SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Momen
Beranda ยป Berita ยป Warning! 4 Anak Sudah Akhiri Hidup di 2026, KPAI: Indonesia Darurat!

Warning! 4 Anak Sudah Akhiri Hidup di 2026, KPAI: Indonesia Darurat!

Indonesia pernah menempati posisi tertinggi kasus bunuh diri anak di Asia Tenggara pada tahun 2023 dan 2024, dan tren mengerikan itu dikhawatirkan terulang kembali.
Indonesia pernah menempati posisi tertinggi kasus bunuh diri anak di Asia Tenggara pada tahun 2023 dan 2024, dan tren mengerikan itu dikhawatirkan terulang kembali. (Foto Ilustrasi: Pixabay)

JEDADULU.COM; JAKARTA — Indonesia kembali dikejutkan dengan tragedi yang memilukan. Seorang anak berusia 14 tahun di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, ditemukan meninggal diduga karena mengakhiri hidupnya pada Kamis (12/2/2026) lalu.

Peristiwa ini menjadi kasus keempat anak yang mengakhiri hidup di tahun 2026, sekaligus membunyikan alarm keras bagi bangsa. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pun langsung bereaksi.

Anggota KPAI, Diyah Puspitarini, menyatakan bahwa situasi ini sudah memasuki level darurat. Pasalnya, Indonesia pernah menempati posisi tertinggi kasus bunuh diri anak di Asia Tenggara pada tahun 2023 dan 2024, dan tren mengerikan itu dikhawatirkan terulang kembali.

“Ini adalah kasus ke-4 anak mengakhiri hidup di tahun 2026. Dan ini warning yang keras. Jangan sampai seperti tahun 2023 dan 2024 Indonesia menempati kasus tertinggi anak mengakhiri hidup di Asia Tenggara terulang lagi,” ujar Diyah, Rabu (18/2/2026).

Ironi di Bumi Nusantara

Pecahkan Rekor Dunia, Kartu Pokemon Ini Terjual Seharga Rp259 Triliun!

Korban di Penajam Paser Utara diketahui masih duduk di bangku SMP kelas VII. Berdasarkan keterangan keluarga yang dikutip dari penyelidikan polisi, korban diduga mengalami kecanduan ponsel yang cukup parah.

Dalam setahun terakhir, korban tercatat telah tiga kali berpindah sekolah. Pada hari kejadian, korban ditemukan oleh bibinya di bagian dapur rumah dalam keadaan tidak bernyawa. Keluarga datang untuk mengantar adik korban, namun tidak mendapatkan respons saat memanggil dari luar.

Sayangnya, orang tua korban sedang tidak berada di rumah karena sedang menjaga ayah korban yang menjalani perawatan di rumah sakit. Dari hasil pemeriksaan, polisi tidak menemukan tanda-tanda kekerasan fisik. Namun, dugaan perundungan (bullying) masih terus didalami.

Bukan Sekadar Soal Uang, tapi Lapis Persoalan

Kasus di Penajam ini bukan insiden tunggal. Beberapa pekan sebelumnya, publik juga digemparkan dengan tewasnya seorang anak di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga nekat mengakhiri hidup karena tidak memiliki uang untuk membeli buku dan alat tulis.

Bukan Cuma Masalah Hilal! Ini Akar Beda Awal Ramadan 2026 Versi Pemerintah dan Muhammadiyah

Data KPAI menunjukkan bahwa penyebab anak mengakhiri hidup sangat kompleks dan berlapis. “Penyebab utama anak nekat mengakhiri hidup adalah perundungan, disusul pola pengasuhan, tekanan ekonomi, pengaruh permainan daring, serta persoalan hubungan asmara,” tegas Diyah Puspitarini.

Hal ini diperkuat oleh pengamatan KPAI bahwa kasus di NTT tidak bisa dipandang semata-mata sebagai persoalan kemiskinan. Ada faktor lain seperti pola pengasuhan dan lingkungan sekolah yang turut berkontribusi.

Psikiater dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), dr. Lahargo Kembaren, mengingatkan bahwa anak-anak di usia 9โ€“10 tahun sudah mulai memahami kematian sebagai sesuatu yang permanen. Namun, pemahaman emosional dan kognitif mereka belum matang. “Saat tertekan, anak mudah sampai pada kesimpulan ekstrem: ‘Kalau aku tidak ada, masalah akan selesai’,” jelasnya.

Tanggung Jawab Siapa?

KPAI menyerukan pemerintah lintas kementerian dan lembaga untuk serius menangani masalah ini. Butuh pencegahan yang masif, bukan hanya sekadar wacana. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, telah merespons dengan menyiapkan layanan psikologi klinis di puskesmas-puskesmas.

Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh 19 Februari 2026, Tarawih Dimulai Rabu Malam

“Kesehatan mental anak memang kita sudah lakukan skrining, ada 10 juta anak yang berisiko (terkena penyakit mental). Nah, sekarang, saya mau menyiapkan ada psikologi klinis di masing-masing puskesmas, supaya penyakit-penyakit jiwa yang selama ini enggak tertangani di rumah sakit, bisa ditangani di puskesmas,” kata Budi Gunadi.

Selain itu, KPAI juga meminta pemerintah daerah melalui pemerintah desa untuk mendata keluarga rentan dan seluruh elemen sekolah. Sekolah wajib memiliki data kerentanan anak, mulai dari kondisi ekonomi, pola asuh, hingga potensi perundungan, agar bisa memitigasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Jangan Abaikan Sinyal Krisis Psikologis Anak

Pihak kepolisian diimbau untuk tidak serta-merta menyimpulkan bahwa anak mengakhiri hidup adalah keputusan pribadi tanpa melihat faktor eksternal. “Anak mengakhiri hidup itu juga korban sesungguhnya karena dia tidak bisa berdaya dengan keadaan,” tegas Diyah.

Jika ada atau orang terdekat mengalami tekanan psikologis, perasaan putus asa, atau pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera cari bantuan profesional. Di Indonesia, layanan kesehatan mental tersedia melalui rumah sakit, puskesmas, dan hotline KemenPPPA SAPA129 (telepon 129 atau WhatsApp 08111-129-129).

(Sumber: Antara News)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *