Kasih Sayang
Beranda ยป Berita ยป Lebih Sakit dari Putus Cinta: Saat Remaja Kehilangan Sahabat Terbaiknya

Lebih Sakit dari Putus Cinta: Saat Remaja Kehilangan Sahabat Terbaiknya

JEDADULU—Tidak semua patah hati datang dari kisah cinta. Beberapa hari yang lalu publik sempat digemparkan dengan ditemukannya sesosok mayat di bekas tempat wisata yang lama terbengkalai, kampung Gajah oleh konten kreator yang hendak membuat konten horor.

Sosok tersebut ternyata adalah seorang siswa SMP 26 Bandung berinisial ZAAQ berusia 14 tahun. Pembunuhan diketahui dilakukan oleh YA (16 th) dan AP (17 th) yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Mau tau apa motif yang membuat dua remaja nekat menghabisi sahabat sendiri? Tak lain tak bukan karena sakit hati terhadap korban yang menyatakan sikap hendak memutuskan pertemanan.

Bagi banyak orang dewasa, putus dengan pacar dianggap wajar dalam fase remaja. Namun yang sering luput dipahami adalah kehilangan sahabat di masa remaja bisa jauh lebih menghancurkan dibanding putus cinta.

Secara umum kita mungkin pernah melihat bagaimana relasi pertemanan remaja bisa berubah drastis. Entah karena konflik atau keadaan yang memaksa remaja berpisah dengan sahabat karena faktor tertentu seperti pindah rumah atau sekolah.

Namun, orang dewasa kerap tidak menyadari bahwa peristiwa tersebut ternyata sering kali memicu perubahan dalam prilaku remaja. Karena dampak perpisahan dengan sahabat bagi remaja sering terlihat dalam bentuk :

Cukup Elus Kucing atau Anjing, Stres Bisa Langsung Turun? Pakar Ungkap Fakta Mengejutkan

โˆš kesulitan tidur

โˆšMenarik diri dari lingkungan

โˆš Enggan masuk sekolah

โˆš Mengalami kecemasan sosial.

Gejalanya menyerupai reaksi berduka. Dan memang, secara psikologis, mereka sedang berduka.

Olahraga yang Tepat untuk Pengidap Penyakit Tertentu: Tetap Aktif tanpa Takut Kambuh

Mengapa Sahabat Sangat Penting bagi Remaja? Menurut teori perkembangan psikososial Erik Erikson, masa remaja berada pada tahap ldentity vs. Role Confusion. Pada fase ini, remaja sedang membangun identitas diri. Mereka mencari jawaban atas pertanyaan: “Siapa saya?” Dalam proses itu, sahabat memegang peran krusial:

1. Sahabat sebagai Cermin ldentitas Remaja.

Belajar mengenal diri melalui umpan balik dari teman sebaya. Sahabat menjadi “cermin sosial” yang membantu mereka memahami nilai, minat, dan karakter dirinya.

2. Sahabat sebagai Sumber Keamanan Emosional.

Penelitian dari American Psychological Association menunjukkan bahwa dukungan teman sebaya berhubungan signifikan dengan kesehatan mental remaja dan tingkat stres yang lebih rendah.

Sudah Diet Ketat tapi Berat Badan tak Kunjung Turun? Mungkin Ini Penyebabnya!

3. Sahabat sebagai Tempat Aman dari Tekanan Keluarga.

Di usia ini, konflik dengan orang tua sering meningkat. Sahabat menjadi tempat berbagi tanpa takut dihakimi.

4. Intensitas Emosi yang Lebih Dalam.

Berbeda dengan relasi romantis remaja yang sering kali masih eksploratif. Persahabatan biasanya terbangun lebih lama, lebih stabil, dan lebih intim secara emosional. Itulah sebabnya, ketika persahabatan retak, rasa kehilangan bisa terasa lebih permanen dibanding putus pacaran.

Mengapa Patah Hati karena Sahabat Terasa Lebih Parah? Berikut beberapa alasan psikologisnya:

โ€ขTidak Ada Validasi Sosial. Putus cinta sering mendapat empati dari lingkungan. Namun kehilangan sahabat sering dianggap sepele: “Ah, cari teman baru saja.” Padahal, bagi remaja, itu bukan sekadar teman.

โ€ขKehilangan Sejarah Bersama. Sahabat menyimpan memori pertumbuhan dari masa canggung hingga percaya diri. Kehilangan sahabat berarti kehilangan saksi perjalanan hidup.

โ€ขRasa Penolakan yang Lebih Personal. Jika konflik menyebabkan perpisahan, remaja sering menginternalisasi: “Berarti aku tidak cukup baik.” Ini dapat memicu krisis harga diri.

Dampak Psikologis Kehilangan Sahabat pada Remaja Jika tidak ditangani dengan baik, dampaknya bisa meliputi: Penurunan self-esteem, kecemasan sosial, depresi ringan hingga sedang dan Penurunan motivasi akademik serta kesulitan membangun relasi baru.

Penelitian dalam Journal of Adolescence menunjukkan bahwa konflik persahabatan memiliki korelasi kuat dengan gejala depresi pada remaja perempuan.

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua? Sebagai orang dewasa, penting untuk

1. Tidak Mengecilkan Rasa Sakitnya. Hindari kalimat seperti: “Nanti juga dapat teman baruโ€. Tapi validasi dulu emosinya.

2. Bantu Remaja Memproses Rasa Duka. Ajarkan bahwa kehilangan adalah bagian dari hidup. Berduka bukan kelemahan.

3. Dorong Koneksi Sosial Bertahap Jangan paksa. Bangun kembali kepercayaan sosial secara perlahan.

4. Waspadai Tanda Depresi. Jika muncul perubah drastis dalam pola makan, tidur, dan perilaku, pertimbangkan bantuan profesional.

Persahabatan Adalah โ€œRumah Kedua”. Dalam banyak sesi konseling, psikolog banyak menemukan satu kesamaan: Remaja tidak sekadar kehilangan teman. Mereka kehilangan tempat pulang.

Persahabatan di masa remaja adalah fondasi kemampuan membangun relasi dewasa kelak. Ketika fondasi itu retak, dunia terasa goyah.

Karena itu, patah hati karena sahabat bukan drama remaja. Itu adalah pengalaman kehilangan yang nyata. Dan ia layak dipahami.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *