JEDADULU.COM โ Di tengah bentang laut biru dan perbukitan Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), mimpi besar tumbuh dari ruang-ruang kelas sederhana. Jarak dari pusat teknologi nasional dan keterbatasan fasilitas tak memadamkan semangat anak-anak di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) untuk menatap masa depan digital. Melalui program Bina Talenta Indonesia (BTI), harapan itu kini menemukan jalannya.
Program yang digagas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI melalui Pusat Prestasi Nasional ini menjadi jembatan bagi siswa berbakat dari daerah untuk menguasai bidang teknologi, sains, hingga kecerdasan artifisial.
Dua siswa dari SMP Negeri 2 Nubatukan, Lembata, menjadi bukti nyata bahwa talenta tak mengenal batas geografis.
Dari Lembata Menuju Dunia IT
Wenseslaus Pito Koban, putra seorang guru dan bidan, sejak kecil tumbuh dalam lingkungan yang menekankan pentingnya pendidikan. Ketertarikannya pada dunia pemrograman membawanya mengikuti BTI.
โSaya sangat tertarik mempelajari koding. Di program ini saya mendapat banyak pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah saya pelajari,โ ujar Pito seperti dikutip dari siaran pers Kemendikdasmen, Sabtu (21/2/2026).
Di sekolah, Pito dikenal sebagai siswa aktif dan berprestasi. Ia meraih Medali Emas Olimpiade Sains Nasional tingkat kabupaten/kota bidang IPS tahun 2024. Dalam pelatihan BTI luring yang digelar bekerja sama dengan Politeknik Negeri Jakarta, ia bahkan terpilih sebagai peserta teraktif sekaligus anggota tim dengan karya favorit.
Bagi Pito, BTI bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan batu loncatan menuju cita-cita menjadi ahli teknologi informasi. Ia percaya bahwa teknologi adalah bahasa masa depan.
Belajar AI dari Desa, Bermimpi Memimpin Negara
Semangat serupa ditunjukkan Emanuel Sabon Gua, teman satu sekolah Pito. Putra seorang petani ini mengikuti program BTI dengan tekad mempelajari koding dan kecerdasan artifisial secara mendalam.
โSebelumnya kami hanya tahu sekilas tentang koding. Di BTI kami belajar lebih jauh, termasuk AI dan penguatan karakter,โ kata Sabon.
Sabon juga bukan siswa biasa. Ia pernah meraih Medali Emas OSN tingkat kabupaten/kota bidang IPA, masuk empat besar Duta GenRe Kabupaten Lembata 2025, serta aktif dalam berbagai kompetisi akademik dan olahraga.
Sepulang dari pelatihan, Sabon langsung membagikan ilmunya kepada teman-teman di sekolah. Menariknya, di balik minatnya pada teknologi, Emanuel menyimpan mimpi besar: menjadi presiden.
โKita harus disiplin belajar dan berusaha sampai berhasil, disertai doa,โ pesan Sabon.
Program Nasional untuk Talenta Daerah
BTI merupakan bagian dari kebijakan Manajemen Talenta Murid sesuai Permendikdasmen Nomor 25 Tahun 2025. Program ini berfokus pada pengembangan bakat di bidang STEM, koding, kecerdasan artifisial, serta pembentukan karakter.
Kepala Pusat Prestasi Nasional, Maria Veronica Irene Herdjiono, menegaskan bahwa BTI dirancang khusus untuk memperluas akses pembinaan talenta, terutama di wilayah 3T.
โProgram ini memetakan daerah yang membutuhkan pengembangan talenta dan menyediakan pemandu untuk membimbing siswa secara berkelanjutan,โ ujar Veronica.
Langkah ini sekaligus menjadi upaya pemerataan kesempatan agar anak-anak di pelosok memiliki peluang yang sama dengan siswa di kota besar.
Antusiasme Nasional dan Harapan Indonesia Emas
Minat terhadap BTI sangat tinggi. Tercatat lebih dari 7.000 peserta dari 38 provinsi dan Sekolah Indonesia Luar Negeri mengikuti program ini, mulai dari tingkat SMP hingga SMA beserta para pemandu talenta.
Manfaat yang dirasakan peserta pun nyata: pelatihan langsung dari ahli, akses ke ekosistem teknologi modern, peningkatan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, serta pembentukan karakter kepemimpinan.
Dari Lembata, Pito dan Sabon mengirim pesan kuat kepada Indonesia: talenta dapat lahir dari mana saja. Dengan akses yang tepat, pembinaan berkelanjutan, dan kemauan belajar, anak-anak 3T mampu bersaing di era digital global.
Di tangan generasi seperti mereka, masa depan Indonesia tak hanya terlihat cerahโtetapi juga inklusif dan berkeadilan.
(Sumber: BKHM Setjen Kemendikdasmen)

Komentar