Ulas Dulu
Beranda » Berita » Lukisan Gua Tertua di Dunia Ada di Indonesia, Fadli Zon: Bukti Nusantara Bukan Periferi Peradaban!

Lukisan Gua Tertua di Dunia Ada di Indonesia, Fadli Zon: Bukti Nusantara Bukan Periferi Peradaban!

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menyatakan penemuan lukisan gua di Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, sebagai penegasan kuat bahwa Indonesia merupakan salah satu pusat peradaban paling awal di dunia. (Foto: Humas Kementerian Kebudayaan)

JEDADULU.COM; JAKARTA — Indonesia kembali mencuri perhatian dunia. Lukisan gua purba tertua yang pernah ditemukan manusia ternyata berada di Nusantara. Usianya tak main-main: setidaknya 67.800 tahun.

Temuan bersejarah ini berada di Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, dan resmi dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi Nature pada 22 Januari 2026.

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menyebut penemuan ini sebagai penegasan kuat bahwa Indonesia merupakan salah satu pusat peradaban paling awal di dunia. Ia menilai temuan tersebut mengubah cara pandang global terhadap sejarah manusia.

“Ini membuktikan bahwa daya cipta, imajinasi simbolik, dan ekspresi budaya sudah hadir sangat dini di wilayah kepulauan Indonesia,” ujar Fadli Zon dalam acara bertajuk Jejak Peradaban Nusantara di Lukisan Purba Tertua Dunia di Gedung Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Penelitian ini merupakan hasil kolaborasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Griffith University, Australia. Temuannya berupa stensil tangan purba yang dianalisis menggunakan metode penanggalan Uranium Series berbasis laser (LA-U-series) pada lapisan kalsit di atas pigmen lukisan.

Sung Jinwoo Menghancurkan Naruto: Babak Kedua Anime Death Match

Menurut Fadli Zon, temuan tersebut bukan hanya memperkaya ilmu pengetahuan, tetapi juga memperkuat posisi kawasan Wallacea—yang mencakup Sulawesi dan sekitarnya—sebagai salah satu episentrum awal kreativitas simbolik manusia.

“Dunia perlu membaca ulang peta kebudayaan dan sejarah peradaban manusia dari perspektif yang lebih utuh dan inklusif. Nusantara bukan pinggiran, melainkan pusat penting peradaban awal,” tegas Fadli Zon.

Dalam kesempatan itu, Fadli Zon juga berdiskusi langsung dengan para peneliti, di antaranya Prof. Maxime Aubert, Dr. Adhi Agus Oktaviana, Dr. Sofwan Noerwidi, hingga Dr. Marlon NR Ririmasse. Hadir pula perwakilan pemerintah daerah Kabupaten Muna serta tokoh masyarakat adat yang selama ini ikut menjaga situs bersejarah tersebut.

Fadli Zon menyampaikan apresiasi atas kerja panjang para peneliti dan mitra daerah yang sejak 2019 telah mendokumentasikan 44 situs seni cadas di Sulawesi Tenggara, termasuk 14 lokasi baru. Dari riset tersebut, 11 motif pada delapan situs berhasil diteliti lebih lanjut, mulai dari stensil tangan hingga figur manusia dan motif geometris.

Yang membuat temuan ini makin istimewa, usia lukisan di Liang Metanduno terbukti lebih tua sekitar 1.100 tahun dibanding seni cadas tertua di Spanyol. Bahkan, temuan ini juga lebih tua 16.600 tahun dibanding lukisan gua di kawasan Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan, yang sebelumnya sempat menghebohkan dunia.

Ini 10 Negara dengan Tinggi Badan Pria Terendah, Indonesia Masuk yang Mana?

Tak hanya soal usia, detail lukisan juga memunculkan misteri baru. Salah satu stensil tangan menunjukkan ujung jari yang sengaja dibentuk meruncing—ciri unik yang sejauh ini hanya ditemukan di Sulawesi. Makna simboliknya masih menjadi tanda tanya dan membuka ruang riset lanjutan tentang ritual, estetika, hingga cara berpikir manusia pada masa Pleistosen.

Dari sisi global, temuan ini berdampak besar pada pemahaman tentang migrasi manusia modern (Homo sapiens). Lokasinya yang berada di jalur Wallacea memperkuat teori bahwa manusia purba melakukan perjalanan maritim menuju wilayah Sahul sambil membawa kemampuan budaya yang sudah maju.

“Seni cadas adalah jendela pikiran manusia awal. Ini bukti bahwa kemampuan kognisi dan imajinasi tidak berkembang di satu wilayah saja, tetapi juga tumbuh sangat awal di wilayah kita,” kata Fadli Zon.

Fadli Zon juga mengaitkan temuan ini dengan identitas Indonesia sebagai bangsa megadiversity sekaligus salah satu peradaban tertua dunia. Menurutnya, jejak tangan purba ini adalah pesan lintas zaman tentang manusia Nusantara yang telah mampu membangun makna dan mengekspresikan diri puluhan ribu tahun lalu.

Ke depan, Kementerian Kebudayaan menyiapkan langkah lanjutan bersama BRIN, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan mitra internasional. Mulai dari riset multidisiplin, konservasi berbasis perlindungan awal, edukasi publik, hingga pengusulan situs sebagai Cagar Budaya Nasional dan Warisan Budaya Dunia UNESCO.

Aturan Registrasi SIM Card Baru Bikin Heboh, Netizen Soroti Verifikasi Wajah

Menutup pernyataannya, Fadli Zon menegaskan bahwa temuan ini bukan sekadar prestasi akademik, melainkan kontribusi Indonesia bagi kemanusiaan. “Jejak tangan berusia puluhan ribu tahun ini adalah pengingat bahwa Nusantara sudah berpikir simbolik sejak awal peradaban. Tugas kita hari ini adalah melindungi, mempelajari, dan mewariskannya dengan penuh tanggung jawab,” ujar dia menandaskan.

(***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *