JEDADULU.COM; JAKARTA โ Indonesia memegang predikat sebagai negara dengan jumlah bahasa daerah terbanyak kedua di dunia. Dari Sabang sampai Merauke, tercatat ada 718 bahasa yang tumbuh dan hidup di Nusantara.
Namun, di balik kekayaan yang membanggakan ini, ada fakta yang cukup memprihatinkan: sebagian besar bahasa daerah kini berstatus rentan, terancam punah, bahkan kritis.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI mencatat bahwa hingga 2025, program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) baru menjangkau 120 bahasa di 38 provinsi.
Artinya, masih ada ratusan bahasa lain yang butuh perhatian serius. Apalagi, data terbaru menunjukkan bahwa 75 persen bahasa daerah di Indonesia mengalami kemunduran dan didominasi penutur usia lanjut.
“Ketika sebuah bahasa daerah hilang, maka hilang pula sebagian jati diri kita,” ujar Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, dalam Gelar Wicara Hari Bahasa Ibu Internasional 2026 di Jakarta, Rabu (18/2/2026).
Fokus pada Generasi Muda: Kunci Revitalisasi
Dalam peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional yang jatuh setiap 21 Februari, Badan Bahasa menegaskan bahwa anak muda menjadi sasaran utama program revitalisasi. Pasalnya, faktor utama kemunduran bahasa daerah adalah menurunnya minat generasi muda untuk menggunakan bahasa ibu dalam keseharian.
Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Badan Bahasa, Imam Budi Utomo, menyebut bahwa anak muda cenderung merasa minder atau kurang percaya diri saat berbicara dengan bahasa daerah.
“Kami bersama pemerintah daerah dan tokoh masyarakat menyasar anak-anak muda agar mereka tidak malu dan memiliki semangat untuk belajar serta menggunakan bahasa daerah,” ujar Imam dalam kesempatan terpisah.
Aksi Nyata di Daerah: Dari Kelas Awal hingga Aplikasi Digital
Upaya revitalisasi ini tidak hanya berhenti pada imbauan, tetapi sudah diwujudkan dalam berbagai aksi nyata yang melibatkan pemda, guru, dan pemuda.
Di Kabupaten Sumba Timur, Bupati Umbu Lili mengungkapkan bahwa penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar di kelas awal terbukti mampu meningkatkan literasi siswa. Kebijakan ini lahir dari tingginya angka putus sekolah saat transisi dari SD ke SMP yang salah satu faktornya adalah rendahnya pemahaman bahasa Indonesia.
“Hasilnya signifikan. Anak-anak yang sebelumnya belum lancar membaca kini menunjukkan peningkatan kemampuan literasi. Kami menginstruksikan penggunaan bahasa daerah di kelas awal dengan dukungan guru senior yang menguasai bahasa setempat,” jelasnya.
Praktik serupa dilakukan di SDN Aebowo, Kabupaten Nagekeo, NTT. Kepala Sekolah Maria Ugha menceritakan bahwa siswa kelas awal mengalami stres dan kesulitan memahami materi ketika pembelajaran menggunakan bahasa Indonesia.
Setelah melalui pelatihan bersama program Inovasi, guru mulai menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar dengan metode bermain, bernyanyi, dan kartu huruf. Hasilnya, suasana kelas menjadi lebih aktif dan kemampuan literasi dasar siswa meningkat drastis.
Sementara itu, Duta Bahasa Provinsi Bali 2025, Ida Ayu Alit Srilaksmi, memperkenalkan inovasi digital bernama PARASALI (Pelindungan Bahasa dan Sastra Bali). Aplikasi berbasis edutainment ini memadukan kamus, permainan, dan nyanyian dalam bahasa Bali. Hingga 2026, aplikasi tersebut telah digunakan oleh 61.628 pengguna.
Inovasi Digital Lainnya: AI dan Kamus untuk Bahasa Daerah
Gerakan revitalisasi bahasa daerah juga merambah dunia teknologi. Di Kalimantan Timur, Politeknik Pertanian Negeri Samarinda bersama BRIDA Kaltim meluncurkan aplikasi berbasis AI bernama ETAM-EDU untuk melestarikan Bahasa Kutai.
Aplikasi ini menawarkan permainan susun kata, puzzle huruf, kamus digital, hingga chatbot yang bisa diajak berbicara langsung menggunakan bahasa daerah. “Kalau ingin bahasa daerah tetap hidup, maka ia harus hadir di gawai yang digunakan anak-anak setiap hari,” ujar Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Politani Samarinda, Andi Lisnawati.
Di Papua Barat, seorang siswi Sekolah Garuda Sorong, Laura Frederica, mengembangkan aplikasi Pace Mob untuk melestarikan bahasa suku Moi. Aplikasi ini menggabungkan kamus digital dengan komik dan animasi agar lebih menarik bagi generasi muda.
Tantangan: Anggaran dan Regulasi
Meski semangat pelestarian menggelora, tantangan besar masih membayangi. Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, menyoroti minimnya dukungan anggaran untuk penyusunan kamus bahasa daerah. Dari 718 bahasa, baru sekitar 180 bahasa yang memiliki kamus mandiri atau disusun oleh Balai Pusat Bahasa.
“Anggaran penyusunan kamus bahasa daerah hari ini sangat minim. Padahal kamus adalah alat paling dasar untuk melestarikan bahasa. Tanpa kamus, proses revitalisasi, pembelajaran, hingga penelitian akan terhambat,” tegas Lia.
Komite III DPD RI juga mendorong agar RUU tentang Bahasa Daerah masuk dalam program legislasi nasional (Prolegnas) prioritas untuk menyelamatkan bahasa daerah yang hampir punah.
Harapan ke Depan
Melalui peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional 2026, Kemendikdasmen menegaskan komitmen untuk memperkuat pendidikan multibahasa berbasis bahasa ibu dan mendorong partisipasi aktif generasi muda.
Ketua Harian KNIU, Ananto Kusuma Seta, mengingatkan bahwa bahasa ibu merupakan fondasi literasi. “Bahasa ibu memuat tata krama dan nilai-nilai kemanusiaan. Bahasa daerah menguatkan bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa. Di saat yang sama, generasi muda juga perlu menguasai bahasa asing untuk berdaya saing global tanpa kehilangan identitas nasional,” tegasnya.
Dengan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemda, guru, dan pemuda, harapan untuk menjaga 718 bahasa daerah tetap hidup dan digunakan oleh generasi mendatang masih terbuka lebar.
(Sumber: BKHM Setjen Kemendikdasmen)

Komentar