JEDADULU.COM —Mereka tidak datang dengan pedang, melainkan dengan seni, budaya, dan keteladanan. Di tengah masyarakat Jawa abad ke-15 yang masih kental dengan tradisi Hindu-Buddha dan kepercayaan lokal, sembilan tokoh ini menanamkan nilai-nilai Islam secara damai.
Mereka dikenal sebagai Walisongo โ sembilan wali yang jejaknya masih terasa hingga hari ini.
Siapa Saja Walisongo?
Walisongo adalah sembilan tokoh penyebar Islam di Pulau Jawa pada abad ke-14 hingga ke-16. Mereka memiliki latar belakang, pendekatan, dan keahlian berbeda, tetapi tujuan mereka sama: menyebarkan Islam dengan cara yang bijak dan membumi.
Berikut adalah sembilan wali tersebut:
1. Sunan Gresik
Maulana Malik Ibrahim diyakini sebagai perintis dakwah Islam di Jawa. Dipercaya berasal dari Persia ( Iran) dan beberapa berpendapat ia berasal dari Gujarat India. Ia dikenal sebagai tokoh yang memperkenalkan sistem pertanian dan pengobatan kepada masyarakat Gresik.
2. Sunan Ampel
Raden Rahmat mendirikan pesantren Ampel di Surabaya. Ia menjadi guru bagi banyak wali lainnya dan dikenal sebagai perancang strategi dakwah terstruktur. Dikenal sebagai sunan ampel, Ia merupakan anak dari Sunan Gresik dan Dewi Chandra Wulan, putri raja Champa
3. Sunan Bonang
Dikenal sebagai Sunan Bonang, Raden Maulana Makhdum Ibrahim berasal dari Tuban Jawa Timur. Ia merupakan putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila (putri Arya Teja bupati Tuban) yang lahir pada tahun 1465 M. Makhdum Ibrahim memanfaatkan seni musik gamelan sebagai media dakwah. Ia menciptakan tembang-tembang bernuansa Islami.
4. Sunan Drajat
Raden Qasim dikenal sebagai Sunan Drajat. Ia merupakan saudara kandung Sunan Bonang. Ia aktif membantu masyarakat miskin dan menekankan ajaran kepedulian sosial. Ia mengajarkan pendidikan akhlak dengan filosofi “pepali pitu” Tujuh falsafah hidup dan seni seperti tembang macapat.
5. Sunan Kudus
Ja’far Shadiq dikenal sebagai Sunan Kudus. Ia merupakan ulama sekaligus panglima perang Kesultanan Demak. Namun Ia menunjukkan toleransi budaya dengan tidak menyembelih sapi demi menghormati masyarakat Hindu saat itu.
6. Sunan Giri
Memiliki nama asli R. A’inul yakin. Raden Paku atau yang lebih dikenal dengan sunan Giri mendirikan pusat pendidikan Islam di Giri yang berpengaruh hingga luar Jawa seperti madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku.
7. Sunan Kalijaga
Bernama asli Raden Mas Said, Sunan Kalijaga merupakan seorang ulama terkenal dan penasehat pemerintahan di era Majapahit pada masa Prabu Kertabhumi. Sunan Kalijaga dikenal kreatif dalam berdakwah melalui wayang kulit dan seni ukir.
8. Sunan Muria
Merupakan putra Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh. Raden Umar Said berdakwah di daerah pedesaan dan pegunungan, menyasar masyarakat kecil.
9. Sunan Gunung Jati
Bernama asli Syarif Hidayatullah, Sunan Gunung Jati lahir di Kairo Mesir pada 1448. Ia berperan besar dalam penyebaran Islam di Jawa Barat dan mendirikan Kesultanan Cirebon. Hingga saat ini namanya diabadikan menjadi nama salah satu Perguruan tinggi islam negeri di Jakarta dan Bandung yakni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Sunan Gunung Jati di Bandung Jawa Barat.
Kontribusi Walisongo terhadap Perkembangan Islam di Indonesia
Peran Walisongo bukan hanya soal dakwah, tetapi juga membentuk fondasi peradaban Islam Nusantara.
1. Mendirikan Pusat Pendidikan Islam
Pesantren menjadi model pendidikan Islam yang bertahan hingga kini.
2. Mendorong Lahirnya Kerajaan Islam
Mereka berperan dalam berdirinya Kesultanan Demak dan Cirebon.
3. Mengintegrasikan Islam dengan Budaya Lokal
Pendekatan akulturasi membuat Islam mudah diterima tanpa benturan besar.
4. Membangun Tradisi Islam Moderat
Nilai toleransi, dialog, dan adaptasi budaya menjadi ciri khas Islam Nusantara.
Cara Walisongo Menyebarkan Islam di Indonesia
Strategi dakwah mereka tergolong revolusioner pada masanya:
- Melalui seni dan budaya (wayang, gamelan, tembang)
- Melalui pendidikan pesantren
- Pendekatan sosial dan ekonomi
- Perkawinan dan jaringan politik
- Keteladanan akhlak
Pendekatan ini membuat Islam berkembang secara damai dan mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Warisan yang Masih Terasa Hingga Kini
Jejak Walisongo masih hidup dalam tradisi tahlilan, sekaten, grebeg, hingga sistem pendidikan pesantren. Makam-makam mereka menjadi destinasi wisata religi yang ramai diziarahi setiap tahun.
Lebih dari sekadar tokoh sejarah, Walisongo adalah simbol dakwah yang ramah, adaptif, dan mengedepankan kemanusiaan.
(Berbagai Sumber)

Komentar