JEDADULU.COM — Pernah merasa sudah menjalani diet sehat dan olahraga rutin, tapi jarum timbangan tak juga bergerak ke kiri? Bisa jadi, masalahnya bukan pada menu makan atau intensitas latihan, melainkan pada kebiasaan tidur larut malam yang sering dianggap sepele.
Dokter spesialis penyakit dalam dari Jupiter Hospital India, Dr. Amit Saraf, mengungkapkan fakta mengejutkan. Kebiasaan tidur larut malam ternyata bisa menggagalkan upaya penurunan berat badan, bahkan pada orang yang paling disiplin sekalipun.
Jam Biologis Tubuh yang Terganggu
Dr. Saraf menjelaskan bahwa tubuh manusia memiliki ritme biologis alami yang disebut irama sirkadian. Setelah pukul 22.30, tubuh secara perlahan memasuki fase “perlambatan pencernaan”. Jika seseorang memaksakan diri tetap terjaga, tubuh akan berada dalam kondisi stres dan memicu lonjakan hormon kortisol.
“Ketika kortisol tetap tinggi di malam hari, penyimpanan lemak menjadi lebih mudah dan pembakaran lemak menjadi lebih lambat, tidak peduli seberapa sehat makanan yang dikonsumsi,” kata dr. Saraf seperti dikutip dari Hindustan Times.
Kekacauan Metabolisme dan Hormon Lapar
Penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur mengganggu keseimbangan dua hormon penting pengatur nafsu makan: leptin dan ghrelin. Leptin yang memberi sinyal kenyang akan menurun, sementara ghrelin yang merangsang rasa lapar justru meningkat. Akibatnya, seseorang cenderung merasa lapar dan mengidam makanan tinggi kalori, terutama karbohidrat dan lemak.
Selain itu, waktu tidur yang terlambat juga mengganggu fase perbaikan metabolisme paling efisien yang terjadi antara pukul 23.00 hingga 03.00 dini hari. Jika seseorang baru tidur setelah jam tersebut, kontrol gula darah melemah dan proses detoksifikasi alami tubuh terhambat.
Risiko Kesehatan Jangka Panjang
Kebiasaan tidur larut malam secara konsisten tidak hanya berdampak pada berat badan, tetapi juga meningkatkan risiko berbagai penyakit serius. Studi menunjukkan bahwa kurang tidur kronis dapat menyebabkan gangguan sistem kekebalan tubuh, peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, hingga gangguan fungsi kognitif.
“Setiap kali teknologi masuk ke dunia pendidikan, pembelajaran akan menurun,” kata Dr. Jared Cooney Horvath, pakar neurosains pendidikan, dalam konteks berbeda namun relevan dengan dampak paparan layar berlebihan yang sering menyebabkan tidur larut malam pada generasi muda.
Solusi Sederhana untuk Tidur Lebih Berkualitas
Untuk keluar dari lingkaran setan ini, para ahli menyarankan beberapa langkah sederhana:
- Kembalikan waktu tidur ke jalur yang benar, idealnya sebelum pukul 23.00, dengan memajukan jam tidur 15-20 menit setiap malam secara bertahap.
- Pastikan makan malam selesai tiga jam sebelum tidur untuk memberi waktu pencernaan bekerja optimal.
- Kurangi paparan layar gawai setidaknya satu jam sebelum tidur karena cahaya biru dapat mengganggu produksi melatonin.
- Ciptakan lingkungan tidur yang nyaman dengan kamar gelap, tenang, dan suhu sejuk.
- Kelola stres melalui meditasi atau olahraga ringan di siang hari.
“Tidur yang cukup 7-9 jam per malam membantu mengatur hormon, meningkatkan energi untuk berolahraga, dan memperbaiki metabolisme. Ini merupakan salah satu cara alami dan sederhana untuk menjaga berat badan tetap ideal,” demikian kesimpulan para ahli .
Jadi, jika diet dan olahraga sudah dijalankan dengan disiplin namun hasilnya belum terlihat, coba evaluasi kembali kualitas tidur. Bisa jadi, selama ini kita lupa bahwa istirahat yang cukup adalah komponen penting yang tak terpisahkan dari gaya hidup sehat.
(Sumber: Hindustan Times)

Komentar