JEDADULU.COM —Setiap tahun, ratusan ribu mahasiswa di Indonesia diwisuda dengan harapan segera mendapatkan pekerjaan layak. Namun fakta menunjukkan, angka pengangguran terdidik, termasuk lulusan diploma dan sarjana masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Pertanyaannya, jurusan apa saja di Indonesia yang relatif paling banyak menyumbang pengangguran? Dan bagaimana strategi agar mahasiswa maupun lulusan tidak terjebak dalam situasi tersebut?
Sebenarnya, bukan jurusannya yang salah, melainkan kombinasi antara kelebihan pasokan lulusan, minimnya diferensiasi kompetensi, serta kurangnya kesiapan menghadapi kebutuhan industri yang berubah cepat. Berikut contoh-contoh jurusan atau program studi (prodi) tersebut.
1. Administrasi Publik, Administrasi Bisnis, dan Manajemen
Jurusan ini tersedia hampir di seluruh perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia. Karena dianggap “fleksibel”, peminatnya sangat tinggi setiap tahun. Mengapa berisiko tinggi menyumbang pengangguran?
- Jumlah lulusan sangat besar (over- supply)
- Kompetensi terlalu umum
- Tidak semua lulusan memiliki spesialisasi teknis
Saran praktis:
โ Ambil sertifkasi seperti digital marketing, HR analytics, atau data analysis.
โ Kuasai tools seperti EXCel advance, Power BI, atau software akuntansi
โ Perbanyak pengalaman magang sebelum lulus
2. Ilmu Komunikasi
Jurusan ini termasuk jurusan favorit di Indonesia dalam satu dekade terakhir. Tantangan utama di Indonesia adalah industri media konvensional menyusut. Banyak lulusan tanpa skill teknis digital. Persaingan sangat ketat di bidang kreatif
Saran praktis:
โข Kuasai SEO, social media ads, content strategy
โข Belajar video editing, copywriting, dan analitik digital
โข Bangun portofolio nyata sejak semester awal
3. Pendidikan (Selain STEM dan Vokasi Teknis)
Fakultas Keguruan dan llmu Pendidikan (FKIP) tersebar luas di Indonesia. Namun daya serap guru ASN terbatas, dan sekolah swasta tidak selalu mampu merekrut dalam jumlah besar.
Termasuk tidak meratanya distribusi guru. Hal ini membuat banyak lulusan jurusan pendidikan belum terserap optimal.
Saran praktis:
- Tambah kompetensi seperti coding, bahasa asing, atau literasi digital
- Manfaatkan platform edukasi daring
- Kembangkan kelas privat atau kursus mandiri
4. Ilmu Sosial dan Humaniora (Sosiologi, Antropologi, Filsafat, dll)
Jurusan ini penting bagi pembangunan pemikiran kritis bangsa, tetapi jalur kariernya tidak selalu linier dan jelas bagi mahasiswa. Tantangan di Indonesia:
- Minimnya lowongan spesifik
- Kurang dikenalnya kompetensi lulusan oleh industri
- Banyak Iulusan tidak diarahkan ke riset atau kebijakan publik
Saran praktis:
โ Tambahkan skill riset kuantitatif dan pengolahan data
โ Masuk ke sektor NGO, CSR, atau lembaga riset
โ Ambi kursus tambahandi bidang UX research atau market research.
Di Indonesia ada beberapa faktor utama pemicu pengangguran lulusan tertentu. Biasanya bersifat struktural. Seperti:
- Kurikulum belum sepenuhnya adaptif terhadap kebutuhan industri.
- Minimnya program magang berkualitas.
- Mahasiswa fokus pada IPK, bukan pengalaman.
- Kurangnya literasi digital lintas jurusan.
Jika sudah telanjur memilih/mengambil jurusan tersebut, yang bisa dilakukan antara lain adalah
Bagi Mahasiswa Aktif:
- Ikut organisasi dan proyek nyata Magang minimal dua kali sebelum lulus.
- Bangun personal branding di Linkedln.
- Ambil kursus digital lintas disiplin
Bagi Lulusan yang Menganggur:
- Evaluasi ulang CV dan tambah portofolio.
- Ambil sertifikasi berbasis kompetensi.
- Jangan ragu pivot karier.
- Pertimbangkan jalur wirausaha atau freelance.
Jangan Salahkan Jurusan
Realitas di Indonesia menunjukkan bahwa jurusan populer dengan jumlah mahasiswa besar berisiko lebih tinggi menyumbang pengangguran. Bukan karena kualitas ilmunya rendah, tetapi karena ketidakseimbangan pasar.
Di era transformasi digital dan Al, masa depan tidak ditentukan oleh nama jurusan semata, melainkan oleh kemampuan beradaptasi, belajar ulang (reskilling), dan membangun diferensiasi kompetensi.
(Berbagai Sumber)

Komentar