JEDADULU.COM — Bayangkan menjalani Ramadan di kota yang mataharinya nyaris tak pernah terbenam. Atau sebaliknya, berada di wilayah yang siangnya hanya sekelebat.
Di utara Rusia, tepatnya di Kota Murmansk, fenomena ini bukan sekadar cerita, melainkan realitas tahunan yang memengaruhi cara umat Muslim menjalankan ibadah puasa.
Benarkah di Murmansk umat Muslim hanya berpuasa sekitar satu jam saja? Jawabannya: bisa ya, bisa tidak—tergantung pada waktu dalam setahun dan metode penentuan jadwal puasa yang digunakan.
Di Mana Letak Murmansk?
Murmansk adalah kota terbesar di dunia yang berada di dalam Lingkar Arktik. Kota ini terletak di barat laut Rusia, dekat perbatasan Norwegia dan Finlandia.
Dengan populasi sekitar 300 ribu jiwa, Murmansk dikenal sebagai pelabuhan penting Rusia di Samudra Arktik. Kota ini juga menjadi pangkalan utama armada laut utara Rusia.
Namun, yang membuat Murmansk istimewa bukan hanya letaknya, melainkan fenomena alamnya yang ekstrem.
Mengapa Puasa Bisa Sangat Singkat?
Fenomena ini berkaitan dengan posisi geografis Murmansk yang berada di atas 66,5 derajat lintang utara—wilayah yang termasuk dalam Lingkar Arktik.
Di kawasan ini terjadi dua fenomena utama:
1. Midnight Sun (Matahari Tengah Malam)
Pada musim panas, matahari tidak terbenam selama berminggu-minggu. Artinya, siang berlangsung hampir 24 jam.
Jika Ramadan jatuh pada periode ini, waktu antara matahari terbit dan terbenam bisa sangat panjang—bahkan mendekati 24 jam. Dalam kondisi tertentu, perbedaan waktu magrib dan subuh bisa sangat sempit atau tidak jelas, sehingga secara teknis durasi puasa bisa sangat singkat jika mengikuti metode waktu lokal tertentu.
2. Polar Night (Malam Kutub)
Sebaliknya, pada musim dingin, matahari hampir tidak muncul. Siang hari bisa hanya berlangsung 1–2 jam saja.
Jika Ramadan bertepatan dengan periode ini, secara teori durasi puasa bisa menjadi sangat singkat—sekitar 1 hingga 2 jam—karena waktu antara fajar dan matahari terbenam sangat pendek.
Apakah Benar Hanya 1 Jam?
Dalam praktiknya, umat Muslim di Murmansk tidak selalu mengikuti waktu matahari lokal secara mentah.
Sebagian komunitas Muslim memilih:
- Mengikuti jadwal puasa kota terdekat yang lebih “normal” secara astronomi.
- Mengikuti waktu di Moskow.
- Mengikuti waktu Makkah.
Pendekatan ini merujuk pada fatwa ulama internasional yang menyatakan bahwa di wilayah dengan fenomena siang/malam ekstrem, umat Muslim boleh menggunakan jadwal dari wilayah terdekat yang memiliki siklus matahari normal.
Karena itu, klaim “puasa hanya 1 jam” lebih bersifat fenomena astronomis, bukan praktik umum sehari-hari.
Kota Lain dengan Durasi Puasa Ekstrem
Selain Murmansk, sejumlah kota lain di kawasan Lingkar Arktik juga mengalami kondisi serupa.
1. Tromsø, Norwegia
Tromsø sering dijuluki “Paris of the North”. Kota ini juga mengalami matahari tengah malam dan malam kutub, sehingga durasi puasa bisa sangat panjang atau sangat singkat.
2. Reykjavik, Islandia
Reykjavik mengalami siang yang sangat panjang saat musim panas. Jika Ramadan jatuh di bulan Juni atau Juli, durasi puasa bisa mencapai lebih dari 20 jam.
3. Longyearbyen, Svalbard
Longyearbyen adalah salah satu permukiman paling utara di dunia. Di sini, matahari bisa tidak terbenam selama sekitar empat bulan dan tidak terbit selama periode tertentu di musim dingin.
Keunikan Murmansk yang Jarang Diketahui
Selain fenomena siang-malam ekstrem, Murmansk memiliki sejumlah keunikan lain:
1. Pelabuhan Bebas Es
Meski berada di wilayah Arktik, pelabuhan Murmansk relatif bebas es sepanjang tahun karena pengaruh Arus Atlantik Utara.
2. Pusat Pengamatan Aurora
Murmansk menjadi salah satu lokasi favorit wisatawan untuk menyaksikan aurora borealis atau cahaya utara.
3. Kota Strategis Militer
Sebagai markas Armada Utara Rusia, Murmansk memegang peranan penting dalam strategi pertahanan negara tersebut.
Tantangan Iman di Ujung Dunia
Fenomena puasa satu jam di Murmansk sesungguhnya bukan sekadar soal durasi, melainkan tentang bagaimana agama dan sains bertemu dalam realitas geografis yang ekstrem.
Di kota-kota Lingkar Arktik, Ramadan menjadi pengalaman spiritual yang unik. Umat Muslim di sana harus berdialog dengan alam, ilmu falak, dan panduan ulama untuk menentukan waktu ibadah yang paling tepat.
Kisah Murmansk mengingatkan bahwa Islam hadir di berbagai penjuru bumi—dari gurun pasir hingga lingkar es Arktik. Di tempat-tempat paling utara sekalipun, Ramadan tetap dijalani dengan keyakinan, meski terkadang matahari nyaris tak pernah pamit.
(Berbagai Sumber)

Komentar