Oleh: Yons Achmad *)
Apa yang baru dengan puasa Ramadan kali ini?
Pertanyaan ini mengusik kesadaran eksistensial. Saya tak akan berdebat lagi kapan hari pertama puasa tiba. Sebelumnya, saya selalu mengikuti โArgumen Rasionalโ Muhammadiyah tentang awal puasa. Tapi, kali ini izinkan berbeda. Saya akan ikuti pemerintah. Alasannya, โmenjaga perasaanโ orang-orang terdekat yang kebanyakan ikut pemerintah saja.
Kali ini saya mengalah.
Konon, di ruang publik, umpamanya di media sosial, sering lontarkan komentar-komentar yang berlagak. Kita, harus โrasionalโ. Harus melek media sosial, literasi media sosial harus kuat dan seterusnya. Semua harus obyektif. Dalam ranah akademik, banyak pakar juga berikan wejangan untuk hidup dengan obyektivitas pemahaman (desire for objectivity).
Kali ini, bolehlah kita sedikit beda, merayakan puasa Ramadan dengan puitis, bukan dengan โrasionalitasโ. Satu hal yang biasanya dibalut dengan hukum-hukum, terkadang juga kaku orang menafsirkannya. Sekarang, bolehlah berbeda. Bagaimana menjalani puasa Ramadan dengan puitis?
Ada kecenderungan, di ruang publik, kita selalu berhasrat dengan semburkan segala hal yang rasional. Segala data ditampilkan, referensi disodorkan, para pakar dihadirkan. Semuanya itu untuk โnafsuโ apa yang disebut โrasionalitas atau obyektivitasโ. Porsi yang menaruh tempat terhormat tapi kadang berkebihan kepada โakalโ.
Bolehlah, kali ini kita hadirkan, apa yang disebut dengan โRuang Publik yang Puitisโ (poetic public sphere). Kalau biasanya, orang berdebat, lontarkan pendapat dengan nafsu menang berdasarkan apa yang saya sebut di atas, kali ini, bolehlah kita kedepankan โHati yang Berbicaraโ.
Kalau biasanya, bahasa-bahasa yang kita gunakan lebih banyak bahasa argumen rasional, bolehlah kita geser sejenak dengan bahasa-bahasa โhatiโ yang lebih puitis (poetic language). Saya dan kita semua tentu punya tujuan menjalankan semuanya ini. Tak lain tak bukan, kita coba melahirkan sebuat kultur baru. Lazimnya, disebut kultur puitis (poetic culture).
Tafsirnya tentu beragam. Tapi, saya sendiri mencoba memaknai dan menjalani puasa Ramadan kali ini bukan lagi tentang benar atau salah, tapi pantas atau tidak pantas. Apa yang diperbuat, bukan sekadar mengejar kebenaran, tapi apakah ketika melontarkan ucapan atau tulisan menyakiti orang atau tidak. Begitulah, dalam kerangka besarnya, bolehlah jalan puitis semacam ini kita beri nama, jalan welas asih.
Bukan menghantam orang agar menang untuk sebuah kebenaran versi kita. Tapi, merangkul dengan kasih sayang. Katakanlah, semuanya ini semacam hasrat sederhana untuk mencapai solidaritas (desire for solidarity). Saya rasa, langkah ini pas.
Konon, sampai hari ini, jutaan orang masih hidup dalam kesulitan. Alih-alih egois untuk selalu dan selalu menyelamatkan diri sendiri, kehidupan diri sendiri, bolehlah solidaritas sosial tetap dijalankan, untuk mencapai โKeselamatan Bersamaโ.
Betul, hidup semacam ini memang baru sebatas eksperimen. Saya juga baru mau menjalaninya. Terlepas dari semua itu, usaha ini semata biar hidup lebih maknawi, tidak begini-begini saja. Bolehlah coba hal-hal baru. Sampai kita menemukan jalan lebih baik untuk kehidupan. []
Depok, Selasa, 17 Februari 2026
*) Kolumnis, tinggal di Depok, Jawa Barat

Komentar