Sejenak Melepas Penat

Saturday, January 19, 2019

Zenfone Max M2: Smartphone Impianku


Zenfone Max M2
Namaku Damar Pratama Yuwanto (PY). Teman-teman biasa memanggilku Damar Peyek. Aku sekarang duduk di kelas 8 SMP.

Sejak SD aku sudah suka nge-vlog. Aku punya channel Youtube, namanya Damar Peyek. Dari awal bikin video sampai sekarang, aku menggunakan handphone (HP) android jadul peninggalan nenekku saat menggunakan video.

Itu sebabnya aku kadang merasa minder saat mempromosikan channel Youtubeku kepada teman-temanku di sekolah. Beberapa temanku bahkan ada yang mengejek kualitas gambar dari videoku. Maklum HP teman-temanku banyak yang lebih canggih, bahkan mereka membawa sampai dua HP ke sekolah.

Karena kualitas HP-ku nggak bagus, maka aku biasanya meminjam HP ayah atau bundaku untuk nge-vlog. HP kedua orang tuaku memiliki kualitas kamera yang sedikit lebih baik dari kameraku. Walaupun nggak bagus-bagus amat juga.

Tetapi aku tidak leluasa mengunakan HP itu karena ayah membawa HP untuk kerja dan bundaku biasanya tidak mau meminjamkan HP-nya. Aku menginginkan HP baru karena sekilas melihat Youtuber-Youtuber besar memiliki HP dengan kamera yang jernih dan enak untuk ditonton. Aku ingin memiliki HP baru untuk untuk menambah kualitas konten channel Youtubeku dan aku bercita cita memiliki 1.000 subscriber pertama.

 
Vlog Damar Peyek

Namun karena kebutuhan buat pendidikanku dan adikku serta rumah tangga yang makin banyak, ayah dan ibuku belum mau membelikanku HP yang lebih canggih. Itu yang selalu menjadi alasan ayah dan bundaku tak membelikanku HP baru.

Karena itu, sudah beberapa bulan ini aku memilih menabung dari uang jajanku untuk membeli HP baru. Uang jajanku sehari Rp 10 ribu. Sampai saat aku menulis tulisan ini, tabunganku sudah terkumpul sekitar 500 ribu. Tapi sepertinya belum cukup untuk mendapatkan HP sesuai keinginan dan kebutuhanku.

HP yang aku inginkan itu yang kameranya bagus dan gambarnya jernih, tentu yang bagus juga buat ngevlog. Dan sesekali enak buat main game.

Kalau lagi jenuh belajar dan ngevlog, aku memang kadang main game. Karena itu, aku ingin HP yang lebih bagus, loadingnya cepat, dan baterainya tidak cepat habis. Gak kayak HP jadul punyaku. Apalagi layar HP-ku sekarang kecil, lebar layarnya cuma 4 inci.

Dari nyari-nyari di internet, aku menemukan ada HP bagus yang sepertinya cocok buat aku ngevlog dan main game. Aku nggak terlalu ngerti teknologi, tapi yang aku tahu layar HP ini besar, 6,3 inci! Nama mereknya Asus ZenFone Max M2.

HP ini katanya memiliki penampilan berbeda dari generasi sebelumnya dengan adanya notch (poni) di layar, untuk menampung kamera selfie. Wah cocok buat aku yang suka ngevlog.

Selain soal layar yang lumayan besar, dari yang aku baca-baca di blognya Oom Yahya, seorang praktisi dan pemerhati TI, semua kriteria yang aku inginkan dari HP baru ada di Zenfone Max M2.

Resolusi Zenfone Max M2 720 x 1520 piksel. Jelas sudah lebih jernih dari HP-ku sebelumnya. Layar jenis LCD yang diusung dilindungi oleh teknologi Gorilla Glass 6 besutan pabrikan Corning. Zenfone Max M2 menggunakan bodi belakang berbahan logam. Bisa dipastikan HP ini gahar dan nggak rentan cedera. Cocok buat yang suka geradakan dan sembrono kayak aku. Hehehe...

HP keluaran Asus ini punya baterai besar yakni 4.000mAh, layar 19:9 resolusi HD+ dengan sistem operasi (OS) pure Android Oreo 8.1 dibalut dengan antarmuka stock Android yang sangat ringan untuk bermain game.

Kapasitas 4.000 mAh yang diklaim Asus memiliki waktu standby di jaringan 4G selama 33 hari, menonton video selama 21 jam, berselancar di internet menggunakan WiFi selama 22 jam, hingga bermain game selama 8 jam non-stop. Asik...

Max M2 juga punya prosesor terbaru yang kencang tapi hemat energi, yakni Qualcomm Snapdragon 632 CPU octa core 1,8 GHz, dengan konfigurasi RAM 3 GB dan ruang penyimpanan 32 GB. Sebagai informasi, prosesor ini merupakan upgrade dari Qualcomm Snapdragon 625 yang terkenal punya performa tinggi, tetapi hemat daya dan tidak panas. Chip seri 632 ini membuat ZenFone Max M2 tampil dengan performa CPU 40 persen lebih tinggi dan performa grafis 10 persen lebih baik dari smartphone dengan chip seri Snapdragon 626.

Untuk kamera, ZenFone Max M2 mengusung sistem dual-camera berkualitas tinggi untuk hasil foto yang bagus dan juga kualitas audio yang powerful. Kamera dengan sensor beresolusi 13 MP plus aperture lebar f/1.8 yang bisa menghasilkan gambar detail di situasi apapun. Tak ketinggalan pula ada fitur soft-LED flash di samping kamera depan. Wah makin asyik buat ngevlog.

Agar hasil pengambilan gambar tetap stabil dan tidak blur, kamera ZenFone Max M2 juga sudah dilengkapi dengan teknologi Electronic Image Stabilization (EIS). Kamera kedua di ZenFone Max M2 dengan resolusi 2MP merupakan kamera khusus untuk menghasilkan efek bokeh di foto potrait. Kamera ini mampu menghasilkan efek blur pada background yang sangat natural layaknya diambil menggunakan kamera profesional. Mantab bikin aku kian ngiler.

Sementara untuk kamera depan, ZenFone Max M2 mengandalkan resolusi 8MP bukaan f/2.0 dengan sudut pandang 77,2 derajat yang dibekali pula LED Flash. Di punggungnya tersemat sensor sidik jari bulat, tepat di tengah bodi belakang ponsel. Canggih, bro!

Dalam hal konektivitas, ZenFone Max M2 memiliki colokan earphone 3,5 mm, port charging micro USB 2.0, Wi-Fi, Bluetooth, slot micro-SD (slot terpisah), dan slot dual-SIM.

Di Zenfone Max M2 ini, aku kira Asus memberikan alternatif smartphone gaming dan selfie, plus ngevlog, yang harganya relatif lebih terjangkau. Dari data di internet, harga Asus ZenFone Max M2 di Indonesia RAM 3 GB penyimpanan 32 GB sekitar Rp 2,3 juta. Sedangkan, Asus Zenfone Max M2 RAM 4 GB penyimpanan 64 GB: Rp 2,7 juta.

Semoga aku masih bisa ngejar buat beli HP yang sesuai kriteriaku. Memang, tabunganku dari menyisihkan uang jajan masih kurang buat beli HP ini. Tapi siapa tahu ada rezeki nomplok, atau Tuhan mendengarkan doaku sehingga aku bisa lebih cepat dapat Zenfone Max M2 impianku. Amiin.

Friday, January 18, 2019

Ketika Resolusi Pribadi tak Lagi Berarti


Resolusiku Dua Buah Hatiku
Dulu, ketika masih remaja tahun baru mungkin menjadi salah satu momen yang paling saya nantikan. Saya bisa berkumpul bersama teman walau hanya ngobrol sambil makan dan begadang sampai pagi.

Melewati momen pergantian tahun hampir selalu saya lakukan. Walau sejatinya, saya tak benar-benar paham maknanya, selain hanya hura-hura semata.

Dan, seperti teman-teman, membuat sebuah resolusi untuk tahun yang baru pun saya lakukan. Bahkan resolusi itu sering tak hanya satu. Tapi bahkan sampai beberapa.

Yang entah lucu atau ironis, resolusi yang saya buat pun selalu hal yang sama. Dari tahun ke tahun sama, yang sayangnya lagi hampir tak pernah tercapai. Karena seringnya resolusi itu terlupakan. Terhapus bersama berjalannya waktu dan baru kembali teringat ketika momen tahun baru datang lagi.

Mungkin benar teman saya bilang, kalau saya tak sungguh-sungguh dalam membuat resolusi. Makanya sering terlupakan. Atau tekad saya yang kurang kuat untuk mengejar resolusi tahunan yang saya buat.

Namun, seiring berjalannya waktu, kalau saya pikir-pikir lagi mengapa saya mudah melupakan resolusi yang saya buat di awal tahun, mungkin karena semua resolusi yang saya buat hanyalah tempelan belaka. Dangkal dan cenderung absurd.

Diet alias menurunkan berat badan dan menabung lebih banyak supaya bisa jalan-jalan ke tempat-tempat baru dan indah yang belum pernah saya datangi adalah dua resolusi yang selalu saya gaungkan setiap tahun, selain berjanji akan belajar untuk lebih mematuhi diri. Minimal berpakaian dengan lebih baik nggak tabrak motif atau warna.

Hari berganti hari, pun bulan berganti bulan. Diet hanya menjadi rencana karena saya termasuk orang yang doyan makan dan bukan pemilih dalam hal makanan.

Kalau binatang, bisa dibilang saya ini omnivora alias pemakan segala. Jadi, sudah pasti gagal total. Begitu pula dengan urusan menabung. Jelas gagal total juga. Karena ini sangat berkaitan dengan hobi makan saya. Rencana tabungan berubah menjadi tabungan lemak di tubuh. Hiks.

Dan apakah saya menyesali itu? Ternyata tidak. Semakin tua, entah karena usia atau lelah membuat resolusi yang tak pernah tergapai saya berhenti membuat resolusi lagi. Mungkin sudah lebih dari 10 tahun saya tak pernah membuat resolusi tahun baru.

Momen pergantian tahun tetap saya nantikan walaupun tak lagi saya rayakan seperti dulu. Karena bagi saya, tahun baru kini hanyalah momen pergantian kalender belaka. Tak terlalu istimewa lagi. Sudah beberapa tahun belakangan mungkin sejak menikah dan mempunyai dua orang anak (sulung/Damar dan bungsu/Dita), bagi saya tahun baru atau tidak, sama saja tak ada bedanya.

Resolusi hidup tak lagi saya dengungkan setiap tahun. Melainkan setiap hari. Sepanjang tahun. Ya, resolusi hidup saya kini bukan lagi rencana tahunan melainkan rencana hidup sepanjang tahun selama Tuhan masih memberikan saya nafas.

 
Vlog Damar Peyek

Resolusi saya kini adalah resolusi besar yang saya ibaratkan dengan sebuah puzzle di mana setiap kepingnya harus saya susun setiap hari. Hingga nanti bisa menjadi sebuah bentuk yang sempurna.

Anak-anak saya, merekalah resolusi hidup saya kini. Bukan lagi tubuh langsing, fashionable, atau traveling keliling dunia.

Terlebih, ternyata Tuhan menganugerahkan saya seorang anak istimewa. Anak sulung saya adalah penyandang high function autism atau biasa dikenal dengan asperger. Memiliki anak yang unik tentu menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Bagaimana saya harus mentreat dia agar kelak bisa menjalani hidupnya dengan baik. Apalagi kini ia beranjak remaja.

Bagi saya dan suami, dia adalah pekerjaan rumah terbesar bagi kami. Dengan segala keterbatasannya, kami harus bisa menjadikan dia "seseorang". Agar kelak dia bisa mandiri dan tidak menggantungkan hidupnya pada orang lain.

"Memberikan dia skill atau keahlian khusus," itulah pesan psikolog pada kami saat terakhir sesi konsultasi. Setelah berpikir keras menimbang banyak hal, saya pun mencoba mencari tahu berbagai jenis pekerjaan atau profesi yang bisa dilakukan seorang dengan gangguan interaksi sosial dan cenderung memiliki rutinitas yang repetitif seperti sulung saya.

Akhirnya, pilihan jatuh pada rencana memberikan dia skill yang berkaitan dengan digital marketing. Sesuai dengan bakat dan minatnya yang memang terlihat sangat menonjol dalam hal verbal dan dunia pemasaran. Ini sudah terlihat saat saya mengamati Si Sulung yang mulai rajin nge-vlog di Youtube.

Beberapa pekan lalu, saya mencari-cari informasi perihal kursus belajar atau tempat apapun untuk mengasah skill Si Sulung agar kelak lebih bisa mandiri. Setelah berkali-kali googling, akhirnya saya menemukan tempat yang pas buat Si Sulung mengasah skillnya, yakni di DUMET School. Terlihat menarik dan terpercaya apalagi tempat kursus ini menerima siswa mulai dari pelajar, mahasiswa, dosen, staf profesional, pelaku UKM, hingga pemilik bisnis.

Selain tempatnya terlihat nyaman, jadwalnya yang fleksibel tentunya memudahkan saya untuk memilih waktu di tengah kesibukan aktivitas. Bahkan, walaupun yang hadir hanya satu orang tentu, kelas akan tetap dimulai karena kursus ini bersifat semiprivat. Hmm, cocok buat Si Sulung nih.

Belajarnya pun sampai bisa dengan memilih jam kursus sesuai dengan yang kita suka ditambah dengan gratis konsultasi di tengah kendala yang mungkin bisa dijumpai kapan saja. Dan pastinya yang akan didapatkan setelah ini tentu materi dengan ilmu berharga yang bisa dimanfaatkan seumur hidup. Harapan untuk mengasah skill, kecenderungan minat, dan mencari profesi tepat untuk Si Sulung, pun terbuka.

Bagaimana pun saya sangat ingin memberikan dan menjadikan yang terbaik bagi makhluk ciptaan Tuhan yang telah dititipkan kepada saya. Sudah tak ada lagi resolusi yang hanya untuk kesenangan diri sendiri. Semua tentang Sang Buah Hati. Saat ini, itulah resolusi hidup saya.

(Dinar K Dewi)

Tuesday, January 15, 2019

Agar Blog Saya tak Sekadar Terlihat 'Hidup' Lagi

Dinar K Dewi

Saya mengenal dunia blog sejak 2010 silam. Adalah seorang teman yang bekerja di media massa yang memperkenalkan saya dengan media yang kala itu saya tahu bisa dimanfaatkan untuk mencurahkan pikiran dalam bentuk tulisan.

Kebetulan saya memakai platform blog gratisan, blogspot. Cukup mudah untuk menjalankan aplikasi di blogspot. Tak perlu belajar lama, hanya bermodalkan e-mail, saya pun bisa membuat blog sendiri yang sederhana.

Banyak tema yang saya bahas dalam blog saya kali pertama menulis, terutama soal tumbuh kembang anak, karena kebetulan saat itu saya punya momongan yang masih balita, Damar. Kadang saya juga iseng menulis seputar rumah, kesehatan, peluang usaha rumahan, dan gaya hidup.

Mengapa saya senang menulis? Ya karena memang saya suka dan sempat numpang lewat kuliah di jurusan jurnalistik. Tapi cita-cita jadi jurnalis tak kesampaian karena saya memilih untuk tetap berada di rumah dan membesarkan buah hati.

Ada beberapa tulisan yang saya karang sendiri ada pula artikel yang merupakan saduran dari situs lokal maupun luar negeri. Yang jelas tulisan di blog saya kala itu apa saja masuk, gado-gado. Apa saja yang menurut saya menarik, langsung saya upload.

Rasanya senang saja kalau tulisan saya yang sudah diupload, ada yang memberi komentar. Tapi lebih banyak tulisan-tulisan di blog saya yang tak dikomentari pengunjung dibanding yang dikomentari (mungkin belum terlalu menarik ya).

Kala itu, minimal seminggu sekali saya menulis di blog ini. Tentu saya ingin blog saya dikenal banyak orang dan siapa tahu (seperti para blogger yang sudah ngetop), blog saya bisa menghasilkan uang. Istilahnya bisa membantu perekonomian keluarga, membantu suami menambah penghasilan, membantu urusan dapur, minimal buat beli bumbu dapur...

Sempat juga saya ikut forum blogger untuk saling tukar link, tapi lupa namanya yah karena sudah lama. Di forum itu kita kadang bisa menawarkan jasa jualan link. Jadi ada anggota forum yang butuh link blognya dimuat di blog kita. Kalau kita bersedia pasang link, maka kita akan mendapat uang dari jasa pemasangan link tersebut. Jumlahnya tak seberapa, saat itu paling tidak bisa buat beli sekaleng susu anak.

Blog kita akan menarik jika sering dikunjungi dan peringkat Alexa-nya tinggi. Alexa adalah suatu situs yang menyediakan sarana untuk mendapatkan informasi tentang peringkat suatu situs. Beberapa orang mendasari kesuksesan situs atau blog dari bagusnya ranking di Alexa. Semakin kecil nilai Alexarank, maka semakin bagus posisi peringkat blog atau situs di Alexa. Pencapaian peringkat Alexa tertinggi blog saya saat itu sekitar tahun 2010-2011, mencapai posisi 300-an untuk di Indonesia.

Saya sedikit tahu juga soal adsense (dari buku-buku yang saya beli, di tahun itu banyak banget lagi booming buku yang mengupas soal cara dapat uang dari internet/blog). Pernah beberapa kali mencoba memasang adsense tapi belum ada hasil. Mungkin karena traffic blog saya sangat rendah dan kurang menarik ya. Untuk yang satu ini saya hanya bisa gigit jari. Padahal sejak 2011, atas saran teman saya juga, saya sudah mengganti domain saya dengan yang berbayar (.com) supaya terlihat keren.

Tapi sejak tahun itu juga, saya mulai asal-asalan mengisi blog. Asal ada tulisan. Kesibukan saya bertambah karena pada akhir tahun 2011, saya melahirkan anak kedua, Dita. Sementara anak pertama saya sudah masuk jenjang pendidikan SD.

Selain mengurus bayi, di tahun-tahun berikutnya saya juga punya pekerjaan antarjemput Si Sulung ke sekolah. Nyaris tak ada waktu untuk menulis di blog ini lagi (alasan saya sih). Forum-forum blogger pun saya tinggalkan, saya hilangkan (hilang pula penghasilan tambahan dari jualan link, saya tak tahu jualan link sekarang masih menjanjikan atau tidak). Peringkat Alexa blog saya pun anjlok dratis hingga sekarang sudah tak punya peringkat sama sekali. Hiks

Jika ada waktu sedikit, saya isi blog ini sambil lalu saja agar terlihat tetap 'hidup'. Domain saya jatuh pembayaran tiap awal tahun. Setiap perpanjang domain, saya selalu bimbang, blog ini dilanjutkan atau dimatikan saja.

Jika melihat blog ini yang sudah mulai jarang dibaca orang, terlintas di pikiran untuk dimatikan saja. Namun setiap hendak mematikan atau menghapus blog, rasa sayang selalu muncul. Apalagi jika mengingat sudah ada ratusan tulisan di blog itu (kini sebagian besar tulisan yang hanya saduran dari situs lain sudah saya hapus). Jadilah blog ini bertahan terus hingga 2019 ini.

Tapi ya seperti ini, karena jarang diisi dan kalau pun diisi, isinya ala kadar, maka blog ini layaknya museum. Ada tapi sepi pengunjung. Walhasil, domain blog ini pun terus diperpanjang dan tak terasa blog ini sudah berumur sembilan tahun!

Damar Peyek

Awal tahun ini sebenarnya sudah waktunya untuk memperpanjang domain. Kebimbangan kembali menghinggapi, blog ini dihidupkan terus atau dimatikan? Saat kebimbangan menyeruak, si sulung yang kini sudah di bangku SMP suatu ketika tiba-tiba nyeletuk, "Bunda punya blog ya, bagus tampilannya, wah bunda hebat! Tapi kenapa kok jarang diisi, boleh nggak aku ikutan ngisi?"

Jleb...bangga dan sedih. Bangga dipuji anak sendiri, sedih mengingat nasib blog sendiri. Namun pertanyaan Damar membuat semangat saya seperti terlecut kembali.

"Kamu tahu dari mana Mas, kalau Bunda punya blog?" saya pun bertanya. "Dari ayah, ayah yang kasih tahu nama blognya," jawab Damar. "Gimana Bunda, boleh aku bantu isi, buat belajar menulis, nanti sekalian aku promosiin di Instagramku?"

Tak mungkin saya menolak permintaan Si Sulung. Saya tak ingin menyurutkan semangat yang terlihat di pancaran bola matanya. "Baik, Mas. Boleh-boleh, nanti kita hidupkan blog Bunda, nanti akan jadi blog keluarga kita ya."

Damar adalah anak yang periang dan kreatif. Sering kali celetukan-celetukannya yang nyeleneh bisa membuat saya tersenyum bahkan tertawa lebar. Damar dan Dita adalah penyemangat dan inspirasi saya untuk menjalani hari demi hari.

Nah, memasuki tahun 2019, saya pun bertekad untuk menghidupkan kembali blog ini. Bukan sekadar hidup, tapi sebisa mungkin benar benar hidup, kalau perlu (mimpinya kali ya) bisa membantu menghidupi keluarga kecil ini. Apalagi (bukannya kurang bersyukur) gaji suami sebagai karyawan swasta kini bisa dibilang pas-pasan untuk dua anak yang sudah beranjak besar. Saya nggak munafik, siapa hari gini yang tak butuh uang di era modern dengan persaingan hidup yang kian ketat? Ibu rumah tangga mana yang tak ingin mendapatkan penghasilan tambahan meski dari rumah?

Biarlah Si Sulung belajar menulis di blog ini, sementara saya terus menulis juga dan kembali belajar menghasilkan uang dari blog. Saya pun membaca-baca lagi dan makin sering googling untuk mencari tahu apa lagi cara untuk bisa menghasilkan uang dari blog selain jualan link dan adsense (cuma itu yang tahu sejak dulu).

Maklum, saya sudah makin kudet sejak mengurus dua buah hati dan berkutat dengan urusan rumah tangga. Entah saya yang benar-benar kudet atau sebetulnya sudah lama ada, ternyata sejak beberapa tahun terakhir sudah banyak lomba/kompetisi blog yang diadakan banyak pihak, baik perusahaan atau pun pribadi. Wah mengapa peluang ini tak saya manfaatkan dari dulu? Hadiahnya terbilang lumayan mulai dari uang hingga produk-produk digital bahkan motor dan mobil. Wow!

Dari yang saya baca ada pula peluang mendapatkan uang dari endorse. Pemilik merek tertentu bakal mengirimkan produk atau menawarkan jasa yang bisa blogger nikmati secara gratis. Bahkan, tak sedikit blogger atau kini bisa juga disebut narablog yang dibayar untuk mengulasnya di blog. Konon, pemilik merek lebih suka memilih blogger karena ulasan para blogger yang lebih natural. Ulasan di blog terlihat lebih soft-selling ketimbang iklan di media massa. Nah ini yang saya harus coba juga.

Namun semuanya tentu tak akan berjalan lancar jika saya tak serius mengelola blog ini (seperti dulu yang saya anggap gagal). Mungkin semua sudah paham. Kuncinya adalah semangat dan konsistensi. Memang gampang untuk diucapkan atau dituliskan, tapi jelas tak mudah untuk dijalankan, (percayalah!) saya sudah mengalaminya. Dua hal itu, kurangnya semangat dan konsistensi, menjadi akar permasalahan mengapa blog ini sempat mangkrak bertahun-tahun (jangan ditiru ya).

Semoga tahun 2019 ini menjadi momentum saya untuk lebih semangat, konsisten, dan rajin menulis lagi. Apalagi anak-anak sudah besar, sudah bisa sedikit ditinggal-tinggal, saat bundanya sibuk menuangkan buah pikiran dalam blog. Tak hanya itu, kini Damar pun sudah siap menjadi asisten pengelola blog yang bisa diandalkan, salam.

(Dinar K Dewi)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons