JEDADULU.COM — Garam menjadi bumbu dapur yang sulit dipisahkan dari masakan Indonesia. Tapi di balik kenikmatannya, garam menyimpan ancaman bagi tekanan darah. Kandungan natrium di dalamnya disebut sebagai biang kerok hipertensi.
Namun, ada jenis garam yang lebih ramah untuk tekanan darah. Ahli gizi merekomendasikan garam kalium klorida sebagai alternatif pengganti garam biasa.
“Garam mengandung natrium yang meningkatkan tekanan darah dengan menyebabkan tubuh menahan cairan. Ini meningkatkan volume darah dan memberi tekanan lebih pada dinding pembuluh darah,” kata ahli gizi Whitney Stuart, M.S., RDN, dikutip dari Eating Well, Kamis (19/2/2026).
Garam meja beryodium, garam laut, dan garam Himalaya merah muda yang selama ini populer ternyata sama-sama tinggi natrium. Lantas, apa bedanya garam kalium?
Cara Kerja Garam Kalium
Garam kalium klorida mengandung kalium sebagai pengganti sebagian atau seluruh natrium. Rasa dan teksturnya mirip garam biasa, tapi manfaatnya jauh berbeda untuk kesehatan jantung.
Ahli gizi Amy Brownstein, M.S., RDN, menjelaskan bahwa kalium dan natrium memiliki efek saling menyeimbangkan. “Kalium membantu melebarkan pembuluh darah dan meningkatkan ekskresi natrium, mendukung penurunan tekanan darah dalam berbagai cara,” ujarnya.
Penelitian menunjukkan bahwa mengganti garam natrium dengan garam kalium dapat menurunkan tekanan darah hingga 5,6/2,9 mm Hg. Garam jenis ini biasanya dijual dengan label “garam rendah natrium”, “garam kalium”, atau “garam ringan”.
Tapi Ada Syaratnya
Stuart mengingatkan agar penggunaan garam kalium dilakukan secara hemat. Idealnya hanya sebagai pengganti sebagian, bukan 100 persen garam biasa. Garam dengan pengganti natrium di atas 50 persen bisa terasa pahit dan kurang cocok untuk kue.
Yang tak kalah penting, garam kalium tidak aman untuk semua orang. Penderita penyakit ginjal, gangguan fungsi ginjal, serta mereka yang mengonsumsi obat tekanan darah tertentu seperti penghambat ACE atau diuretik hemat kalium harus berkonsultasi dengan dokter sebelum beralih.
Jika ragu, ahli gizi menyarankan cara yang lebih alami: “Lebih baik menggunakan rempah-rempah, bumbu, cuka, dan jus lemon untuk memberi rasa pada makanan,” tutup Brownstein.
Jadi, sebelum mengganti garam dapur, pastikan kondisi kesehatan memang cocok. Konsultasi dengan ahli gizi atau dokter adalah langkah bijak sebelum memulai perubahan pola makan.
(Sumber: Eating Well)

Komentar