JEDADULU.COM — Selama lebih dari satu abad, umat manusia terbiasa dengan satu keyakinan: setiap generasi baru akan lebih cerdas dari pendahulunya. Anak-anak akan melampaui orang tua mereka. Namun keyakinan itu kandas di ambang pintu Generasi Z.
Dr. Jared Cooney Horvath, pakar neurosains pendidikan lulusan Harvard yang telah mengajar di berbagai universitas dunia, membawa kabar buruk. Dalam kesaksiannya di hadapan Komite Senat Amerika Serikat (AS), ia menyatakan bahwa Gen Zโmereka yang lahir antara 1997 hingga 2010โadalah generasi pertama dalam sejarah modern yang nilai tes akademiknya lebih rendah daripada generasi sebelumnya.
“Setiap generasi telah melampaui prestasi orang tua mereka. Sampai Gen Z,” kata Horvath, dikutip dari New York Post, Jumat (13/2/2026).
Paradoks Generasi Paling Percaya Diri
Yang mengkhawatirkan, penurunan kemampuan kognitif ini tidak disertai kesadaran. Horvath menyebut GenZ mengalami miskalkulasi besar: mereka terlalu percaya diri tentang seberapa pintar mereka. “Semakin pintar seseorang menganggap dirinya, semakin bodoh sebenarnya mereka,” ujarnya.
Padahal, data menunjukkan mereka underperform di hampir semua ukuran kognitif: rentang perhatian, daya ingat, literasi, numerasi, fungsi eksekutif, hingga IQ umum.
Epidemi Layar dan Matinya Membaca
Apa biang keroknya? Horvath menunjuk satu penyebab utama: paparan layar yang kronis. Remaja kini menghabiskan lebih dari separuh waktu bangun mereka menatap layar ponsel, tablet, atau laptop.
Otak manusia, lanjut Horvath, secara biologis diprogram untuk belajar dari manusia lain dan dari studi mendalamโbukan dari ringkasan instan atau video pendek yang bergulir tanpa henti.
“Belajar dari layar telah mengubah mereka menjadi pembaca yang hanya membaca sekilas. Tanpa usaha sungguh-sungguh, pikiran cemerlang pun bisa tumpul,” kata Horvath.
Penelitian memperkuat kecurigaan ini. Studi terhadap 1.204 mahasiswa yang dipublikasikan di ScienceDirect menemukan bahwa penggunaan ponsel intensif dan jumlah platform media sosial yang digunakan secara signifikan berkorelasi dengan gangguan metakognisi dan kognisi sosial.
Sementara laporan McKinsey Education mengungkap fakta lebih mencengangkan: durasi fokus pelajar global kini turun 30-40 persen dibanding satu dekade lalu. Dalam sesi belajar 20 menit, rata-rata pelajar membuka gawai 7-9 kali untuk urusan non-akademik.
Bukan Cuma Amerika, Ini Pandemi Global
Horvath menegaskan fenomena ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Data dari 80 negara menunjukkan pola yang sama, begitu teknologi digital diadopsi secara luas di sekolah, kinerja akademik turun signifikan.
“Setiap kali teknologi masuk ke dunia pendidikan, pembelajaran akan menurun,” tegas Horvath.
Swedia menjadi contoh nyata. Negara Skandinavia itu mulai membatasi penggunaan gawai di sekolah dan mengembalikan komputer ke laboratorium khususโseperti ruang kayu atau olahragaโbukan sebagai perangkat harian di kelas.
Ironi Generasi yang Lebih Lama di Sekolah, Lebih Rendah Prestasi
Yang membuat situasi ini ironis adalah secara statistik, Gen Z menghabiskan waktu lebih lama di sekolah dibanding generasi sebelumnya. Namun hasilnya tak sebanding.
Kebiasaan membaca buku fisik ambrol. Riset National Literacy Trust (2024) menyebut hanya satu dari tiga anak usia 8-18 tahun yang menikmati membaca di waktu luang. Di AS, kebiasaan membaca harian pelajar dan dewasa muda merosot lebih dari 40 persen dalam dua dekade terakhir.
Sebagai gantinya, TikTok, Snapchat, dan konten motivasi singkat jadi santapan sehari-hari.
Yang Bisa Dilakukan: Bukan Anti-Teknologi, tapi Pro-Kedalaman
Horvath mengaku bukan Luddite yang anti-teknologi. Ia hanya menginginkan satu hal, yakni mengembalikan ketelitian dan kedalaman dalam belajar. “Saya pro-ketelitian,” katanya.
Para pakar yang diwawancarai Kompas.id sepakat, detoksifikasi digital, membatasi screen time, danโyang paling pentingโmenyediakan alternatif bermakna bagi anak muda adalah kunci. Bukan sekadar melarang, tetapi mengganti dengan pengalaman yang lebih kaya.
McKinsey Education merumuskan satu kesimpulan strategis: “Keunggulan kompetitif berikutnya dalam pendidikan bukanlah informasi, melainkan atensi.”
Peringatan Horvath kini dituangkan dalam buku terbarunya, The Digital Delusion* (Desember 2025), yang oleh para pengulas disebut sebagai “panggilan untuk menyelamatkan kemanusiaan”.
Jika tidak segera bertindak, Horvath memperingatkan, Generasi Alphaโyang kini masih anak-anakโakan menuai dampak yang lebih parah. Mereka terancam menjadi generasi yang “terhubung dengan segalanya, tetapi mampu melakukan sangat sedikit.”
(Sumber: ScienceDirect, The Korean Times/Vanguard, The Asia Business Daily, Kompas.id)

Komentar