mendirikan penerbitan buku dari rumah kami di Depok, Jawa Barat. Penerbitan buku dengan pola self publishing tersebut, kami beri label Dekadeku Pustaka. Kebetulan kami senang melakukan kegiatan tulis-menulis. Dan apa salahnya mencoba menerbitkan sendiri sehingga tak harus tergantung dengan pihak lain, terutama penerbit besar.

Mungkin ada yang bertanya, tidakkah ini merepotkan? Secara teknis sebenarnya tidak terlalu repot. Bila sudah punya naskah. Maka langkah berikutnya tinggal mengedit, melayout, mengirim ke percetakan, dan memilih distributor.

Pengiriman ke distributor serahkan pada percetakan, pengiriman ke toko-toko buku serahkan pada distributor. Setelah itu, tinggal menunggu laporan penjualan dari distributor. Distributor biasanya sebuah perusahaan jenis CV atau PT, sehingga akan lebih mudah untuk masuk ke toko-toko buku besar seperti Gramedia dan Gunung Agung. Toko buku besar itu memang mensyaratkan kita harus minimal memiliki CV jika ingin buku kita terpajang di sana.

Tapi ingat, saat memilih distributor kita harus jeli, jangan sampai masuk perangkap distributor 'nakal'. Bisa-bisa buku-buku karya kita tak jelas ke mana dan hasil penjualannya pun bisa menguap.

Jika ragu memanfaatkan jasa distributor, kita bisa menjualnya sendiri. Bisa secara langsung, atau secara online memanfaatkan media sosial seperti Facebook dan Twitter. Memang risikonya buku kita tak akan masuk toko buku besar. Tapi sisi positifnya, uang yang kita dapatkan dari penjualan buku tak terkena potongan distributor dan juga toko buku.

Menerbitkan buku dari rumah membuka banyak kemungkinan baru bagi para penulis, dan caranya pun mudah. Namun toh banyak penulis yang belum tahu bagaimana caranya. Kami sendiri awalnya sempat bertanya ke sana ke mari, terutama kepada teman-teman yang sudah memiliki penerbitan, bagaimana teknis dan kelayakan penerbitan mandiri dari rumah seperti ini.

Menerbitkan buku sendiri dari rumah ternyata memiliki beragam sisi positif dan negatif.  Bagi seorang penulis, kiprah menerbitkan buku karyanya sendiri, memunculkan sederet sisi positif. Sisi positif self publishing ini amat banyak, sehingga mungkin tidak cukup jika hanya dibahas dalam satu kali tulisan.

Di antara sisi positif tersebut, yakni dengan self publishing seorang penulis akan mampu jadi manajer bagi peredaran buku yang ditulisnya sendiri. Lain lagi jika tulisan tersebut diterbitkan oleh penerbit lain, maka yang mengatur marketing, distribusi, dan lain-lain adalah pihak penerbit tersebut. Namun jika melakukan self publishing, maka semua itu kita sendiri atau yang menangani.

Mulai dari urusan nomor ISBN, mengurus tata letak buku, mencetak buku, hingga distribusi dan pemasaran buku, kitasendirilah yang mengurus. Dalam hal ini bukan berarti kita harus total menangani sendiri, tetapi bisa juga memercayakan ke orang-orang yang sudah ahli, namun tetap di bawah kendali kita.

Bagaimana bila masalah tata letak buku atau desain sampul buku kita tak menguasainya? Tak perlu pusing, hal itu bisa dipercayakan ke orang lain. Misalnya bisa minta tolong ke teman yang ahli atau staf tata letak koran, tabloid, atau majalah yang sudah dikenal. Mereka biasanya profesional sebab sehari-harinya memang mengurusi tata letak. Tentang biaya yang harus dikeluarkan untuk urusan ini, semua tergantung nego.

Dalam kaitannya dengan mengurus ISBN, tak terlalu sulit, siapa pun bisa menanganinya secara langsung, asalkan memenuhi syarat. Syaratnya pun mudah. Jika mau mengurus secara langsung, maka mengurusnya di Kantor Perpustakaan Nasional Pusat, di Jalan Salemba Raya Jakarta. Ongkosnya tidak mahal yakni hanya Rp 25 ribu tanpa barcode dan Rp 60 ribu per buku dengan menggunakan barcode.

Saat ini, kami telah menerbitkan beberapa buku dari rumah. Memang hasilnya belum terlalu terlihat karena kami baru mengawalinya. Namun, kami optimistis dengan terus belajar dan berusaha, usaha ini nantinya bisa mendapatkan hasil yang memuaskan.

(d kencana d, penyempurnaan dari tulisan saya di www.dekadeku.wordpress.com)

18 comments :

Harmony Magazine said...

Wah, mantap, ini mendorong saya untuk mencoba menerbitkan buku sendiri. :)

Btw, sukses untuk bukunya ya... salam kenal juga...

Admin said...

Makasih, gan Harmony Magazine, teorinya sih gampang lho hahahaha...praktiknya butuh kesabaran dan ketekunan dan harus tahu kira-kira buku apa yang bakal laku di pasaran, salam

yudy hartanto said...

Wahh ..artikel yang sangat menarik, akhirnya ketemu jg yg bahas ini walaupun masih butuh pencerahan lebih jauh.

salam
yudy

Mukti Effendi said...

Kalau saya belum kepikiran ya menerbitkan sebuah buku.yang penting nulis dan nulis di blog. tapi ide anda bgus banget. saya terinspirasi sekali

Admin said...

makasih mas yudi dan bung mukti, salam kenal yah

Agunx Agoenx said...

Berbagi Kisah, Informasi dan Foto

Tentang Indahnya INDONESIA

www.jelajah-nesia.blogspot.com

browser said...

saya tertarik ni he.... tpi jika kesannya smudah itu tanpa ada editing yg ketat [lgsg publish] nnti tulisan saya tdk mmliki "setifikasi" yg ketat dri segi kualitas. btw mksi infonya :)

Admin said...

Ya bro browser, editing emang perlu agar buku kita renyah dibaca, kalo belum pede, bisa saja menyewa jasa editor, banyak kok, atau pakai teman sendiri yang jadi editor di media massa, misalnya, sama-sama

Rasimun Way said...

artikel bagus, tapi entahlah saya kok kurang yakin banget. Kurang pede ..hehe Salam

Admin said...

Mas Rasimun, kalo tujuannya langsung mencari profit emang agak berat, perlu perjuangan keras, tapi kalo sekadar menerbitkan buku karya sendiri tentu tak sulit, asal pede heheheh, salam

Tomcat adalah Teguran said...

Wah, mantap neh...

salam kenal gan, berkunjung dan berkomentar jg ya di blg ane.

Arickszone said...

kalo sy lebih memilih ke ebook...hehe..
ya apapun itu yg pnting kreativitas ttp diutamakan tnpa ada unsur plagiat...

Admin said...

apapun medianya, bro arickszone, yang penting semangat menulis yah, salam

Anonymous said...

Info yang sangat berguna untuk mencerdaskan bangsa ini...

pras said...

Sangat menginspirasi. Jadi semangat menerbitkan buku sendiri
Salam kenal

Pras
Www.thisisyourway.blogspot.com

Anonymous said...

mau tanya punya referensi perusahaan distributor yang bagus? makasi

Anonymous said...

BERDARAH DARAH BISNIS PENERBITAN BUKU

Menerbitkan buku sangatlah membanggakan, apalagi buku terbitan sendiri bisa terpajang di toko buku seperti gramedia, gunung agung, togamas, dan toko buku lainnya. Wuih bangganya bukan main. Hanya saja indahnya cuma di awal-awalnya saja, setelah itu yang ada hanyalah gigit jari. Pengalaman pahit yang membuat saya berpikir ulang dan ulang lagi untuk mencari ketenaran dengan menerbitkan buku lagi dengan duit sendiri. Setelah saya cek kepada teman saya yang kerja di penerbitan buku, ternyata perusahaan penerbitan buku juga mengalami hal yang sama. Mau bangkrut juga, cuma karena alasan gengsi dan sok kuat saja hingga akhirnya mereka berusaha bertahan.

Begini ceritanya, buku pertama saya memang laris dan cetak ulang. Bukan main bangganya bisa menjadi penulis hebat pikir saya masa itu. Awalan yang bagus untuk mulai menaklukkan bisnis perbukuan. Ternyata setelah saya nyemplung ke dalamnya, saya pun tidak bisa keluar.
Untuk mencetak sebuah buku sebanyak 3.000 buah, saya mesti mengeluarkan duit sekitar Rp20 juta. kalau mencetak dua buku ya tinggal kalikan dua saja. Nah, yang namanya percetakan maunya langsung bayar panjar dan pelunasan begitu buku selesai dicetak. Setelah saya rayu-rayu akhirnya saya pun bisa minta cicilan hingga 3 kali pembayaran. Tetapi saya yakin pasti bunga bank juga sudah dimasukkan oleh pihak percetakan ke tagihan saya, glek. Tapi ya sudahlah, yang penting saya bisa nyicil dulu.

MENERBITKAN BUKU MALAH RUGI

Nah, ternyata buku saya yang terjual tidak langsung jadi duit. Karena duitnya ternyata disimpan oleh pihak distributor buku selama 3 bulan untuk kepentingan pribadi mereka. Itulah makanya kenapa distributor buku awalnya saja bagus tetapi setelah itu mereka menggunakan duit penerbit untuk menghidupi dirinya sendiri, contohnya seperti penerbit Serambi, Penebar. Bahkan ada yang menahannya hingga 4-5 bulan seperti Agromedia and the gank : kawah media, buku kita, trans media dan sebagainya. Lebih parahnya lagi distributor lainnya seperti CDS ufuk press, Matahari, membawa kabur uang penerbit. Gila gak itu orang ya.

Iya kalau bukunya laris, kalau bukunya tidak laku maka buku tersebut akan diretur (dikembalikan) alias Rp20 juta pun lenyap deh. Tinggal tumpukan buku saja di garasi rumah saya. Ternyata penerbit buku dan distributor buku juga mengalami hal yang sama selalu memiliki berkontainer-kontainer stok buku yang gak laku di gudangnya. Itulah seringkali buku-buku tersebut dijual Cuma seharga goceng atau ceban.

TOBAT MENERBITKAN BUKU

Masih mau masuk ke bisnis beginian yang antah berantah? Siapkan aja duit berjuta-juta deh.
Lebih parahnya lagi ternyata setelah buku selesai dicetak urusan sudah selesai? Belom, karena para penerbit bersaing ketat mengirimkan ceker-ceker untuk mengamankan displaynya agar terlihat lebih bagus. Kalau dibiarin aja ya Cuma kelihatan punggungnya aja. Siapa yang mau beli kalau Cuma kelihatan punggungnya saja? sedih oh sedih. Mau nambah ceker ya nambah biaya lagi. Gak kuat juga mengontrol 200 toko buku se indonesia. Duh tuhan, ampun masuk bisnis yang kelihatannya keren tapi berdarah-darah.

MENERBITKAN BUKU MEMANG GAMPANG, MENJUALNYA YANG SUSAH.

KANTONG JEBOL TERBITKAN BUKU SENDIRI
(Ayu Utamie Sastra, Penulis)
081311402415

ali said...

Saya setuju dengan pendapat di atas saya

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons