Anak Hadapi UN, Orang Tua yang Senewen


(Ujian sekolah/Foto: Pixabay)

"Aduh senewen gw," keluh seorang sahabat pada saya.

Sahabat yang lain bilang, "Emaknya udah ngegas melulu anaknya santai-santai aja, haduh."

Saya tersenyum saja menanggapi keluh-kesah dua orang sahabat yang lagi tegang karena sebentar lagi anaknya masing-masing akan mengikuti ujian nasional (UN). 

Kalau dipikir keluhan keduanya bukan hal baru dalam dunia emak-emak dewasa ini. Jangankan menghadapi UN yang merupakan ujian penentuan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Sekadar ulangan tengah semester atau ulangan kenaikan kelas saja sudah bisa membuat para emak sekarang ini ngeluarin taringnya.

Saya ngomong begini, karena ya sama saja. Saya pun senewen kala musim ulangan tiba. Walau tensinya tentu tak setinggi saat UN.

Seperti saat saya menulis ini. Pekan depan putri kecil saya, Dita, yang baru kelas 2 SD sudah harus ujian tengah semester (UTS) semester genap. Dan pekan depannya lagi, sulung saya, Damar, yang di bangku SMP yang akan berhadapan dengan ujian.

Jadilah pagi-pagi tadi saya sudah "bernyanyi" sumbang ke anak-anak untuk ngingetin mereka soal ulangan yang sudah di depan mata. Tekanan sudah mulai saya lancarkan pada keduanya. "Gak ada nonton TV lewat Maghrib."

"Kalau les yang serius gak becanda melulu sama teman, "."Di kelas belajar yang bener jangan sekolah semangat cuma buat main!".

Lha ini baru sekadar UTS, lalu apa kabarnya para emak yang anaknya mau UN? Ya pasti kayak sahabat-sahabat saya itulah. Tegang to the max hehehe...

Tapi eits saya tertawa bukan karena meremehkan ketegangan mereka. Melainkan karena teringat kelakuan saya dua tahun lalu kala si sulung saya akan menghadapi UN SD.

Tegang? Pasti. Cemas? Deg-degan? Jangan ditanya. Saya tahu banget kemampuan dan cara belajar sulung saya dalam bidang akademik. Dia bukan penganut gaya belajar sistem kebut semalam (SKS). Namun ironisnya sekolah tempat dia belajar dulu penganut sistem SKS untuk urusan UN.

Si sulung dulu menghabiskan masa sekolah dasarnya di sekolah alam. Metode pengajarannya sangat berbeda dengan sekolah konvensional pada umumnya.

Gak kenal buku paket mata pelajaran. Bawa buku tulis cuma satu karena sangat jarang mencatat. Terus cara belajarnya gimana? Traveling. Yup. Outing nyaris tiap bulan. Lalu setiap harinya? Ya siap- siap buat outing.

Outing biasanya dilakukan sesuai tema pembelajaran yang sedang dibahas. Misalnya bicara soal batuan. Mereka waktu itu jalan-jalan ke Sawarna. Belajar soal macam-macam batuan di sana.

Ujian tertulis jarang diadakan oleh sekolah. Bahkan terkadang UTS dan UAS pun ditiadakan. Pokoknya benar-benar berbeda dengan sistem sekolah konvensional. 

Kebayang kan bagaimana kalang kabutnya para orang tua ketika tiba saatnya anak harus berhadapan dengan UN. 

Gak pernah "belajar" ujung-ujung UN. Ketika sekolah lain sudah fokus try-out, anak saya masih outing ke luar kota. Saat saya komplain ke wali kelas, mereka nyantai kayak di pantai. "Nanti bunda, dua bulan menjelang UN baru kita drill. "

Begitu kurang lebih jawabannya. Mendengar jawaban seperti itu, mendadak spanning saya naik. Anak-anak lain mungkin bisa di drill dalam dua bulan. Tapi tidak untuk si sulung. 

Dua bulan bukan waktu yang cukup buat Damar melahap semua materi yang mungkin keluar di soal ujian. Hampir mustahil Damar bisa survive dalam UN hanya dalam waktu dua bulan. Sekali lagi, Damar bukan pengikut sistem SKS dalam belajar. 

Berangkat dari situlah, saya sadar tak bisa hanya berharap gerakan dari sekolah saja. Tapi sayalah yang harus bergerak. Oleh karena itu saat masuk semester kedua di kelas 6, saya mulai menyusun strategi. 

Yang pertama, saya meyakinkan diri saya untuk tidak terlalu panik dan  tegang. Ini penting, karena kalau saya panik, Damar pasti ikutan panik. Dan kalau Damar panik, biasanya malah gak bagus hasilnya. 

Meskipun akhirnya Damar saya daftarkan ke bimbel dekat rumah, saya tak serta merta mendelegasikan semua urusan belajarnya pada bimbel. 

Di rumah, saya dan suami tetap menggeber Damar dengan materi soal-soal ujian. Untuk itu, saya dan suami berbagi tugas. Suami mengajar Damar materi bahasa Indonesia setiap pagi sehabis Subuh sebelum dia bersiap berangkat sekolah. Sedangkan, saya menggeber Damar dengan materi IPA selepas maghrib. 

Lalu bagaimana dengan materi matematika nya? Karena sebetulnya ada tiga materi yang di ujikan pada UN SD saat itu, yakni bahasa Indonesia, IPA, dan matematika.

Sejujurnya materi matematika memang saya abaikan. Bukan karena saya menganggap tak penting. Tapi karena saya melihat peluang mencuri nilai dari mata pelajaran ini sangat kecil. Sudah lama saya mengamati kalau Damar "tak akrab" dengan mata pelajaran satu itu. Jadi untuk apa saya fokus pada sesuatu yang sulit?

Begitulah, hasil akhirnya, nilai UN Damar sewaktu SD waktu itu tak mengecewakan. Hfffuh...


loading...

No comments