JEDADULU.COM; JAKARTA โ Angka bunuh diri di kalangan remaja Indonesia menjadi perhatian serius para pakar kesehatan jiwa. Dalam sebuah diskusi daring yang digelar Jumat (13/2/2026), Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf, Sp.KJ, memaparkan empat faktor utama yang dapat memicu keinginan mengakhiri hidup pada remaja usia 13โ19 tahun.
Dokter spesialis ilmu kedokteran jiwa dari Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor itu menjelaskan bahwa tidak pernah ada penyebab tunggal dalam kasus bunuh diri. Empat faktor yang signifikan menurutnya adalah kesepian, keputusasaan, kebutuhan akan rasa memiliki (belongingness), dan beban (perceived burdensomeness).
“Tidak satu faktor saja yang membuat seseorang memutuskan untuk melakukan tindakan bunuh diri,” kata Nova yang juga dikenal sebagai mantan anggota DPR RI periode 2009-2014 dan kini aktif sebagai Direktur Utama Rumah Sakit Marzoeki Mahdi.
Beban Ekspektasi dan Ketimpangan Sosial
Nova menjelaskan bahwa anak-anak dan remaja yang hidup dengan dukungan sumber daya minimal berisiko merasa menanggung beban berat dan kehilangan harapan. Lingkungan keluarga yang menuntut anak memenuhi ekspektasi orang tua juga bisa menjadi beban psikologis yang memicu keinginan bunuh diri.
Nova mencontohkan kasus bunuh diri anak di Nusa Tenggara Timur. Remaja di desa merasa tidak bisa menjadi bagian dari kelompok seusianya karena merasa tak mampu menggapai apa yang dimiliki anak-anak di kota. Tekanan akibat ketimpangan sosial ini membuat mereka menganggap mengakhiri hidup sebagai satu-satunya jalan keluar.
Faktor Risiko Lain yang Perlu Diwaspadai
Temuan ini sejalan dengan penelitian terkini yang dipublikasikan di Acta Medica Philippina (2025) mengenai faktor risiko bunuh diri pada remaja Indonesia. Studi dengan pendekatan kualitatif di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengidentifikasi tiga kelompok faktor risiko: biologis, psikologis, dan sosial.
Faktor biologis meliputi riwayat percobaan bunuh diri sebelumnya, periode menstruasi yang mempengaruhi emosi, dan gangguan tidur. Faktor psikologis mencakup pengalaman tidak menyenangkan seperti trauma kekerasan seksual dan depresi. Sementara faktor sosial berkaitan dengan tekanan lingkungan dan relasi.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat kasus bunuh diri pelajar di Sawahlunto, Sumatera Barat, dan Sukabumi, Jawa Barat, pada Oktober 2025 menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan dan keluarga. KPAI mendorong penerapan sistem deteksi dini (early warning system) di sekolah untuk mengenali perubahan perilaku siswa.
Peran Konseling dan Dukungan Sebaya
Nova menekankan pentingnya penyediaan layanan konseling di sekolah. Kapasitas guru Bimbingan Konseling (BK) perlu ditingkatkan agar mampu membantu meringankan masalah yang dihadapi remaja. Kehadiran konselor sebaya (peer counselor) dalam program kesehatan mental di sekolah juga dinilai strategis.
“Sehingga dia bisa turun dari yang sangat ingin bunuh diri, minimal dia tahu ada yang mendengarkan,” jelas Nova.
Selain itu, Nova menyarankan penyediaan saluran telepon khusus untuk layanan konseling dan pencegahan bunuh diri bagi remaja. Layanan ini memberi ruang bagi remaja untuk berkonsultasi, menyampaikan keluhan, serta mendapatkan masukan dan rekomendasi solusi tanpa stigma.
Kementerian Kesehatan RI mencatat prevalensi depresi tertinggi (2 persen) terjadi pada kelompok usia 15โ24 tahun berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Ironisnya, hanya 10,4 persen dari mereka yang mencari pengobatan.
“Pencegahan bunuh diri bukan hanya urusan psikolog, melainkan tanggung jawab sosial bersama. Kita perlu hadir dan mendengar anak-anak kita. Satu percakapan penuh empati dapat menyelamatkan nyawa dan harapan masa depan mereka,” kata Anggota KPAI Aris Adi Leksono.
(Berbagai Sumber)

Komentar