Tontonan
Beranda » Berita » Sejarah Singkat Manga Jepang

Sejarah Singkat Manga Jepang


jedadulu.com/ — Manga adalah  buku komik atau novel grafis yang berasal dari Jepang. Di Jepang, istilah manga digunakan untuk merujuk pada komik tanpa memandang budaya asalnya. 

Di Barat, istilah ini sebagian besar hanya merujuk pada buku komik atau novel grafis dari Jepang, meskipun beberapa juga menggunakan istilah tersebut untuk merujuk pada komik non-Jepang yang menggunakan gaya seperti manga. 

Seperti semua komik, manga adalah serangkaian gambar yang digambar berdekatan yang dirancang untuk dibaca sebagai narasi atau urutan kronologis. Kata-kata biasanya terbatas pada “balon” di dalam bingkai gambar , yang sering disebut gelembung ucapan atau gelembung teks. Kata-kata onomatopoetik terkadang muncul di latar belakang gambar untuk menunjukkan efek suara. 

Di Jepang, manga mulai meningkat popularitasnya pada pertengahan abad ke-20, ketika pasar berkembang pesat dan lebih banyak variasi cerita mulai ditulis untuk audiens yang berbeda. Industri manga melihat ledakan lain ketika genre tersebut mendapatkan popularitas internasional sekitar pergantian abad ke-21.

Manga berbeda dari komik Barat dalam beberapa hal di luar negara asalnya. Sementara banyak buku komik Barat terdiri dari gambar berwarna, manga biasanya dicetak hitam-putih. Manga juga sering dicetak di atas kertas berkualitas buruk, yang membantu menekan biaya produksi dan membuat manga murah untuk dibeli.

Manga Suiyōbi, Watashi no Otto ni Dakarete Kudasai Karya Kikuko Kikuya akan Diadaptasi Jadi Live-Action

Karakter sering digambar dengan kepala yang terlalu besar dan mata yang besar dan ekspresif. Fitur wajah biasanya digambar dengan garis-garis sederhana. Berbagai bentuk panel digunakan, bersama dengan berbagai sudut dan efek perspektif, untuk menciptakan rasa aksi yang sinematik.

Seniman sering menggambar karakter dengan mata besar agar lebih mudah menunjukkan emosi. Dibandingkan dengan buku komik Barat, cerita manga lebih panjang dan aksinya digambarkan dengan kecepatan yang lebih lambat. Misalnya, bukan hal yang aneh jika satu pertarungan dalam manga aksi tersebar lebih dari 30 halaman.

Manga pada Zaman Kuno

Manga dan humor memiliki sejarah yang sangat panjang di Jepang. Sebagai contoh, Kuil Buddha Horyuji dibangun pada tahun 607 M di ibu kota kuno Nara. Kuil Horyuji terbakar pada tahun 670 M, dan secara bertahap dibangun kembali hingga awal abad ke-8. Horyuji adalah struktur kayu tertua di Jepang, dan kemungkinan juga yang tertua di dunia.

Karikatur manusia, hewan, dan “alat kelamin pria yang sangat dilebih-lebihkan” (Schodt, Manga! hlm. 28) ditemukan di bagian belakang papan langit-langit kuil saat perbaikan pada tahun 1935. Karikatur-karikatur ini termasuk seni komik Jepang tertua yang masih bertahan hingga kini.

Nana Mizuki Kembali Tampil, Bawakan Lagu Opening untuk Anime Magical Girl Lyrical Nanoha Exceeds Gun Blaze Vengeance

Manga pada Abad Pertengahan

Toba Sojo, yang nama aslinya adalah Kakuyu, adalah seorang bangsawan dan Seniman Jepang dari periode Heian yang menjadi kepala biara Buddha.  (1053–1140) dikatakan melukis menggunakan kuas dan tinta “Gulungan Binatang” — gambar lucu burung dan hewan — pada pertengahan abad ke-12. Gulungan gambar naratif monokromatik ini terdiri dari empat volume, dan volume pertama dianggap yang terbaik.

Gulungan tersebut menggambarkan makhluk-makhluk karikatural seperti katak, kelinci, monyet, dan rubah yang melakukan aktivitas manusia sehari-hari, menyindir gaya hidup dekaden kalangan atas Jepang pada masa itu. Dalam salah satu gambar, seekor katak mengenakan jubah pendeta, membawa tasbih dan sutra, sementara beberapa “pendeta” lainnya tampak kalah berjudi atau bermain poker telanjang.

Gulungan naratif yang awalnya dilukis ini kini menjadi harta nasional Jepang, bersama dengan gulungan lainnya seperti Gaki Zoshi (“gulungan hantu kelaparan”) yang digambar pada pertengahan abad ke-12, dan Jigoku Zoshi (“gulungan neraka”) yang dilukis pada akhir abad ke-12. Penayangan gulungan-gulungan ini terbatas hanya untuk segelintir orang, termasuk “kaum rohaniwan, bangsawan, dan keluarga samurai yang berkuasa” (Schodt, Manga! hlm. 32).

Manga pada Zaman Tokugawa (1603–1867)

Kaguya-sama: Love Is War Dapat Adaptasi Anime Baru

Kota Otsu dekat Kyoto menjual Otsue, atau “gambar Otsu”, kepada orang-orang yang bepergian di jalan utama dari Kyoto ke arah utara pada pertengahan abad ke-17. Otsue awalnya berupa gambar Buddha sederhana untuk doa dan sebagai bentuk jimat suvenir, namun kemudian juga mencakup gambar-gambar sekuler, jenaka dan satiris.

Karya-karya tersebut dicetak menggunakan bentuk primitif dari teknik cetak dan tersedia bagi masyarakat biasa (Shinmura).

Penerbitan gambar Tobae, yaitu gaya karikatur jenaka dan cerdas tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang, dimulai di Kyoto selama periode Hoei (1704–1711). Nama Tobae berasal dari Uskup Toba. Penerbitan buku-buku Tobae di Osaka menandai awal komersialisasi manga pada awal abad ke-18.

Buku-buku ini dicetak menggunakan teknik cetak balok kayu (woodblock) dan menyebar dari Osaka ke Kyoto, Nagoya, lalu ke Edo (sekarang Tokyo) selama periode Tokugawa (1603–1867). Saat itu, Osaka merupakan pusat kota di mana industri penerbitan berkembang pesat seiring dengan meningkatnya populasi urban secara cepat.

Dari periode Genroku (1688–1704) hingga periode Kyoho (1716–1736), Akahonmenjadi sangat populer. Akahon secara harfiah berarti “buku merah” dengan sampul depan berwarna merah. Awalnya, Akahon merupakan buku bergambar yang berisi dongeng dan cerita rakyat seperti “Anak Buah Persik (Momotaro),” “Pertempuran Monyet dan Kepiting,” “Lidah Burung Pipit,” “Gunung Klik-Klak (Kachi-Kachi Yama),” dan “Bagaimana Kakek Kehilangan Benjolan di Pipi.”

Kemudian, Akahon berkembang menjadi buku bergambar untuk orang dewasa, meskipun sebagian besar isinya tetap berupa gambar, bukan teks. Buku Tobae juga menjadi populer karena dianggap sebagai variasi dari Akahon. Manga menjadi komoditas yang dijual ke publik, baik yang digambar tangan maupun yang dicetak menggunakan teknik balok kayu.

Frederik Schodt (Sex and Violence) menganggap bahwa manga merupakan keturunan langsung dari kibyoshi dan ukiyo-e. Kibyoshi, atau “buku berjaket kuning” — seperti Akahon (buku merah), Kurohon (buku hitam), dan Aohon (buku biru) yang mendahuluinya — berasal dari buku bergambar untuk anak-anak. Buku-buku berjaket kuning ini kemudian merujuk pada bahan bacaan populer bergambar yang diterbitkan selama periode An’ei (1772–1781). Kibyoshi berisi lelucon, sindiran, dan kartun untuk orang dewasa.

Ukiyo-e secara harfiah berarti “gambar dunia mengambang”, dan merupakan genre gambar rakyat populer. Genre ini sangat digemari oleh kasta pedagang kota, yang menjadi pemimpin budaya Tokugawa. Seni dan hiburan para pedagang yang berpusat di kawasan hiburan perkotaan dicirikan oleh hedonisme. Pada tahap awal perkembangannya, ukiyo-e merupakan lukisan asli, namun melalui versi cetak balok kayu, ukiyo-e berkembang dan benar-benar menjadi populer sejak akhir abad ke-17.

Subjek paling umum dari ukiyo-e termasuk aktor, wanita cantik terkenal, …

Manga dan Pengaruh Amerika

Rakuten Kitazawa (1876–1955) dan Ippei Okamoto (1886–1948) berperan besar dalam memperkenalkan kartun dan strip komik Amerika ke Jepang. Kitazawa pernah menggambar manga untuk The Box of Curios, sebuah majalah mingguan berbahasa Inggris yang diterbitkan di permukiman asing Jepang. Pada tahun 1899, ia mulai bekerja di surat kabar Jiji Shimpo setelah bakatnya ditemukan oleh Yukichi Fukuzawa, salah satu tokoh penting dalam modernisasi Jepang.

Pada tahun 1905, Kitazawa meluncurkan Tokyo Pakku (“Tokyo Puck”), majalah kartun bulanan berwarna. Gaya gambarnya yang halus, cerdas, dan realistis membuatnya terkenal dan sukses secara finansial. Kesuksesan ini menginspirasi banyak anak muda Jepang untuk menekuni manga sebagai profesi. Sementara itu, Ippei Okamoto mulai menggambar manga saat bergabung dengan surat kabar Asahi Shimbun pada tahun 1912.

Perkembangan manga Jepang modern mulai terlihat nyata pada tahun 1920-an dan 1930-an. Banyak seniman manga, termasuk Kitazawa dan Okamoto, melakukan perjalanan ke Amerika Serikat dan negara lain untuk mempelajari kartun luar negeri. Saat itu, Amerika memang menjadi pusat perkembangan komik. Misalnya, pada tahun 1896, The New World yang didirikan oleh Joseph Pulitzer mulai menerbitkan strip komik Yellow Kid, yang kemudian menjadi tren di surat kabar-surat kabar Amerika.

Kitazawa pun membuat versi Jepang dari Yellow Kid untuk edisi Minggu surat kabar Jiji Shimpo. Tujuannya adalah menghadirkan hiburan yang bisa dinikmati seluruh keluarga. Manga anak-anak juga menjadi strategi penting untuk menarik lebih banyak pelanggan surat kabar. Karakter-karakter ciptaan Kitazawa bahkan dicetak di kartu permainan dan dibuat dalam bentuk boneka.

Tahun 1923 menjadi tonggak penting dengan kemunculan tokoh manga nasional seperti Sho-chan no Bōken (“Petualangan Si Kecil Sho”) dan Nonkina Tōsan (“Ayah yang Santai”). Memasuki tahun 1930-an, majalah anak-anak bulanan yang tebal mulai rutin memuat komik berseri yang ceritanya bisa mencapai puluhan halaman (Schodt, Manga!; Shimizu).

(dmr)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *