SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ulas Dulu
Beranda » Berita » Mengapa Puasa Itu Penting?

Mengapa Puasa Itu Penting?

Muhammad Rubiul Yatim. (Foto: Dok.Pribadi)
Muhammad Rubiul Yatim. (Foto: Dok.Pribadi)

Oleh: Muhammad Rubiul Yatim *)

Bulan Ramadan bagi umat Islam adalah bulan yang identik dengan sebutan bulan puasa. Hal ini dikarenakan ibadah puasa tersebut diperintahkan dan diwajibkan oleh Allah Azza wa Jalla kepada orang Islam yang beriman, yaitu pada setiap bulan Ramadan.

Secara bahasa, arti puasa adalah imsak atau menahan. Arti luasnya adalah menahan diri dari makan, minum, hubungan seksual dan hal-hal yang membatalkan puasa dari sejak waktu subuh hingga terbenam matahari (masuk waktu maghrib) dengan niat ibadah kepada Allah SWT.

Ternyata ibadah puasa itu telah diperintahkan oleh Allah Azza wa Jalla kepada manusia sejak lama kepada berbagai umat di dunia. Kewajibannya bukan hanya bagi umat Nabi Muhammad SAW saja, tetapi juga kepada umat nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad SAW diutus.

Semua umat terdahulu itu, telah menjalankan ibadah puasa pada zamannya dengan konsep dan tata cara ajaran nabi dan rasulnya masing-masing sesuai dengan petunjuk dan arahan dari Allah SWT.

Dari Baby Boomers hingga Generasi Sigma: Siapa Mereka dan Kenapa Disebut Paling Berbeda?

Mencermati bahwa ibadah puasa merupakan rangkaian ibadah yang telah sangat tua dan panjang dalam sejarah peradaban manusia, maka tentu ada maksud besar dan nilai strategis yang terkandung di dalamnya sehingga Allah SWT mewajibkan bagi manusia khususnya bagi orang beriman.

Hal ini tampaknya menjadi satu perkara penting yang patut direnungkan dan digali oleh kita, agar dapat dipahami alasan dan penyebabnya sehingga menimbulkan semangat dan motivasi yang kuat untuk menjalankannya.

Sedikitnya, ada lima manfaat dari pelaksanaan ibadah puasa yang dapat digali dan dirasakan oleh manusia. Lima manfaat itu adalah:

  1. Manfaat Kesehatan

Setiap orang yang menjalankan ibadah puasa tentu akan memberikan kesempatan pada seluruh bagian organ pencernaan tubuhnya untuk berhenti beraktifitas. Mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, pankreas, hati, kantong empedu, usus besar, rektum dan anus akan beristirahat secara total ketika berpuasa.

Sebelas bulan atau 330 hari atau 7.920 jam organ pencernaan manusia terus bekerja tanpa kenal henti. Organ itu terus beraktifitas dan bekerja untuk kepentingan hidup manusia dan tidak bisa mengadu atau mengeluh kalau dirinya telah lelah. Akibatnya tentu dapat diyakini bahwa sedikit banyak organ-organ itu akan berpotensi mengalami kerusakan atau kejenuhan.

Waspada Jantung Berdebar Tanpa Sebab? Dokter Sarankan Pakai Jam Tangan Pintar

Oleh karenanya, datangnya perintah berpuasa selama sebulan penuh (30 hari atau 360 jam) tentu menjadi sarana yang efektif untuk merevitalisasi dan merecovery semua organ pencernaan yang lelah dan lecet tersebut. Kedepannya tentu kinerja organ pencernaan akan kembali prima dan sehat guna menopang tubuh untuk menjalani aktifitas dan beribadah secara optimal.

Dalam satu ungkapan terkenal (ada yang menyebut hadis dan ada pula yang menyebut bukan hadis) dikatakan bahwa: “summuu tashihhuu” yang artinya “berpuasalah, niscaya kalian sehat.”

Berbagai penelitian di dunia kesehatan telah membenarkan dan menguatkan atas pernyataan ungkapan tersebut yaitu seperti terjadi pembakaran lemak, pengurangan kolesterol, penguatan jantung, peningkatan metabolisme tubuh, dan lain sebagainya. Jadi puasa sangat nyata memberi andil dalam kesehatan tubuh manusia.

  1. Manfaat Psikologis

Seorang Muslim yang berpuasa selama sebulan penuh secara langsung dilatih untuk menahan hawa nafsu yang ada di dalam dirinya. Hal ini sejalan dengan makna dan praktik ibadah puasa yaitu tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan suami-istri dan tindakan lain yang dapat membatalkan puasa.

Segala hal yang halal dan diperbolehkan dalam pandangan agama harus dikendalikan dan tidak boleh diperturutkan pada saat puasa. Apatah lagi yang terlarang dan haram dalam agama tentu harus lebih mampu untuk dikendalikan.

Fenomena Sinkhole Mengglobal: Dari Aceh hingga Shanghai, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Melalui pengendalian hawa nafsu maka secara psikologis setiap orang yang berpuasa akan mampu mengelola jiwanya menjadi pribadi yang tabah, sabar, tenang, qonaah dan tawakal. Berbagai sikap buruk seperti serakah, curang, rakus, pemarah, emosional, temperamen, egois, kejam dan sadis akan jauh dari pribadi yang kerap menahan hawa nafsu.

Selain itu, lisan dan kemaluannya juga jadi turut terjaga sebagai buah dari jiwa yang matang dan tertempa oleh kendali hawa nafsu. Lisan dan kemaluan yang tidak terkendali, pada umumnya akan membawa banyak kerusakan dan kekacauan di muka bumi. Apalagi kalau orang tersebut berhasil mengupayakan dirinya jadi pemimpin dan penguasa bagi orang banyak, maka dapat dibayangkan dampak buruk yang akan ditimbulkan oleh kebijakannya.

  1. Manfaat Sosial

Kondisi tidak makan dan tidak minum karena puasa sepanjang 12 jam setiap hari selama sebulan penuh tentu akan memberi kesadaran pada pelakunya akan tidak enaknya lapar, sakitnya perut keroncongan dan sengsaranya haus. Hal ini tentu akan melahirkan sikap empati dan kepedulian terhadap orang-orang fakir, miskin dan dhuafa yang mengalami kondisi serupa bahkan lebih parah ketika mereka sering belum makan dan minum dalam kesehariannya.

Lapar dan dahaganya orang puasa itu sesungguhnya by design sesuai perintah dari Allah Azza wa Jalla dan arahan dari Nabi Muhammad SAW. Adapun lapar dan dahaganya orang fakir, miskin dan dhuafa adalah suatu kondisi nyata apa adanya dan bukan rekayasa yang memang tidak bisa terelakkan.

Maka dari itu, sikap peduli atas kondisi sosial lingkungan sekitar tentu akan muncul dalam diri orang-orang yang berpuasa. Perhatian, empati, dan bantuan terhadap masyarakat di sekitarnya merupakan wujud konkrit atas hasil tempaan puasa selama sebulan penuh.

  1. Manfaat Ekonomi

Tindak lanjut dari manfaat sosial atas puasa adalah lahirnya sikap ingin berbagi dan berkontribusi dalam hal ekonomi. Hal ini sebagai bentuk representasi nyata atas kepedulian dan perhatian terhadap saudaranya yang kekurangan.

Nabi Muhammad SAW bahkan dikenal di bulan Ramadan menjadi pribadi yang sangat pemurah dalam berbagi. Ringannya beliau berbagi digambarkan seperti “angin yang berhembus.” Ketika Beliau pernah ditanya oleh salah seorang sahabat: “Sedekah apakah yang paling mulia? Beliau menjawab: “Yaitu sedekah dibulan Ramadhan” (HR Tirmidzi)

Itu sebabnya Nabi Muhammad SAW sangat mendorong orang beriman untuk semangat memberi dana atau bersedekah makanan kepada orang yang berbuka puasa. Andai tidak mampu memberi paket makanan lengkap pada orang yang berbuka puasa maka jangan lewatkan walaupun minimalis hanya sebatas seteguk air atau sebiji kurma. Setelah itu tentunya diharapkan melahirkan keinginan kuat untuk memberi dana atau bersedekah makanan kepada orang-orang fakir, miskin dan dhuafa.

Adapun mekanisme untuk berbagi dalam manfaat ekonomi dapat dilakukan melalui penyaluran zakat, infak, sedekah dan wakaf. Semua itu merupakan bentuk manifestasi nyata keinginan untuk menolong dan meringankan beban kesulitan ekonomi saudaranya.

  1. Manfaat Spiritual

Puncak dan muara dari berbagai macam manfaat puasa selama sebulan penuh itu adalah terbentuknya pribadi yang kuat dalam iman dan kokoh dalam taqwa. Pribadi yang senantiasa mengedepankan spiritualisme nilai-nilai ketuhanan (ilahiah) dalam segala aktifitas hidupnya. Dirinya akan sosok yang religius sehingga selalu berkomitmen dalam menjalankan ajaran agama Islam secara menyeluruh dan totalitas.

Spiritualisme utama yang dibentuk dan diarahkan dari puasa adalah menjadikan Allah Azza wa Jalla sebagai pusat aktifitas dan tujuan dalam hidupnya. Mulai dari bangun tidur di pagi hari hingga tidur kembali di malam hari semua nawaitu atau orientasinya adalah berkhidmat kepada Penguasa dan Pemilik alam jagad raya yaitu Allah Azza wa Jalla.

Hal ini sangat relevan dengan doa yang dibaca di awal shalat yaitu { قُلۡ إِنَّ صَلَاتِی وَنُسُكِی وَمَحۡیَایَ وَمَمَاتِی لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ , yang artinya: “Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,” Al-Quran Surat Al-An’am ayat 162}

Oleh karenanya, dalam hadis Qudsi, Allah Azza wa Jalla berfirman:
إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به
yang artinya “kecuali puasa, sebab ia hanyalah untukku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung,” (HR Bukhari).

Jadi timbangan ganjaran pahala puasa itu mutlak dari segi nilai dan koreksinya ada dalam genggaman dan rahasia Allah SWT.

Dengan demikian, mencermati akan banyaknya manfaat yang dapat diraih dari ibadah puasa maka sudah sepatutnya orang beriman mengungkapkan rasa syukur yang mendalam kepada Allah Azza wa Jalla. Oleh karena penerima manfaat terbesar justru akan kembali kepada diri manusia itu sendiri.

Tentunya menjadi suatu kewajaran dan bahkan kebutuhan apabila kemudian aktifitas puasa ini selalu berulang dan menjadi tradisi pada setiap generasi serta menjadi wajib diamalkan setiap tahun bagi umat Islam hari ini. Hal ini diharapkan dapat mendorong manusia untuk dapat selalu kembali kepada fitrah keasliannya yang suci baik secara jasmani maupun ruhani.

Semua yang diperintahkan dan diwajibkan oleh Allah Azza wa Jalla pasti ada manfaat dan kebaikan yang banyak di dalamnya. Sebaliknya semua yang dilarang dan diharamkan oleh Allah Azza wa Jalla pasti ada keburukan dan bahaya yang banyak di dalamnya.

Semoga puasa kita dapat sukses dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, kemudian diterima oleh Allah Azza wa Jalla dan menjadi pintu syafaat kelak di hari kiamat kelak.

*) Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) di Universitas Pancasila dan Anggota Korps Mubaligh Khairu Ummah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *