Header Ads

Ketika Kami Mencoba Mengakrabkan Diri dengan Alergi


(Alergi/ilustrasi/foto:pixabay)
Alergi, pasti kata ini sudah cukup familiar di telinga. Bicara soal alergi, saya mungkin memang bukan pakar yang sangat expert di bidang ini. Saya bukan dokter atau tenaga medis lainnya.  

Tapi dengan pengalaman dua anak yang keduanya punya banyak bakat alergi, rasanya saya bisa sedikit "sombong" soal ini.

Perjalanan saya berakrab-akrab dengan yang namanya alergi bisa dibilang cukup panjang. Sejak kecil saya adalah pengidap asma tapi saat itu saya belum mudeng kalau asma adalah penyakit yang disebabkan oleh alergi. 

Baru ketika punya anak pertama dan apes-nya ternyata ia menuruni bakat saya dengan asma, saya mulai mencari tahu apa sebetulnya asma itu. Mulai dari bertanya pada dokter, sampai searching Google akhirnya semua mengerucut pada kata "alergi". 

Ternyata, saya dan Si Sulung saya memiliki bakat alergi yang sayangnya waktu itu kita tidak tahu terhadap apa. Pokoknya hanya alergi. 

Ketika anak kedua saya lahir, ternyata ia bernasib sama dengan kakaknya. Ia ternyata juga mendapat warisan bakat alergi dari kedua orang tuanya. 

Tak hanya saya, suami saya juga punya bakat alergi. Tapi sepertinya lebih ke alergi dingin. Setiap pagi bangun tidur pasti hidungnya akan mampet dan akan kembali normal saat sang matahari muncul. 

Menurut literatur yang saya baca, alergi memang termasuk penyakit turunan. Anak akan berpotensi atau berbakat alergi bila orang tuanya juga alergi. Dan potensi ini akan semakin besar bila kedua orang tuanya ternyata sama-sama berbakat alergi. 

Dulu, saya pikir alergi hanya muncul dalam bentuk asma atau gatal-gatal di kulit seperti biduran. Tetapi ternyata alergi bisa muncul dalam bentuk yang berbeda-beda pada tiap individu. 

Pada suami saya jelas saat dingin melanda dia akan merasakan hidung mampet dan akan normal kembali saat alergennya yakni hawa dingin hilang. 

Pada saya pribadi  sebenarnya saya belum yakin alergi terhadap apa. Karena memang belum pernah periksa deteksi alergi ke dokter. Namun, dari pengamatan terhadap diri sendiri, sepertinya saya alergi pada debu, tepung terigu, teh, dan kopi. 

Saat  menyapu atau membersihkan rumah yang membuat saya terpapar debu dan kotoran, biasanya kulit tangan saya akan bentol-bentol seperti habis di gigit ulat bulu.

Dan kenapa alergi terigu, karena kalau kebanyakan makan kue yang berbahan baku terigu, bisa dipastikan saya pasti akan sariawan di mulut atau bibir.  Untuk teh dan kopi biasanya saya akan merasa sakit kepala hebat bila minum dua jenis minuman ini. 

Kalau pada diri sendiri saya hanya mengira-ngira saja alergi apa. Untuk kedua anak saya, tentu saya tak ingin hanya sekadar kira-kira.

Oleh karena itu, keduanya sempat saya bawa ke sebuah klinik alergi di sekitar Jakarta Selatan beberapa tahun lalu. Di klinik tersebut, keduanya saya tes untuk deteksi alergi yang metode nya sangat ramah untuk anak-anak. Karena tanpa suntikan dan tes darah. Jadi anak-anak tak akan takut atau kesakitan. Katanya sih metode yang digunakan adalah metode geofisika. 

Dari hasil tes alergi tersebut akhirnya terungkap apa saja alergi yang didapat kedua buah hati saya. Si Sulung, untuk tes alergi dasar saja ternyata punya 32 jenis alergi. Di antaranya bahkan ada yang berat seperti terigu, ayam, gula, semua jenis fastfood, beberapa seafood seperti udang, cumi  dan tongkol, makanan instan dan berpengawet.

Adapun Si Bungsu mendapat jatah sekitar 24 jenis alergi. Di antaranya yakni ayam, cokelat, teh, kopi, susu sapi, dan kedelai.
(Si Bungsu termasuk alergi es krim karena mengandung susu dan coklat/foto:pixabay)

Tes alergi yang dijalani kedua buah hati saya itu ternyata menjawab kenapa Si Sulung akan mengalami pilek berat yang ujungnya sesak napas kalau habis makan ayam goreng atau burger kesukaannya. Atau akan gelisah, emosional,  susah tidur bila dia kebanyakan makan makanan yang banyak mengandung gula dan terigu. 

Sedangkan pada Si Bungsu, alergi biasanya akan berdampak pada badan panas, sembelit, atau bahkan muntah dan mencret-mencret.

Cerita soal alergi yang agak unik sempat dialami oleh Si Bungsu. Ketika usianya sekitar 9 bulan, lama kelamaan saya merasa kulitnya menjadi menguning seperti orang sakit kuning.  

Tapi oleh dokter, Si Bungsu dinyatakan alergi setelah hasil pemeriksaan laboratorium menyatakan negatif untuk semua komponen yang dicurigai. Saat itu yang dicurigai menjadi penyebab  adalah susu formula nya karena kebetulan memang belum banyak makan makanan yang aneh-aneh. 

Jika melihat hasil tes deteksi alergi, maka memang sangat besar kemungkinan Si Bungsu dulu alergi terhadap susu sapi. 

Dari kami berempat saja, jenis alergi yang menjadi jatah kami gak mirip plek persis. Begitu pun manifestasi keluarnya. Suami ke hidung mampet, saya ke gatal-gatal sesak napas dan sariawan, Si Sulung ke pilek berat sesak napas dan emosional, Si Bungsu ke badan panas, sembelit, muntah, dan mencret. 

Dari banyak membaca referensi, mencereweti dokter, dan pengamatan pengalaman pribadi, saya mengambil kesimpulan, kalau penyakit yang berkaitan dengan imunitas diri ini adalah penyakit yang unik. Karena penyebabnya bisa berbeda-beda pada setiap individu dan bentuk keluar penampakan nya pun tak melulu sama.

Butuh kejelian untuk menangkap gejala yang ada. Karena kadang orang suka salah menafsirkan jenis penyakit tertentu padahal "cuma"  karena alergi yang tak disadari.

(Dinar K Dewi)

2 comments:

  1. saya pun gitu mbak. Sering dibilang flu kok gak sembuh-sembuh, padahal bersinnya cuma pas pagi atau terkena debu :(

    ReplyDelete
  2. Berarti alergi juga ya mbak, gak apa mbak yang penting kita tahu saja apa yang menjadi penyebab kita alergi, biar bisa menghindarinya, salam

    ReplyDelete