JEDADULU.COM โ Indonesia termasuk salah satu negara dengan penggunaan internet dan media sosial tertinggi di dunia. Digital 2025 Global Overview Report mencatat masyarakat Indonesia berusia 16 tahun ke atas menghabiskan waktu 7 jam 22 menit per hari dalam mengakses internet.
Setiap hari, puluhan hingga ratusan notifikasi masuk tanpa henti: pesan, grup, promosi, hingga breaking news. Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ia membentuk ritme hidup yang cepat dan nyaris tanpa jeda.
Layar ponsel menjadi hal pertama yang kita lihat saat bangun dan yang terakhir sebelum tidur. Di sela aktivitas, jempol seperti bergerak sendiri menarik notifikasi, menggulir layar, mengetuk tautan, membagikan sesuatu. Semua terasa spontan.
Micro-Stress: Musuh Tersembunyi di Era Digital
Psikolog Irma Agustina (@ayankirma) mengajak kita melihat fenomena ini bukan sekadar soal kebiasaan, melainkan sebagai respons tubuh terhadap paparan yang terus-menerus.
“Di era digital, kita nggak cuma lelah secara fisik. Kita juga bisa lelah secara kognitif. Scroll tanpa henti, notifikasi masuk terus, informasi datang bertubi-tubi tanpa sadar, tubuh kita menyimpan yang namanya micro-stress,” ujarnya, Rabu (25/2/2026).
Istilah micro-stress dipopulerkan dalam buku The Microstress Effect karya Rob Cross dan Karen Dillon. Mereka menjelaskan bahwa momen-momen kecil stresโmembaca berita cemas sebelum kerja, membalas chat kantor di luar jam, melihat komentar yang memancing emosiโterus terakumulasi dan berdampak signifikan pada kesejahteraan seseorang.
Menurut Irma, hal-hal kecil ini membuat sistem saraf kita terus berada dalam mode siaga. Tubuh bersiap merespons, lagi dan lagi. Jika kondisi ini berlangsung tanpa henti, kita bisa terjebak dalam mode “survival” yang halus, cukup untuk menurunkan kapasitas regulasi diri.
Impulsivitas: Saat Otak Cepat Mengalahkan Otak Lambat
Di titik itulah impulsivitas menemukan momentumnya. “Kita jadi lebih reaktif, lebih impulsif, lebih cepat percaya informasi tanpa verifikasi. Lebih cepat klik, share, beli, atau komentar tanpa jeda. Bukan karena kita nggak bijak, tapi karena kapasitas regulasi kita lagi turun,” jelas Irma.
Psikolog Daniel Kahneman dalam bukunya Thinking, Fast and Slow menjelaskan bahwa kita punya dua mode berpikir: satu cepat dan otomatis, satu lagi lambat dan reflektif. Dunia digital hampir selalu menjadikan metode cepat sebagai andalan. Kita melihat sesuatu yang memancing emosi, dan sebelum pikiran sempat mencerna, jempol sudah bergerak.
Platform media sosial dirancang dengan logika minim friksi. Notifikasi berwarna mencolok. Fitur “share” dan “like” bisa diakses dalam satu sentuhan. Infinite scroll membuat akhir konten terasa jauh. Semua ini mendorong kontinuitas atensi dan memperkecil ruang untuk berhenti.
Yang Kita Butuhkan Hanya Jeda 10 Detik
Menariknya, karena berlangsung terus-menerus, impulsivitas ini terasa normal. Ia menjadi bagian dari keseharian digital: refleks kecil yang jarang dipertanyakan. Padahal, seperti diingatkan Irma, tantangan terbesar di era ini bukan hanya derasnya informasi, melainkan kondisi internal kita saat meresponsnya.
“Kita perlu ambil jeda dulu, karena kadang yang kita butuhkan hanya jeda 10 detik untuk kembali bijak sebelum mengambil keputusan,” pungkas Irma.
(Sumber: kumparan.com)

Komentar