meringankan bacaan berat

Thursday, 22 March 2012

Warna Kebanggaan Persija, Mengapa Harus Mengekor Belanda?

Jersey timnas Belanda 2011/2012 (foto: soccerjerseybox.com)

Ketika ditanya apa kesamaan antara klub Persija Jakarta dengan tim nasional Belanda, maka pecinta sepak bola di tanah air mungkin dengan mudah menjawabnya: warna kostum yang sama. Ya, kedua tim ini sama-sama menggunakan warna oranye sebagai warna kaos utama kebanggaannya.

Belanda sebagai salah satu tim sepak bola terkuat di dunia memang identik dengan warna oranye hingga mendapat julukan skuat De Oranje. Tapi tahukah Anda mengapa Belanda mengidentifikasi dirinya dengan warna oranye, berbeda dengan warna bendera mereka, merah-putih-biru?

Oke, mari sepintas menengok sejarah warna oranye yang digunakan Belanda. Warna oranye ternyata merupakan warna simbol kerajaan Belanda dan ini bisa terlihat dari nama pusat kerajaan Belanda, yaitu House of Orange Nassau. Keluarga kerajaan Orange-Nassau memiliki azas Orange (istilah untuk pewaris kerajaan).

Dalam masyarakat modern saat ini, kata Orange atau “Oranje” (dalam bahasa Belanda) juga dikaitkan dengan beberapa hal. Seperti istilah Oranjezonnetje (Orange Matahari) mengelompokan cuaca baik pada hari ulang tahun Ratu Belanda pada 30 April, Oranjegekte (Orange Craze) menandakan kecenderungan banyak orang Belanda berpakaian dengan warna oranye selama pertandingan sepak bola, dan lain sebagainya. 

Striker Persija Bambang Pamungkas/kiri (foto: wowkeren.com)

Lantas apa kaitan warna oranye Persija Jakarta dengan Belanda? Kaitannya bisa juga diamati dengan menengok sejarah kembali. Markas Persija di kota Jakarta yang dulunya bernama Batavia adalah pusat kekuasaan penjajah Belanda di Indonesia. Dosen Fakultas Sastra UI, Lilie Soeratminto, pernah mengatakan, Batavia mengacu kepada klan atau kelompok masyarakat yang berasal dari kawasan Betuwe, Gerdeland, Belanda. Mereka disebut orang-orang Bataaf.

Selama 483 tahun, Jakarta berubah dari awalnya sebuah daerah nelayan bernama Sunda Kelapa pada zaman Kerajaan Pajajaran. Lalu berubah menjadi Jayakarta Wijaya Krama ketika kota ini dibebaskan dari kekuasaan Portugis oleh balatentara Cirebon plus Demak yang dipimpin Fadillah Khan alias Fatahillah, menantu Sunan Gunung Jati. Ketika VOC Belanda menguasai perdagangan di daerah tersebut, sang Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen menamai daerah itu Batavia. Lidah masyarakat lalu menyebutnya Betawi. Nama Jakarta akhirnya dipakai sebagai nama modern Ibukota sampai sekarang.

Nah, inilah kira-kira kesamaan sejarah warna kostum Persija dan timnas Belanda. Apakah penggede Persija mengekor bangsa penjajah atau tidak, belum bisa dipastikan. Tapi, yang jelas warna oranye biasanya  melambangkan sosialisasi, penuh harapan dan percaya diri, membangkitkan semangat, vitalitas dan kreativitas. Mungkin perlambang warna oranye ini yang diambil oleh Persija.

Tapi tunggu dulu, banyak yang mengira oranye adalah warna kebanggaan Persija sejak awal berdiri. Tapi, ternyata itu tak benar. Jauh sebelum warna oranye menjadi bagian skuat Macan Kemayoran, warna merah justru mengiringi perjalanan Persija.

Warna merah memang sudah melekat sejak Persija masih bernama Voetballbond Indonesische Jacatra (VIJ ) yang berdiri pada 28 November 1928. Ini adalah pemberian dari para pendiri perkumpulan ini. Merah disebut-sebut sebagai representasi Indonesia.

VIJ adalah perkumpulan sepak bola yang memang didirikan oleh para pemuda pribumi, untuk menyaingi perkumpulan sepak bola Batavia yang didirikan oleh Belanda, Voetballbond Batavia Omstraken ( VBO ). VIJ adalah cerminan perkumpulan Indonesia, pemain-pemainya bukan hanya terdiri dari orang-orang Betawi, tetapi juga juga suku lain. Tapi identitas warna merah itu akhirnya harus pudar dan berubah oranye seperti warna rival awal VIJ pada 1997. Entah siapa yang bertanggung jawab mengubah warna merah menjadi oranye dan identik dengan warna kebesaran Belanda.

Perubahan warna itu agaknya berpengaruh, seakan ada benang merah antara prestasi Persija dan timnas Belanda. Tak ada yang menyangkal Belanda adalah salah satu tim terbaik dunia. Tapi seperti terkena kutukan, tim ini tak pernah menggapai prestasi tertinggi, yakni menjuarai Piala Dunia. Padahal, tiga kali mereka masuk final, pada 1974, 1978, dan 2010.

Sama seperti Belanda. Macan Kemayoran pun seakan sulit menjadi juara Liga Indonesia, terakhir mereka mampu meraihnya pada 2001. Setelah itu, Persija tak mampu mengangkat trofi lagi. Nah, apakah Persija telah terkena kutukan para pendirinya yang dulu berusaha melawan hegemoni Belanda, tapi kini justru para penerusnya mengikuti warna kebesaran seterunya? Hanya waktu yang nanti akan menjawabnya.

(d kencana d)


11 comments :

Anonymous said...

Gajebo .... GA NYAMBUNG BOS ...

Admin said...

emang disambung-sambungin lah bos, salam

Agunx Agoenx said...

Berbagi Kisah, Informasi dan Foto

Tentang Indahnya INDONESIA

www.jelajah-nesia.blogspot.com

Muhammad Ramli said...

kepanjangan mls bacanya

ramli107.blogspot.com

Admin said...

Terima kasih telah memberikan komentar

unikgaul said...

makasi de gan, persija klub favorit ane..

http://www.unikgaul.com/2012/02/cara-mengatasi-kecanduan-rokok.html

Admin said...

ya gan unik gaul, same-same, salam

Dilema Kenaikan Harga BBM said...

Owh gitu ya gan, baru tahu....

berkunjung ke blog ane juga ya...

Admin said...

Okay gan, saya siap berkunjung, salam

Rezky said...

Bagaimana dengan PERSIRAJA BANDA ACEH, khan jugak Orange bjunya..

Anonymous said...
This comment has been removed by a blog administrator.

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons