meringankan bacaan berat

Sunday, 18 March 2012

Telepon Simbol, Pak


Tukiyem adalah seorang perempuan muda lugu, dengan ragu-ragu masuk ke Wartel 24 jam, sekitar tengah malam. Tukiyem kemudian berbicara dengan Lukimin penjaga wartel.

Tukiyem : Pak, saya mau telepon Ibu saya di kampung, tapi saya tidak punya uang.
Lukimin : Wah, mana bisa pake telepon tapi tidak bayar.
Tukiyem : Tapi ini penting sekali.
Lukimin : Ya, itu kan masalah anda pribadi, tetapi kalau telepon di sini ya harus bayar.
Tukiyem : Tolonglah pak, ini benar-benar penting. Saya mau melakukan apa saja yang penting saya harus bisa telepon ibu di kampung.

Lukimin berpikir sebentar dan melihat Tukiyem yang masih muda lugu itu, timbullah pikiran mesumnya.

Lukimin : Benar ya, saya bisa bantu mbak untuk telepon ke kampung, tapi mbak harus mau mengikuti kemauan saya!

Tukiyem kemudian degan ragu menganggukkan kepalanya tanda setuju.

Lukimin : Mbak, ikut saya ke belakang.

Sesampainya di belakang.

Lukimin : Sekarang mbak harus jongkok.

Sambil berdiri di hadapan si Tukiyem, Lukimin kemudian membuka celananya dan mengeluarkan 'burung'nya tepat di depan wajah Tukiyem yang dalam posisi jongkok.

Lukimin : Ayoooo.... (katanya dengan tidak sabar).

Tukiyem kemudian dengan ragu dan perlahan menggenggam 'burung' nya Lukimin.

Lukimin yg sudah birahi tinggi mulai habis batas kesabarannya.

Lukimin : Ayoooo cepat. Tunggu apa lagi?

Kamu mau telepon tidak?

Tukiyem dengan gemetar mendekati 'burung' dalam genggamannya & berkata:

Hallo.... Hallo...., ini simbok ya???

0 comments :

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons