JEDADULU.COM – – Oda Nobunaga yang lahir pada 1 Juni 1534 di Provinsi Owari, Jepang, adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Jepang. Ia dikenal sebagai penggagas akhir Periode Sengoku—era panjang peperangan dan kekacauan politik di mana shogun dan kaisar hanyalah simbol tanpa kekuatan nyata.
Awal Kehidupan dan Kebangkitan
Putra daimyo kelas bawah Oda Nobuhide, Nobunaga mewarisi wilayah Owari yang terpecah-pecah. Meski dari keluarga yang relatif sederhana, ia berhasil mengumpulkan kekayaan dan membangun pasukan loyal, membuka jalan bagi ambisinya. Masa mudanya yang eksentrik memberinya julukan “Badut Owari”, tetapi perilaku ini diduga sebagai strategi bertahan hidup di tengah persaingan internal setelah kematian ayahnya pada 1551.
Dilansir dari National Geographic, Januari 2026, Nobunaga dikenal cerdas dan berani. Ia menjadi daimyo pertama yang memanfaatkan senapan (matchlock) secara sistematis dalam pasukannya, meski ia sendiri lebih menyukai tombak. Kekuatan militer dan strategi brilian Nobunaga menjadikannya sosok yang menakutkan sekaligus visioner.
Kemenangan dan Konsolidasi Kekuasaan
Tahun 1560 menjadi momen penting ketika Nobunaga mengejutkan Jepang dengan kemenangan gemilang di Pertempuran Okehazama, mengalahkan pasukan Imagawa Yoshimoto yang jauh lebih besar. Keberhasilan ini menegaskan langkahnya dalam menyatukan Jepang tengah.
Selanjutnya, Nobunaga menaklukkan Provinsi Mino pada 1567, mengganti nama benteng Inabayama menjadi Gifu, dan mengadopsi moto “Tenka Fubu” (memerintah wilayah dengan paksa). Pada 1568, ia memasuki Kyōto, menempatkan Ashikaga Yoshiaki sebagai shogun terakhir dari garis Ashikaga, meski kemudian Nobunaga menggulingkannya pada 1573, mengakhiri era Keshogunan Ashikaga.
Untuk memantapkan kekuasaannya, ia membangun Kastil Azuchi pada 1576 di tepi Danau Biwa, yang menjadi simbol kebangkitan budaya dan militer pada periode Azuchi-Momoyama (1573–1600).
Reformasi Ekonomi dan Militer
Sebagai penguasa de facto, Nobunaga melaksanakan reformasi ekonomi yang modern. Ia menghapus tol, mendirikan pusat perdagangan bebas, mengganti barter dengan mata uang, serta menetapkan standar resmi nilai logam mulia. Survei kadastral dilaksanakan untuk mempermudah administrasi, pajak, dan pengelolaan tanah.
Di medan perang, Nobunaga menunjukkan strategi revolusioner. Contohnya, dalam Pertempuran Nagashino (1575), ia menggunakan 10.000 prajurit bersenjata senapan dan penghalang kayu untuk menahan serangan kavaleri Takeda, membuktikan efektivitas tembakan berbaris oleh ashigaru (prajurit kaki).
Kekejaman Terhadap Sekte Buddha
Meski cerdik dan progresif, Nobunaga dikenal brutal terhadap institusi keagamaan yang menentangnya. Ia menghancurkan Kuil Enryaku di Gunung Hiei pada 1571, menewaskan ribuan pendeta. Selama lebih dari satu dekade, ia berperang melawan sekte Ikkō, termasuk pembakaran benteng Nagashima yang menewaskan sekitar 20.000 orang.
Namun, ia bersikap protektif terhadap misionaris Jesuit, memanfaatkan pengaruh mereka untuk menyeimbangkan kekuatan kuil Buddha. Nobunaga bahkan mengangkat Yasuke, seorang misionaris Afrika, menjadi samurai—orang asing pertama yang mencapai status itu di Jepang.
Akhir Tragis dan Warisan
Pada Juni 1582, hidup Nobunaga berakhir secara tragis dalam Insiden Honnōji, ketika bawahannya, Akechi Mitsuhide, memberontak. Terluka dan tanpa jalan keluar, Nobunaga melakukan seppuku (bunuh diri ritual). Meski tewas, ambisinya tidak terhenti: Toyotomi Hideyoshi meneruskan penyatuan Jepang, yang akhirnya diformalkan oleh Tokugawa Ieyasu dengan berdirinya Keshogunan Edo pada 1603.
Warisan Nobunaga tetap abadi: strategi militernya, inovasi ekonomi, dan kepemimpinannya yang tak kenal kompromi membuka jalan bagi Jepang yang bersatu. Sebagai “Raja Iblis”, ia mengubah lanskap politik dan militer Jepang, meletakkan dasar bagi era Tokugawa yang panjang dan stabil.

Komentar