Ulas Dulu
Beranda » Berita » Dari Danau Suci Maori hingga “Gurun Laut” Pasifik Selatan, di Sinilah Air Paling Jernih di Dunia Ditemukan

Dari Danau Suci Maori hingga “Gurun Laut” Pasifik Selatan, di Sinilah Air Paling Jernih di Dunia Ditemukan

Air tawar paling jernih yang pernah didokumentasikan berada di Rotomairewhenua (Blue Lake) di Taman Nasional Danau Nelson, Selandia Baru.
Air tawar paling jernih di dunia yang pernah didokumentasikan berada di Rotomairewhenua (Blue Lake) di Taman Nasional Danau Nelson, Selandia Baru. (Foto: www.campervannewzealand.co.nz)

JEDADULU.COM — Air di Bumi hadir dalam spektrum warna yang luas: biru safir, hijau keruh, hingga cokelat keabu-abuan. Namun, pertanyaan menariknya adalah di mana air paling biru dan paling jernih di planet ini?

Secara ilmiah, air murni dalam jumlah kecil sebenarnya tampak bening tanpa warna. Tetapi ketika terkumpul dalam volume besar seperti danau atau laut, air sering terlihat biru mencolok.

Penyebabnya bukan sekadar pantulan langit, melainkan sifat molekul air yang lebih efektif menyerap panjang gelombang cahaya merah dan membiarkan gelombang biru dipantulkan kembali ke mata kita.

Danau Biru Selandia Baru: Mendekati Batas Air Murni

Air tawar paling jernih yang pernah didokumentasikan berada di Rotomairewhenua (Blue Lake) di Taman Nasional Danau Nelson, Selandia Baru. Penelitian National Institute of Water and Atmospheric Research (NIWA) pada 2011 menemukan bahwa visibilitas di danau ini mencapai sekitar 80 meter di bawah permukaan. Ini angka yang nyaris menyentuh batas teoritis kejernihan air murni.

10 PTN yang Membuka Jalur Tahfidz Qur’an 2026 Plus Jadwal Pendaftaran dan Syarat Lengkapnya

Ilmuwan utama NIWA, Dr. Rob Davies-Colley, menyatakan kejernihan danau ini hampir tak terbedakan dari air murni secara teoritis. Airnya terlihat biru keunguan yang terang karena disaring secara alami oleh moraine—puing glasial yang bertindak seperti filter raksasa sebelum air masuk ke danau.

Bagi masyarakat Maori, Rotomairewhenua bukan sekadar danau, tetapi situs suci yang dijaga kesakralannya.

Laut Weddell Antarktika: Rekor Transparansi Air Laut

Untuk kategori air laut, salah satu kandidat terjernih adalah Laut Weddell di Samudra Selatan, Antarktika. Pada 1986, peneliti dari Alfred Wegener Institute mengukur kejernihan air menggunakan cakram Secchi. Hasilnya mengejutkan: cakram masih terlihat pada kedalaman 79 meter.

Angka ini memecahkan rekor transparansi air laut dan kembali mendekati batas teoritis air murni.

Kisah Virginia Giuffre: Dari Korban Jaringan Eksploitasi Anak ke Suara Pemberani yang Mengguncang Takhta dan Elite Global

Pasifik Selatan: Biru Karena “Ketiadaan Kehidupan”

Namun, pengamatan satelit NASA sejak akhir 1970-an memberi sudut pandang berbeda. Warna laut dari luar angkasa dipakai untuk memperkirakan kelimpahan fitoplankton (melalui kadar klorofil). Air yang hijau-kuning menandakan banyak kehidupan mikroskopis, sedangkan biru pekat berarti sangat sedikit.

Pada 2017, analisis NASA menunjukkan wilayah Pusaran Pasifik Selatan (South Pacific Gyre) sebagai hamparan laut paling biru dan paling luas di dunia. Ironisnya, warna biru murni itu adalah tanda minimnya kehidupan.

Arus raksasa di wilayah ini mendorong nutrisi penting seperti nitrogen dan fosfor ke kedalaman yang tak terjangkau fotosintesis. Akibatnya, hampir tidak ada kehidupan laut di permukaan.

NASA bahkan menyebut wilayah ini sebagai “gurun laut”. Bukan karena kekurangan air, tetapi karena air di sana justru menghambat kehidupan berkembang.

Daftar PTN yang Masih Pakai Nilai TKA dalam Seleksi SNBP 2026: Panduan Lengkap untuk Siswa Kelas XII

Mengapa Air Bisa Terlihat Sangat Biru?

Fenomena ini berakar pada fisika cahaya. Molekul air menyerap warna merah lebih kuat dibanding biru. Ketika tak ada partikel, lumpur, atau organisme yang mengganggu, warna biru alami air tampil sangat dominan dan terlihat “murni”.

Semakin sedikit kehidupan dan partikel di dalamnya, semakin biru air tersebut.

Dari danau suci di Selandia Baru hingga hamparan laut sunyi di Pasifik Selatan, kejernihan air ternyata bukan hanya soal keindahan visual. Ia juga bercerita tentang proses alam, sirkulasi nutrisi, hingga batas-batas kehidupan di Bumi.

(Sumber: Jedadulu.com, NIWA (National Institute of Water and Atmospheric Research), Selandia Baru, IFLScience, Alfred Wegener Institute, NASA Earth Observatory Blog/2017)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *