Ulas Dulu
Beranda ยป Berita ยป Mau Mulai Investasi? Kenalan Dulu dengan 5 Jenis Reksadana yang Ramah Buat Anak Muda

Mau Mulai Investasi? Kenalan Dulu dengan 5 Jenis Reksadana yang Ramah Buat Anak Muda

Setiap jenis reksadana punya karakter masing-masing. Karena itu, penting menyesuaikan pilihan dengan tujuan keuangan dan toleransi risiko.
Setiap jenis reksadana punya karakter masing-masing. Karena itu, penting menyesuaikan pilihan dengan tujuan keuangan dan toleransi risiko. (Foto: Pixabay)

JEDADULU.COM โ€” Ngomongin soal masa depan finansial, generasi muda sekarang makin melek investasi. Bukan cuma soal nabung, tapi sudah mulai mikir bagaimana uang bisa โ€œbekerjaโ€ lewat instrumen yang tepat. Salah satu pilihan yang makin populer di kalangan pemula adalah reksadana.

Alasannya simpel: praktis, fleksibel, bisa mulai dari nominal kecil, dan sekarang bisa diakses mudah lewat aplikasi reksadana di ponsel.

Tapi sebelum asal pilih produk, penting banget kenal dulu jenis-jenis reksadana dan karakternya. Karena tiap jenis punya tingkat risiko dan potensi cuan yang berbeda.

Berikut lima jenis reksadana yang wajib kamu pahami sebelum mulai investasi.

  1. Reksadana Pasar Uang: Buat yang Mau Aman dan Cair

Reksadana pasar uang menempatkan dana di instrumen jangka pendek seperti deposito, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), atau surat utang berumur di bawah satu tahun.

10 PTN yang Membuka Jalur Tahfidz Qur’an 2026 Plus Jadwal Pendaftaran dan Syarat Lengkapnya

Jenis ini dikenal risikonya paling rendah dan dananya mudah dicairkan. Cocok buat kamu yang ingin โ€œparkir uangโ€ sementara dengan imbal hasil lebih baik dari tabungan biasa.

Konsekuensinya, potensi keuntungannya memang tidak setinggi jenis reksadana lain. Tapi untuk pemula yang masih ingin bermain aman, ini pintu masuk paling nyaman.

  1. Reksadana Pendapatan Tetap: Stabil tapi Lebih Menarik

Kalau kamu ingin imbal hasil lebih tinggi tapi tetap terukur, reksadana pendapatan tetap bisa jadi pilihan. Dana diinvestasikan ke obligasi pemerintah atau perusahaan.

Risikonya sedikit lebih tinggi dibanding pasar uang karena harga obligasi bisa naik turun mengikuti kondisi ekonomi dan suku bunga. Tapi sebagai gantinya, potensi hasilnya juga lebih menarik.

Cocok buat kamu yang ingin investasi jangka menengah dengan profil risiko moderat.

Kisah Virginia Giuffre: Dari Korban Jaringan Eksploitasi Anak ke Suara Pemberani yang Mengguncang Takhta dan Elite Global

  1. Reksadana Saham: Siap Naik Turun, Siap Cuan Besar

Reksadana saham mengalokasikan dana mayoritas ke saham perusahaan di pasar modal. Artinya, pergerakan nilainya bisa sangat fluktuatif.

Jenis ini cocok untuk kamu yang punya mental tahan banting, siap melihat grafik naik turun, dan berorientasi jangka panjang. Potensi keuntungannya paling tinggi dibanding jenis lain, tapi risikonya juga besar.

Biasanya disarankan untuk target di atas 5 tahun.

  1. Reksadana Campuran: Jalan Tengah yang Seimbang

Sesuai namanya, reksadana campuran menggabungkan saham, obligasi, dan pasar uang dalam satu portofolio. Tujuannya untuk menyeimbangkan risiko dan imbal hasil.

Kalau kamu bingung memilih antara yang aman atau yang agresif, jenis ini bisa jadi jalan tengah. Diversifikasi membuat risiko lebih terkendali tanpa mengorbankan peluang keuntungan.

Daftar PTN yang Masih Pakai Nilai TKA dalam Seleksi SNBP 2026: Panduan Lengkap untuk Siswa Kelas XII

  1. Reksadana Indeks: Investasi Pasif, Biaya Lebih Murah

Reksadana indeks mengikuti kinerja indeks tertentu, misalnya IHSG. Manajer investasi tidak aktif memilih saham, melainkan mengikuti komposisi indeks.

Keuntungannya, biaya pengelolaan lebih rendah dan kamu otomatis punya portofolio yang terdiversifikasi. Cocok buat yang ingin investasi santai tanpa banyak memantau pasar.

Pilih Sesuai Tujuan, Bukan Ikut Tren

Setiap jenis reksadana punya karakter masing-masing. Karena itu, penting menyesuaikan pilihan dengan tujuan keuangan dan toleransi risiko kamu.

Buat anak muda yang baru mulai, reksadana jadi cara cerdas belajar investasi tanpa harus pusing memantau pasar setiap hari. Mulai dari nominal kecil, pahami profil risiko, dan konsisten berinvestasi.

Lantaran dalam investasi, yang terpenting bukan seberapa besar modal awalmu, tapi seberapa cepat kamu memulai.

(Sumber: Materi edukasi investasi reksadana)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *