JEDADULU.COM – – Anime Dr. Stone sering dipahami sebagai kisah kebangkitan sains di dunia pasca-apokaliptik. Namun jika dilihat lebih dalam, cerita ini juga merupakan arena benturan ideologi yang tajam.
Di tengah konflik tersebut berdiri sosok Tsukasa Shishio, antagonis utama di awal cerita yang jauh dari tipikal “penjahat anime”. Tsukasa tidak digerakkan oleh ambisi kekuasaan semata, melainkan oleh keyakinan moral tentang dunia yang menurutnya telah gagal secara fundamental.
Tsukasa ingin membunuh Senku karena benturan ideologi yang ekstrem dan tak bisa dipertemukan. Namun alasan di balik itu jauh lebih dalam daripada sekadar kebencian pribadi.
Dalam Dr. Stone, Tsukasa Shishio memandang peradaban lama sebagai sesuatu yang rusak sejak akarnya. Dunia modern, menurutnya, dibangun di atas keserakahan orang dewasa, korupsi yang mengakar, kekerasan yang dilegalkan oleh sistem, serta ketimpangan yang selalu menindas mereka yang lemah.
Ketika seluruh umat manusia membatu, Tsukasa tidak melihatnya sebagai bencana, melainkan sebagai kesempatan emas untuk mereset dunia. Baginya, ini adalah momen langka untuk memulai ulang peradaban dari nol.
Visi Tsukasa sederhana tapi ekstrem: menciptakan dunia baru yang “murni”, dunia yang hanya diisi oleh orang-orang muda yang dianggap bersih, belum tercemar oleh dosa dan kebusukan peradaban lama. Ia ingin memastikan bahwa kesalahan sejarah tidak terulang. Dan tepat di titik inilah Senku Ishigami menjadi ancaman terbesar.
Senku adalah kebalikan total dari Tsukasa. Ia merupakan simbol hidup dari peradaban lama—bukan karena niat jahat, tetapi karena obsesinya pada sains dan kemajuan. Senku ingin menghidupkan kembali semua manusia tanpa kecuali, membangun ulang ilmu pengetahuan, teknologi, industri, bahkan senjata.
Di mata Tsukasa, itu sama saja dengan menghidupkan kembali dunia yang dulu ia benci. Sains bukan harapan, melainkan pintu menuju pengulangan tragedi yang sama.
Selain itu, ada soal kekuasaan. Tsukasa adalah manusia terkuat secara fisik di era batu, tetapi kekuatan itu hanya relevan selama dunia tetap primitif. Begitu sains berkembang, Senku bisa menciptakan senjata, teknologi, dan sistem yang membuat kekuatan otot Tsukasa tak lagi dominan. Sains mengancam posisi Tsukasa, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara ideologis.
Tsukasa juga diliputi ketakutan mendalam: jika Senku membangkitkan semua orang tanpa seleksi, maka para penjahat, koruptor, dan penindas dari masa lalu akan hidup kembali. Berbeda dengan Senku yang percaya bahwa semua manusia layak diberi kesempatan kedua, Tsukasa yakin ada orang-orang yang tidak pantas hidup lagi. Dari sudut pandangnya, membiarkan mereka kembali berarti mengkhianati dunia baru yang ingin ia bangun.
Pada akhirnya, konflik mereka bukanlah konflik personal. Ini adalah perang visi tentang masa depan umat manusia. Senku berdiri dengan keyakinan bahwa sains harus digunakan untuk semua orang, tanpa diskriminasi. Tsukasa berdiri dengan keyakinan bahwa hanya mereka yang “layak” yang boleh hidup dan membentuk dunia baru. Tidak ada jalan tengah di antara dua prinsip ini.
Menariknya, Tsukasa bukan sosok jahat yang hitam-putih. Motivasinya lahir dari trauma dan pengalaman pahit yang membentuk cara pandangnya terhadap dunia. Ia tidak ingin kehancuran, melainkan keadilan—meski keadilan itu versi ekstrem dan kejam. Itulah sebabnya konflik di Dr. Stone terasa begitu kuat: bukan sekadar pahlawan melawan penjahat, melainkan otak melawan otot, ilmu melawan kekuasaan, optimisme melawan pesimisme.
Pandangan Tsukasa kerap dianggap memiliki kemiripan dengan gagasan anarkisme, khususnya pemikiran Mikhail Bakunin, filsuf anti-negara abad ke-19. Keduanya sama-sama menolak peradaban lama dan struktur kekuasaan mapan.
Namun pertanyaannya: apakah Tsukasa benar-benar mencerminkan anarkisme ala Bakunin, atau justru menjadi kebalikan dari apa yang diperjuangkan anarkisme itu sendiri?
Bagi Tsukasa, peradaban modern adalah peradaban yang busuk sejak akarnya. Ia melihat dunia lama dikuasai oleh orang-orang dewasa yang serakah, elite ekonomi dan politik yang hidup di atas penderitaan orang lain, serta kekerasan struktural yang selalu menindas mereka yang lemah.
Ketika seluruh umat manusia berubah menjadi batu, Tsukasa tidak memaknainya sebagai tragedi, melainkan sebagai peluang historis—sebuah “reset” besar-besaran terhadap sejarah manusia.
Dalam visinya, dunia baru harus dibangun tanpa uang, tanpa kapital, dan tanpa struktur kekuasaan lama. Ia membayangkan masyarakat yang hanya diisi oleh manusia-manusia “murni”, terutama generasi muda yang belum tercemar oleh nilai-nilai dunia lama.
Teknologi dan sains modern justru dianggap sebagai sumber ketimpangan, karena melahirkan senjata, industri, dan hierarki baru. Karena itulah Senku Ishigami, dengan obsesinya pada sains dan kebangkitan peradaban, diposisikan Tsukasa sebagai ancaman paling berbahaya.
Untuk memahami sejauh mana ide Tsukasa sejajar dengan anarkisme, penting melihat pemikiran Mikhail Bakunin. Bakunin adalah tokoh utama anarkisme klasik yang menolak negara, otoritas terpusat, agama institusional, dan dominasi elite intelektual.
Bakunin percaya bahwa manusia mampu hidup bebas dan setara melalui asosiasi sukarela tanpa paksaan dari atas. Ungkapannya yang terkenal—“The passion for destruction is a creative passion”—sering disalahpahami sebagai pembenaran kekerasan, padahal yang ia maksud adalah penghancuran struktur penindasan agar masyarakat bebas dapat tumbuh.
Di permukaan, Tsukasa dan Bakunin memang tampak memiliki titik temu. Keduanya sama-sama melihat sistem lama sebagai sumber ketidakadilan dan percaya bahwa dunia baru tidak akan lahir tanpa meruntuhkan fondasi dunia lama. Keduanya juga memiliki visi utopis tentang masyarakat yang lebih murni dan adil, bebas dari dominasi segelintir orang.
Namun kemiripan itu berhenti di sana. Perbedaan mendasarnya justru sangat krusial. Bakunin menolak segala bentuk diktator, termasuk diktator yang mengatasnamakan revolusi. Tsukasa, sebaliknya, menempatkan dirinya sebagai pusat kekuasaan tunggal—hakim yang menentukan siapa yang pantas hidup dan siapa yang harus mati. Dalam kacamata Bakunin, Tsukasa bukan pembebas, melainkan tiran baru yang menggantikan tirani lama.
Soal kekerasan pun demikian. Bakunin mengakui bahwa kekerasan revolusioner bisa terjadi dalam proses runtuhnya negara, tetapi ia menolak kekerasan sebagai alat kontrol permanen. Tsukasa justru menjadikan kekerasan fisik sebagai fondasi utama kekuasaannya. Kekerasan bukan sekadar alat sementara, melainkan mekanisme untuk menjaga visinya tetap dominan.
Perbedaan paling ironis terlihat pada sikap terhadap pengetahuan. Bakunin mendukung ilmu pengetahuan selama tidak dimonopoli oleh elite dan tidak digunakan untuk menindas. Tsukasa menolak sains secara keseluruhan karena dianggap berbahaya bagi kesetaraan. Dalam hal ini, justru Senku—dengan gagasan “sains untuk semua manusia”—lebih dekat dengan semangat anarkisme Bakuninian dibanding Tsukasa sendiri.
Secara filosofis, Tsukasa bukanlah anarkis. Ia lebih tepat dipahami sebagai primitivis ekstrem yang menolak modernitas, sekaligus otoritarian moral yang menghakimi nilai hidup manusia berdasarkan standar pribadinya. Ia adalah revolusioner tanpa teori sosial yang matang: menentang tirani lama, tetapi tanpa sadar menciptakan tirani baru dengan dirinya sebagai pusatnya.
Kesimpulannya, filosofi Tsukasa Shishio dalam Dr. Stone hanya memiliki kemiripan dangkal dengan pemikiran Mikhail Bakunin. Di tingkat yang lebih dalam, Tsukasa justru bertentangan dengan prinsip dasar anarkisme.
Jika Bakunin memperjuangkan kebebasan kolektif tanpa penguasa, Tsukasa memperjuangkan kemurnian dunia melalui kekuasaan absolut. Maka konflik antara Tsukasa dan Senku bukan sekadar pertarungan fisik, melainkan pertarungan antara idealisme destruktif dan optimisme rasional.
Di titik inilah Dr. Stone melampaui statusnya sebagai anime sains. Ia menjadi refleksi filosofis tentang bagaimana niat baik, ketika tidak ditopang oleh sistem etis yang kuat, dapat dengan mudah berubah menjadi tirani—bahkan ketika dikemas atas nama keadilan.

Komentar