JEDADULU.COM — Selama ini kita mungkin berpikir bahwa umur panjang ditentukan oleh pola makan sehat, olahraga teratur, atau faktor genetik. Tapi ternyata ada satu faktor lain yang tak kalah penting, yakni memiliki sahabat sejati.
Seorang ahli saraf mengungkap bahwa hubungan sosial yang erat dengan orang lain bisa membuat kita hidup lebih lama dan lebih sehat. Dr. Ben Rein, ahli saraf yang juga peneliti di Stanford University, menjelaskan bahwa keberadaan orang lain di sekitar kita bukan sekadar memberi efek menyenangkan secara emosional.
Lebih dari itu, koneksi sosial terbukti secara ilmiah dapat meningkatkan pemulihan dari penyakit serius seperti stroke, kanker, dan serangan jantung.
“Ketika Anda mengalami respons stres kronis jangka panjang, hal itu dapat menyebabkan penumpukan peradangan,” ujar Rein, dikutip dari The Guardian, awal Februari 2026.
Peradangan sebenarnya adalah mekanisme pertahanan alami tubuh terhadap cedera dan penyakit. Namun jika berlangsung terlalu lama atau muncul dalam konteks yang keliru, peradangan justru menjadi bumerang yang merusak kesehatan.
Kesepian: Musuh Tersembunyi
Dalam bukunya yang baru terbit, Why Brains Need Friends: The Neuroscience of Social Connection, Rein memaparkan bahwa kesepian telah dikaitkan dengan berbagai dampak buruk terhadap kesehatan. Saat manusia merasa kesepian, tubuh merespons dengan kondisi stres yang memicu pelepasan hormon kortisol secara berlebihan.
Sebaliknya, ketika kita terhubung dengan orang lainโterutama sahabat sejatiโtubuh justru mengalami efek sebaliknya: stres berkurang, sistem kekebalan tubuh meningkat, dan proses pemulihan dari penyakit berjalan lebih optimal.
Bukti dari Studi Hewan
Rein menyoroti berbagai riset, termasuk studi pada hewan yang menunjukkan temuan mencengangkan. Individu yang hidup sendiri setelah mengalami stroke ternyata lebih sulit pulih dan memiliki risiko kematian lebih tinggi dibanding mereka yang hidup berkelompok.
“Ini mengerikan, tapi juga menarik untuk dipahami secara ilmiah,” kata Rein.
Otak Dirancang untuk Bersosialisasi
Menurut Rein, otak manusia secara biologis memang dirancang untuk hidup bersama orang lain. Namun ironisnya, manusia seringkali salah menilai pengalaman bersosialisasi itu sendiri.
“Manusia sangat buruk dalam memperkirakan bagaimana perasaan mereka saat bersosialisasi,” ungkap Rein.
Penelitian psikologi menunjukkan manusia kerap meremehkan kemampuan sosial diri sendiri. Banyak orang merasa canggung atau takut tidak disukai, padahal orang lain justru memiliki kesan positif.
Fenomena ini dikenal sebagai liking gapโjurang antara seberapa besar kita berpikir orang lain menyukai kita dengan kenyataan sebenarnya.
Sahabat Bukan Sekadar Teman Ngobrol
Yang membedakan sahabat sejati dengan sekadar kenalan biasa adalah kualitas koneksinya. Sahabat sejati adalah mereka yang membuat kita merasa didengar, dipahami, dan diterima apa adanya. Mereka menjadi “regulator eksternal” bagi sistem saraf kita, membantu menenangkan respons stres ketika hidup terasa berat.
Rein menekankan bahwa dalam dunia yang makin digital dan individualistis, manusia perlu secara sadar membangun dan merawat hubungan sosial yang bermakna. Bukan sekadar jumlah teman di media sosial, melainkan kedalaman interaksi tatap muka yang nyata.
Investasi untuk Panjang Umur
Jadi, jika ingin panjang umur dan sehat, jangan hanya fokus pada gym dan salad. Luangkan waktu untuk ngopi bareng sahabat, telepon teman lama, atau sekadar duduk dan mengobrol dari hati ke hati. Karena di balik tawa dan cerita yang kita bagi, tubuh kita sedang memanen manfaat kesehatan yang tak ternilai.
Seperti kata Rein, koneksi dengan orang lain bukan sekadar kebutuhan emosional, tetapi juga kebutuhan biologis yang melekat dalam diri manusia.
(Sumber: The Guardian)

Komentar