Menu
Jedadulu

Membayangkan Berkunjung ke Rumah Pohon Suku Korowai Papua

Foto: Pinterest

Indonesia tersohor dengan keindahan alamnya. Itu sepertinya sudah menjadi rahasia umum ya. Seperti judul lagu gubahan R Suharjo, keindahan bumi Nusantara tersebar mulai mulai dari Sabang (Aceh) sampai Merauke (Papua).

Jika selama ini kami sudah mengunjungi beberapa bagian barat wilayah Indonesia, tak ada salahnya ya kami mencanangkan rencana berkunjung ke wilayah timur sampai ke Papua. Memang hal yang pertama kami pikirkan kala merencanakan destinasi wisata ke Papua adalah ongkos yang bisa dibilang tak murah alias mahal untuk isi kantong kami. Kami pun khawatir kantong dan isi tabungan kami jebol.

Konon, ongkos ke Papua hampir sama atau bahkan lebih mahal dibanding berkunjung ke luar negeri, misalnya ke Jepang atau Korea. Ya mungkin karena jaraknya yang memang jauh dari Jakarta, bisa delapan sampai sepuluh jam perjalanan dengan menggunakan pesawat. Namun kami percaya masih ada beragam celah yang bisa dimanfaatkan untuk berhemat saat berwisata ke sana. Ah itu biar kami sendiri yang memikirkannya.

Meski terkesan mahal di ongkos, kata yang sudah pernah berkunjung sih, semuanya akan terbayar dengan keindahan alam Papua yang masih begitu asri dan cantik sekali. Oia, Papua yang berada di negeri kita sendiri merupakan nama pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland. Dari wikipedia, Papua total luasnya 785.753 km2. Gede banget.

Setelah ngobrol dengan anak-anak, tujuan wisata yang kami bidik di Papua bukanlah yang mainstream seperti Raja Ampat, Lembah Baliem, atau Danau Sentani. Tujuan kami adalah mengunjungi rumah pohon di Papua. Jangan salah, rumah pohon ini bukan rumah pohon biasa, tingginya bisa mencapai 15 hingga 50 meter. Kerennya lagi, ada orang yang tinggal dan menetap di dalamnya.

Orang-orang yang tinggal di rumah pohon itu adalah orang Papua asli, suku Korowai. Suku ini menempati kawasan hutan sekitar 150 kilometer dari Laut Arafura.

Korowai adalah suku yang keberadaannya baru saja ditemukan sekitar 35 tahun lalu di pedalaman Papua oleh misionaris Belanda Johanes Veldhuizen. Suku ini mendiami wilayah Kaibar, Kabupaten Mappi, Papua. Populasi mereka saat ini mencapai sekitar 3.000 orang.

Foto: Flickr

Rumah pohon suku Korowai adalah bangunan yang sangat unik. Suku Korowai membangun rumah di atas pohon supaya tidak terganggu dari serangan binatang buas dan juga gangguan dari roh jahat. Suku ini takut terhadap serangan “laleo” atau iblis yang kejam.

Konon katanya laleo merupakan makhluk yang berjalan layaknya seperti mayat hidup dan berkeliaran pada malam hari. Sebutan laleo ditujukan untuk semua orang asing yang tidak termasuk penduduk mereka, bahkan orang-orang Papua lainnya pun bisa disebut dengan julukan laleo. Mereka percaya bahwa semakin tinggi rumah yang mereka buat, maka akan semakin terhindar dari gangguan laleo.

Terlepas dari segala alasan tersebut, suku Korowai begitu menghargai nenek moyangnya. Oleh karena itu, suku ini juga menganggap bahwa rumah tinggi tersebut merupakan warisan dari leluhur yang harus tetap dilestarikan, sehingga mereka akan tetap merasa nyaman dan aman meskipun harus bersusah payah memanjat pohon yang tinggi.

Bahan yang digunakan untuk membuat rumah pohon tersebut berasal dari wilayah rawa dan hutan di sekitar, seperti kayu, rotan, akar, dan ranting pohon. Bahan-bahan sederhana tersebut disatukan menjadi sebuah rumah yang kokoh.

Dalam pembuatan rumah pohon ini, suku Korowai tidak sembarangan saat memilih pohon. Mereka akan memilih pohon-pohon yang besar dan kokoh untuk dijadikan sebagai pondasi rumahnya, kemudian pucuk pohon tersebut digunduli dan dijadikan sebagai hunian rumah mereka.

Semua bahan yang digunakan untuk pembuatan rumah tinggi ini terbuat dari bahan alami, kerangka rumahnya pun terbuat dari batang-batang kayu kecil, sedangkan lantainya menggunakan cabang pohon. Kemudian, mereka memanfaatkan kulit pohon sagu dan daun hutan sebagai dinding dan atap rumahnya. Setelah itu semua bahan tersebut diikat menggunakan tali yang berasal dari ranting atau akar yang kuat.

Biasanya, pembuatan rumah pohon ini bisa memakan waktu sekitar tujuh hari, karena suku ini masih memegang teguh adat istiadat leluhurnya, sehingga sebelum mendirikan rumah tersebut suku Korowai akan melakukan ritual malam terlebih dahulu guna mengusir roh jahat. Rumah pohon ini biasanya hanya bertahan hingga tiga tahun lamanya, hal tersebut dikarenakan rumah mereka hanya menggunakan bahan-bahan alami saja.

Jika berkunjung ke rumah pohon suku Korowai, dari referensi yang kami baca di EcoNusa, kita harus menyusuri hutan yang masih lebat dan liar. Menjaga kelestarian alam adalah tanggung jawab dari suku Korowai karena suku ini sangat peduli dengan alam Papua.

Sepanjang jalan ke wilayah suku Korowai dapat ditemukan satwa-satwa seperti burung urip atau nuri papua, serangga hutan, kupu-kupu hutan, dan bahkan burung cendrawasih yang berkeliaran bebas di hutan tersebut. Pepohonan besar puluhan meter, terik matahari, serta udara yang sejuk akan mengiringi perjalanan kita.

Perjalanan melelahkan agaknya akan terbayar saat kita menikmati rumah pohon yang terlihat cantik dan menempel di pohon dengan ketinggian 15 hingga 50 meter. Kata orang-orang yang sudah berkunjung, saat sudah berada di dalamnya, kita bisa melihat hamparan hutan yang hijau nan lebat.

Suku Korowai hanya turun dari rumah untuk mencari makanan, seperti buah-buahan dan daging. Uniknya, mereka berburu hanya saat sedang lapar. Selain itu, mereka juga tidak pernah menebang pohon sembarangan dan hanya menebang jika diperlukan secukupnya.

Tidak heran walau sudah ratusan tahun suku Korowai menetap di hutan Papua, namun hutannya masih lebat dan terjaga kelestarian flora dan faunanya. Hmm, inilah yang membuat rasa penasaran kami membuncah. Kami ingin merasakan dan melihat langsung kehidupan suku yang masih primitif dengan budaya tradisionalnya yang penuh kearifan lokal di tengah hutan. Menikmati hutan asli dan orang-orang di dalamnya dengan mata kepala kami sendiri.

(Dinar K Dewi)

Foto: Pinterest Indonesia tersohor dengan keindahan alamnya. Itu sepertinya sudah menjadi rahasia umum ya. Seperti judul lagu gubahan R...
Menulis Indonesia 19 Mar 2020
Jedadulu

Tiket (Cerpen)


(foto ilustrasi: id.techinasia.com)

Oleh Endro Yuwanto

''Yeeem...!''Aku berteriak-teriak memanggil nama pembantu di rumahku. ''Ke mana saja  tu orang, giliran dibutuhkan nggak ada di tempat, huh!'' dengusku kesal.

Pembantu di rumahku yang bernama Iyem itu memang menyebalkan. Tingkah Iyem yang baru berumur enam belas tahun itu sering membuatku kesal. Dandanannya menor dan norak.

Dengan lagaknya yang genit, entah sudah berapa orang penjual makanan yang lewat di depan rumah kepincut dengannya. Mulai dari tukang bakso, tukang siomay, penjual nasi goreng, bahkan tukang kebun tetanggaku dan petugas pencatat PLN, berlomba-lomba mendekatinya.

Aku sering mengeluhkan hal ini kepada mama dan papa, tetapi mereka hanya tersenyum saja. Mereka malah menyuruhku sabar dan memaklumi semua tingkah Si Iyem. Memang sih, kalau soal pekerjaan, pembantuku itu paling sering bisa diandalkan.

Iyem adalah orang pertama yang bangun pagi-pagi di rumahku. Setelah Shalat Subuh, pembantu asal Wonogiri, Jawa Tengah, ini langsung mencuci pakaian, beres-beres rumah, lalu memasak di dapur.
Siang hari, ia tidak pernah tidur. Di kamarnya yang terletak di depan dapur, ia selalu terlihat sibuk menggosok tumpukan baju. Sore hari, Iyem masih sibuk membenahi rumah, mulai dari menyapu, mengepel, sampai menyirami tanaman di halaman rumah.

Tapi, ya itu tadi, tingkahnya selalu membuatku kesal. Pernah pada suatu hari aku mendapatkan beberapa koleksi kasetku hilang. Ketika kutanyakan hal ini pada Rahman dan Rahmin, dua adik kembarku yang masih duduk di bangku SMP, mereka bilang tak tahu menahu.

Sempat terlintas di pikiranku untuk menanyakan ke papa dan mama, tapi tak jadi. Mana mungkin orang seusia mereka menggemari lagu-lagu Westlife, Spice Girl, dan  Britney Spears.

Akhirnya dugaanku jatuh pada Si Iyem. Dan benar, ternyata diam-diam Iyem meminjam kaset kesayanganku itu. ''Maaf Mbak, Iyem belum sempat ngomomg. Mbak kan lagi kuliah,'' dalih Iyem dengan wajah tanpa dosa. Langsung saja emosiku meledak. Hampir seharian omelan dan caci-maki kulayangkan ke pembantu ganjen itu.


***

Sejak saat itu, Si Iyem kularang membenahi kamarku dan 'perang dingin' pun dimulai. Puncaknya terjadi saat aku sedang belajar untuk persiapan menghadapi ujian akhir semester.

Ketika konsentrasi penuh dengan bahan-bahan yang akan diujikan besok, tiba-tiba terdengar suara,''Praaang...! Nyaring sekali.

Konsentrasiku buyar. Aku langsung melompat ke luar kamar. Di dapur, kudapati Iyem tengah membereskan pecahan piring berserakan. Kesabaranku habis, kujambak rambutnya kuat-kuat.

Papa datang mencegah perbuatanku dan menggelandang aku kembali ke kamar. Sepintas kulihat Si Iyem menangis tersedu-sedu. Di kamar, mama menasehatiku untuk tidak terlalu kasar kepada Iyem. ''Kita masih sangat memerlukan tenaganya di sini,'' saran mamaku. Namun, kedongkolanku pada Iyem tak pernah surut.

Sampai kemudian Bulan Ramadhan tiba. Kewajiban bagi seluruh umat Islam yang beriman untuk berpuasa, termasuk seluruh keluargaku. Ketika menjelang lebaran, papa dan mama beserta dua adikku berniat ziarah ke kubur kakek dan nenek di Bogor. Mereka berencana menginap di rumah paman di pinggiran selatan Bogor.

Aku terpaksa tak ikut karena ada kegiatan di kampusku di Depok. Siang hari sepulang dari kampus, aku mendapati rumah dalam keadaan sepi. Tapi aku nggak peduli Iyem ada di mana. Malah aku senang, tanpa gangguan Iyem, aku bisa leluasa menyetel musik dan membaca novel kegemaranku sambil menunggu waktu buka puasa. ''Paling-paling si ganjen itu ngerumpi dengan pembantu sebelah,'' pikirku.

Namun, sampai waktu Shalat Terawih, Iyem belum juga pulang. Aku mulai was-was. ''Di mana kamu, Yem?''  ucapku dalam hati. Pukul sembilan malam, batang-hidungnya belum juga kelihatan. Aku semakin khawatir, belum pernah seumur-umur aku tinggal sendirian di rumah. Apalagi, rumahku besar dan halamannya luas. Jarak rumahku dengan tetangga yang lain lumayan jauh.

''Apa Iyem masih marah denganku, lalu diam-diam pergi meninggalkan rumah?'' pikiran-pikiran buruk berseliweran di benakku. Dalam keadaan seperti itu aku merenung, membayangkan semua perbuatanku terhadap Iyem selama ini. ''Yem, ke mana saja sih kamu?'' keluhku.

Hampir saja aku menangis, ketika bel di rumahku tiba-tiba berdentang. Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh lebih lima belas menit. Rasa takut mulai menjalar, jangan-jangan ada orang jahat yang hendak masuk rumah. Pintu terkuak. Dadaku kian berdebar-debar.


***

Wajah Iyem yang lugu muncul dari balik daun pintu. ''Mbak maaf, Iyem pulang telat.''  Hatiku lega, Iyem akhirnya pulang.

''Sebelum berangkat ke Bogor, Nyonya pesan agar Iyem membelikan Mbak kerupuk udang buat buka puasa dan makan sahur,'' jelas Iyem kemudian. Ternyata, hampir seharian Iyem pergi mencari kerupuk udang kesukaanku. Namun di beberapa tempat, pasokan kerupuk udang kosong.

Iyem mengaku berusaha mencari kerupuk udang sampai ke pinggiran Jakarta. ''Iyem takut Mbak marah sama Iyem,'' ungkap Iyem sembari menundukkan wajahnya. Melihat tingkahnya, aku jadi terharu dan iba.

***

Tiga hari lagi, Lebaran tiba. Seluruh keluargaku bersiap-siap menyambut lebaran termasuk Si Iyem. Dia terlihat sibuk membenahi barang-barang di almari dan mengepak beberapa potong baju kesayangannya ke koper. Iyem berniat pulang kampung besok.

''Kamu sudah beli tiket, Yem?'' tanyaku ketika berada di kamarnya. ''Nggak Mbak, Iyem langsung saja beli di Stasiun Senen,'' jawab Iyem sambil melipat baju yang akan dibawanya.

''Kamu gimana sih Yem, kalau kamu langsung ke stasiun, bakal kesulitan kalau belum beli tiket, orang yang mau pulang kampung membludak,'' jelasku. Kemudian, dari sakuku kukeluarkan tiket bus yang telah aku beli sejak kemarin. ''Lho Mbak, ini kan bus mahal. Iyem nggak mau ah Mbak,'' ujar Iyem saat kuserahkan tiket itu.

''Sudah nggak apa-apa, terima saja nggak baik nolak rejeki,'' jawabku. ''Tapi Mbak..,'' Iyem kelihatan ragu-ragu dan mau menolak.

''Sudahlah pokoknya ambil,'' tukasku kemudian.

Keesokan harinya, seluruh keluargaku mengantar Iyem ke terminal bus. Wajah Iyem terlihat berseri-seri,  mungkin karena sebentar lagi dia akan pulang kampung.

''Hati-hati di jalan ya, Yem. Salam buat bapak dan emak di rumah,'' papaku berpesan sambil membantu Iyem naik ke dalam bus. ''Jangan lama-lama di kampung ya, Yem,'' teriakku ketika bus mulai merangkak. Kulihat Iyem terus melambaikan tangannya sampai bus hilang dari kelokan jalan terminal.


***

Lebaran telah lewat lebih dari seminggu. Namun Iyem belum juga pulang ke rumah. Padahal dia janji lima hari setelah lebaran akan balik.

''Dasar ganjen, ngapain saja sih Iyem, lama-lama di kampung,'' pikirku kesal, karena selama Iyem pulang kampung, hampir seluruh tugasnya di rumah akulah yang mengerjakannya.

Malam hari, dua minggu setelah lebaran, ketika kami sekeluarga berkumpul di depan televisi, tiba-tiba telepon berdering. Papa yang lebih dekat dengan pesawat telepon mengangkatnya.

Wajah papa nampak berkerut. Setelah telepon ditutup, wajah papa kian menegang. Beberapa saat papa terdiam. Lalu papa membuka suara,'' Iyem tidak akan balik ke sini.''

Aku kaget sekali mendengar berita itu. ''Gimana sih Iyem, katanya mau datang, dasar nggak tahu diuntung!'' teriakku kesal.

''Putri kesayangan papa ini bisa tenang tidak?'' tanya papa sambil mengelus rambutku. ''Kita semua harus berdoa untuk Iyem,'' lanjut Papa.

''Memang ada apa dengan Iyem, Pa?'' selaku.

Beberapa saat papa kembali terdiam. Kami tak sabar mendengar kabar Iyem dari papa. ''Bapaknya Iyem tadi interlokal. Dia mengabarkan, bus yang ditumpangi Iyem dari Jakarta mendapat musibah. Bus itu terperosok ke jurang saat melewati Alas Roban. Iyem adalah salah satu penumpang yang menjadi korban dalam kecelakaan itu. Meski sempat dirawat selama lebih dari seminggu, Iyem akhirnya meninggal,'' ujar papa lirih.

Aku terhenyak. ''Iyeeemmm!!! Samar-samar aku ingat, akulah yang membelikan tiket bus nahas itu untuk Iyem. Saat itu juga aku menangis sejadi-jadinya. ''Maafkan Mbak, Yem...''

Ramadhan, 2000

(foto ilustrasi: id.techinasia.com) Oleh Endro Yuwanto ''Yeeem...!''Aku berteriak-teriak memanggil nama pembantu di...
Menulis Indonesia 12 Mar 2020
Jedadulu

Ingin Matahari (Cerpen)


Oleh Endro Yuwanto

Kami tak ingin mengambil bintang bintang itu, meski engkau menawarkan satu yang paling terang. Kami tak ingin bergerak menuju bintang, karena itu terlalu jauh dan tak berarti apa apa bagi kami. Kami terlalu mencintai matahari, bintang terdekat yang selalu menemani dan menyentuh kami sepanjang hari.

Dari pagi hingga petang, ia hadir mencerahkan jalan hidup kami. Ketika malam gulita, ia memantulkan bayangannya pada rembulan untuk menerangi langkah kami. Sedangkan, bintang gemintang, meski berjumlah jutaan bahkan mungkin miliaran, sinarnya terlalu kecil untuk menerangi kehidupan. Mereka juga terlalu jauh. Bahkan sangat jauh, hingga sulit untuk digapai.

‘’Ia akan jadi matahari, Nina,’’ ujarku lembut seraya membelai perut istriku yang sedang mengandung enam bulan.

‘’Ya Mas, ia akan menjadi anak laki laki yang kuat. Anak yang saleh dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia akan menjelma seperti matahari,’’ sahut istriku sembari tersenyum mesra.

Sepanjang sebelas tahun pernikahan kami, mahligai kehidupan kami layaknya sebuah bahtera luas yang indah dan dipenuhi dengan berjuta keindahan. Kami mengayuh biduk dengan semangat cinta yang penuh dan dalam. Sungguh, seakan suatu bentuk kehidupan yang indah terpampang di hadapan kami. Aku dan istriku laksana kijang yang berlari larian di padang rumput hijau yang daun daunnya berkilauan, setelah dipulas cahaya matahari.

Namun kebahagiaan kami terasa belum lengkap lantaran si buah hati belum hadir di antara kami. Kondisi rahim istriku memang lemah sehingga sulit untuk memiliki anak, walaupun itu tak mustahil. Berbagai cara dan pengobatan telah kami lalui demi hadirnya si buah hati.

Tuhan selalu memberi jalan dan harapan bagi umatnya yang selalu berusaha dan berdoa. Tanpa disangka, setelah penantian panjang selama sebelas tahun, matahari akhirnya akan terbit dari rahim istriku. Penantian panjang yang akan menuju akhir beberapa bulan ke depan. Juga penantian terakhir untuk memiliki buah hati setelah sang dokter mengabarkan istriku tak memungkinkan untuk hamil lagi, karena itu berisiko tinggi bagi keselamatan jiwanya. Maka, lantaran kehadirannya yang semakin mencerahkan kehidupan kami, aku dan istriku sepakat akan memberi nama bayi itu dengan nama singkat, ‘Matahari’.

Namun dua pekan kemudian, kebahagiaan kami ternoda. Badai kejam krisis ekonomi tiba tiba mengguncang biduk kami. Krisis ekonomi yang melanda negeri ini memaksaku melepas jabatan sebagai manajer di sebuah pabrik rokok di kota Kudus. Aku menjadi salah satu korban pengurangan tenaga kerja.

Tak hanya itu, rumah dinas yang kami huni selama ini, biduk indah tempat kami mengapung dalam kebahagiaan, terpaksa diambil alih oleh perusahaan. Kabut gelap seakan menyelimuti langkah kami.

Dengan uang pesangon seadanya, kami mencoba bertahan di Kudus. Tapi kota kecil itu seperti tak memberi harapan besar buat kami. Beberapa usaha yang kami jalani kandas di tengah jalan. Lantas, terngiang ucapan seorang kawan, ‘’Di negeri ini, peredaran uang hanya berpusat di ibukota.’’

Keputusasaan dan sebuah pengharapan tentang kehidupan yang lebih baik, akhirnya mengantar kami ke ibukota, ketika kandungan istriku sudah menginjak usia delapan bulan. Di Jakarta, kami mengontrak sebuah rumah petak nan mungil di Cipete, Jakarta Selatan.

***

Hari hari selalu kujalani untuk mencari lowongan pekerjaan yang layak sesuai dengan bidang dan ijazahku dari fakultas teknik, sebuah universitas negeri di Purwokerto. Tak semudah yang kubayangkan. Tak satu pun dari puluhan perusahaan yang kudatangi mengulurkan tangannya.

Di tengah kegalauan yang panjang lantaran beban hidup yang kian menghimpit, terbesit ide yang cukup menantang. Dengan sisa uang pesangan yang masih di genggaman, kudatangi sebuah dealer sepeda motor di Pondok Labu. Aku memberanikan diri mengkredit sebuah motor bekas. Motor kreditan itu akan kujadikan modal. Aku berniat menjadi tukang ojek di sekitar pasar yang tak jauh dari rumah kontrakan.

Setelah memperoleh motor itu, hampir saban hari, kujalankan mesin buatan Jepang itu dari satu tempat ke tempat yang lain. Hampir semua sudut sudut Jakarta Selatan pernah kutelusuri. Panas yang terik dan hujan yang deras adalah teman perjalananku.

Sedikit demi sedikit, aku mampu mengumpulkan uang untuk biaya persalinan anak pertama sekaligus anak terakhirku; anak tunggalku nanti, 'Matahari'. Mungkin lantaran terenyuh dengan kegigihanku mencari sesuap nasi, istriku juga berusaha membantu. Ia berjualan gorengan di depan rumah kontrakan kami. Sungguh, aku terharu melihat kesabaran, kesetiaan, dan ketulusannya.

Di pangkalan ojek, seorang rekan sesama pengojek selalu meresahkanku. Melihat pelanggan yang lebih sering menggunakan jasaku, ia selalu menyindir pedas, ‘’Kamu pakai guna-guna, ya?’’

Aku tersinggung mendengar ucapannya yang juga didengar rekan rekan pengojek lainnya. Aku balas menghardiknya, ‘’Sialan, kalau mau cari rejeki lebih banyak, cari pangkalan lainnya, sana!’’

Mungkin karena iri atau mungkin sakit hati, ia berujar lantang, ‘’Awas, lo. Istrimu sedang hamil tua!’’

Hari berganti hari, aku masih menggeber motorku untuk mencari dan mengantar para pemakai jasa ojek. Tak terasa empat pekan telah berlalu. Istriku akhirnya melahirkan dengan selamat. Seorang bayi lelaki menjadi matahari kami.  Matahati kami yang baru.

Namun, sebulan setelah kelahiran itu, terjadi keganjilan. Kepala anakku semakin hari semakin membesar. Beda dengan bayi-bayi lainnya. Aku resah dan istriku sangat gelisah. Menurut dokter, anakku mengidap tumor ganas di kepalanya. Penyembuhan hanya bisa melalui operasi, tutur sang dokter. Biaya operasinya bisa sampai puluhan juta.

Kami langsung lemas mendengar besarnya biaya yang harus kami tanggung. Dari mana kami harus memperoleh uang sebesar itu? Aku jadi teringat makian rekan ojekku dulu. Ah, aku berusaha membuang jauh pikiran buruk itu.

Enam bulan berselang, kepala anakku kian membesar. Aku kasihan sekali melihat penderitaannya. Untuk tidur pun ia mengalami kesulitan. Makan pun ia harus menggunakan selang.

Entah dari mana datangnya, suatu hari beberapa kru dari sebuah televisi swasta memberikan bantuan biaya operasi anak kami. ‘’Ini dari para pemirsa yang peduli,’’ tutur salah seorang kru.

Dua pekan kemudian, operasi dilangsungkan di sebuah rumah sakit terkenal di pusat kota. Betapa bahagianya kami. Harapan untuk memiliki Matahari sedikit terkuak.

Namun kebahagiaan dan harapan itu hanya sesaat, bahkan sekejab. Tuhan menghendaki lain. Operasi itu gagal! Anak kami satu satunya, yang sangat kami impikan sejak lama, meninggal. Aku berteriak histeris. Istriku menangis sejadi jadinya.

***

Di pemakaman umum di sudut ibu kota, kami menguburkan Matahari. Sembari menabur bunga di pusaranya, istriku bergumam lirih, ‘’Setelah kehidupan ini, masihkah kita bersama lagi, Matahari, menyinari bumi, menerangi hari hari yang sepi, entah akan dibawa ke mana lagi, jiwa ini, Matahari…’’

Rintik rintik air hujan tiba tiba hadir pagi itu membasahi tanah kuburan. Di antara gerimis, kami menangis, menyertai anak pertama dan terakhir kami, yang pergi untuk selama lamanya.

Slipi Jaya, 2001-2004

Oleh Endro Yuwanto Kami tak ingin mengambil bintang bintang itu, meski engkau menawarkan satu yang paling terang. Kami tak ingin berg...
Menulis Indonesia 11 Mar 2020
Jedadulu

Brangkah (Cerpen)



Oleh Endro Yuwanto

“Kau tak bermaksud membunuhku kan, kau…kau tak akan menembakku kan?” Wajah Brangkah nampak pucat, beda sekali dengan tampang sehari-harinya yang tegas, terkesan kejam, dan selalu menyeringai seperti serigala jantan.

Aku hanya tersenyum sinis. Lalu, “Tidak, tidak Brang, aku tak akan menembakmu.” Brangkah kelihatan lega, perlahan-lahan dia mendekatiku.

“Tapi Brang, ingin sekali aku membuat lubang di keningmu!!!”

Brangkah terhenyak dan mundur beberapa langkah. “Gordi…kita teman baik, Gor! Kita partner yang unggul Gor, ingatlah kesuksesan-kesuksesan yang telah kita raih selama ini!”

Brangkah semakin pucat, tak mungkin mundur lagi. Di belakangnya berdiri kokoh tembak pembatas ujung gang yang sepi. Moncong pistol kuarahkan tepat di keningnya yang lebar. Ibu jariku menempel kaku pada pelatuk pistol. Beberapa detik, kurasakan nyawa Brangkah berada di ujung jari kananku.

“Gordi…, jangan!!! Jangan Gor!!! Kita teman baik Gor…!!! Teriakan Brangkah belum habis. Dooooorrrrrr!!!
Tubuh tinggi besar itu roboh bagai pohon asam pinggir jalan yang ditebang. Bola mata Brangkah mendelik tajam menatapku.


***

“Ayo cepat sedikit, pecahkan pakai gagang senapan, goblok!” Prannggg!!! Dengan tergesa-gesa kumasukkan perhiasan-perhiasan yang berkilauan itu ke dalam kantong plastik di tangan kiriku, senapan kugantung di pundak.

“Cepat lari Gor, ada polisi!” Brangkah yang berjaga-jaga di luar toko memberi peringatan. Terdengar bunyi sirene di sekelilingku, aku bergegas lari kencang menyusul Brangkah. Hujan masih saja turun dari langit yang kelam.

“Gimana Gor, dapat banyak?”

“Nih ambil!”

“Hua…ha…ha…ha…kau memang partner yang hebat Gor!”

Tiba-tiba terdengar suara teriakan, “Berhenti, polisi!!!” Entah dari mana datangnya, dua polisi berdiri sekitar lima puluh meter di belakang. Menghadang.

“Gimana ini Brang?” Aku gugup

“Lari saja terus, di ujung jalan ini ada gang-gang kampung yang sempit, kita pasti bisa lolos!”

“Berhenti!!!” Terdengar teriakan kedua polisi itu diselingi tembakan peringatan. Untung, aku dan Brangkah berhasil mencapai lorong gang yang gelap.

“Kita berpencar dulu Gor, telusuri terus selokan ini, nanti kita bertemu di ujung gang!” Perintah Brangkah. Kami berpencar. Aku melesat ke kiri sambil memegang senapan, sedang Brangkah ke kanan sambil membawa kantong hasil rampokan.

Tap, tap, tap…, salah seorang polisi masih terus mengejarku. Aku berlari, terus berlari tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Seberkas cahaya nampak di depan, ujung gang…Bluakkk! Aku mencoba melirik ke belakang. Polisi itu terpeleset, tergelincir jatuh di bibir selokan.

Aku berhenti sesaat untuk memastikan. Tiba-tiba sesuatu memegang pundakku…

“Gor, bagaimana, selamat kan?”

“Uh, kau, bikin kaget saja, tapi lihat, masih ada satu polisi di situ,” Telunjukku mengarah pada polisi yang tadi tergelincir. Dengan susah payah polisi itu berusaha berdiri. Wajahnya tidak terlihat jelas, tertutup oleh jas hujan yang belepotan lumpur. Moncong pistolnya tertuju pada kami.
“Tembak dia Gor, tembak!”

Aku ragu-ragu. “Tembak Gor, sebelum dia menembak kita!”  Senapan telah kuarahkan, tubuh polisi itu masih sempoyongan.  “Cepat Gor, kau kan penembak jitu!!!”
   
Dooorrr!!!

Pistol polisi itu terlepas. Terdengar ia mengaduh sambil memegang lengan kanannya yang berdarah.
“Sekali lagi, Gor!” Brangkah teriak memberi perintah.

Dooorrrr!!!

Polisi itu pun roboh. Darah muncrat keluar dari dadanya yang berlubang.

***

Hujan masih belum juga reda walau malam akan segera menghilang ditelan fajar yang terang. Aku menyulut rokokku yang tinggal sebatang. Menghisapnya dalam-dalam.

“Hua…ha…ha…ha…kita berhasil Gor, sukses besar!” Brangkah tertawa menyeringai, aku melirik sesaat dan kemudian asyik kembali menikmati hangatnya kepulan asap rokok. “Ayo kita bersenang-senang, mau ikut Gor?” Brangkah mencoba mengajak.

“Tidak terima-kasih Brang, aku capek, pengin tidur,’’

‘’Ya sudah aku pergi dulu!”

Tubuh Brangkah yang tinggi besar itu hilang ditelan rumah-rumah kumuh di pinggir kali pekat penuh sampah. Aku menghela napas. Sudah hampir tiga puluh bulan lamanya aku mengenal manusia besar itu. Aku masih ingat ketika menang judi di sebuah rumah bordil. Lawan-lawan mainku yang berjumlah empat orang mencoba merampas hasil kemenanganku. Tentu saja, aku melawan. Beruntunglah, saat itu muncul orang tinggi besar yang membantu pertarunganku; Brangkah.

Aku dan Brangkah kemudian menjadi pasangan garong yang lihai. Perampokan, penodongan, dan pencurian menjadi bagian hidup kami sehari-hari. Hasilnya kami gunakan untuk bersenang-senang, judi, mabuk-mabukkan, dan tentu saja main perempuan.

Ironisnya, bapakku sendiri adalah seorang polisi reserse. Setelah ibu meninggal tiga tahun lalu, kelakukan bapak kian hari semakin aneh. Bapak sering marah-marah dan jarang pulang ke rumah. Bapak sama sekali tidak pernah menghiraukan apalagi memperhatikan aku dan Nining, adikku satu-satunya. Hingga akhirnya  aku gagal meneruskan kuliah dan Nining putus sekolah di sebuah SMA.

Aku tak pernah menceritakan hal-ihwal keluargaku pada Brangkah, yang dua tahun lebih tua dariku. Seingatku, yang Brangkah tahu hanyalah perihal kematian ibuku.

Entah apa yang sedang dilakukan  bapak dan Nining sekarang, aku tak tahu. Aku jarang sekali pulang ke rumah. Di luar, hujan masih menyisakan rintik-rintik. Aku menguap, lalu tertidur pulas.

***

Bruakkk!!!

Pintu terbuka kasar. “Hua...ha…ha...ha…, aku puas hik, aku puas hik, benar-benar hari yang indah hik..hik..hik..”

Aku terbangun setelah mendengar tawa Brangkah yang khas diselingi bau alkohol dari mulutnya.
“Ada apa Brang?” Dengan malas aku bertanya.

“Hik…tadi sehabis minum-minum, hik..hik.. aku mampir di sebuah rumah kosong. Hik..hik..ternyata ada penghuninya. Cantik sekali, mulus, sangat mulus hik..Aku menikmatinya. Lekuk-lekuk tubuh yang sangat merangsang. Dia masih perawan Gor, hik.. hik..sangat mengasyikkan…”

Kulihat Brangkah rebah di ranjang tanpa sempat meneruskan ceritanya. Dia tertidur kelelahan.
Beberapa saat aku terdiam. Kemudian aku beranjak dari ranjang. Iseng-iseng kunyalakan televisi 21 inci, milik kami satu-satunya. Televisi yang kami beli setelah berhasil merampok jutaan rupiah dari sebuah keluarga di Grogol, Jakarta Barat. ‘

Di layar kaca terlihat seorang penyiar wanita menyampaikan berita kriminal.

“Pagi ini, seorang seorang polisi reserse tewas saat mengejar para perampok perhiasan emas di Gang Gelatik, Tanang Abang. Ia mengalami luka di lengan dan dadanya akibat terkena tembakan. Setelah dilakukan visum, polisi yang terbunuh dalam tugas ini adalah sersan Markun Joned…”

Aku terkesiap bagai disembar geledek. “Bapak?!!! Jadi…tadi malam aku telah menembak bapakku sendiri?!”

Udara yang kuhirup di sekitarku seketika pengap. Kepalaku terasa pening. Peluh membasahi sekujur tubuhku. “Bapak…”

Belum hilang semua keterkejutanku, penyiar wanita itu melanjutkan beritanya. “Selanjutnya, seorang wanita berinisial NN diduga korban perkosaan, bunuh diri di rumahnya di Jalan Kembang Baru No 17…”

Mendengar berita itu, tubuhku bergetar, dadaku bergejolak, dan tanganku gemetaran,  “Tidak, tidak Tuhan, tak mungkin! Tidaaakkkkk!!!”

***

“Akan kau bawa ke mana, aku Gor?” Wajah Brangkah masih diselimuti keheranan.

“Sudahlah ikut saja, ada pekerjaan bagus buat kita.’’

Aku menggiring Brangkah menuju gang sempit yang buntu. Malam kian gelap-gulita. Mendung menutupi cahaya bintang dan rembulan. Diam-diam kuselipkan pistol di balik bajuku, pistol yang  tanpa kulihat dipungut Brangkah dari polisi yang terkapar kemarin; bapakku.

“Apa yang kau lakukan Gor, Gordi? Apa salahku?”  Penuh ketakukan Brangkah bertanya ketika pistol kuacungkan tepat di hadapannya.

“Brang, kau yang memerintah aku membunuh bapakku sendiri. Kau juga tega menodai adikku hingga ia mati bunuh diri!!!” Penuh rasa dendam, dengan kegeraman yang sangat, aku siap menarik picu pistol itu.

“Huh, apa-apaan ini, aku benar-benar tidak tahu-menahu, Gor. Percayalah. Bisa jadi itu hanya berita sensasi untuk mengadu-domba kita Gor. Kita partner yang luar-biasa, Gor.’’

Aku tidak mendengar kata-katanya lagi. Beberapa detik kurasakan nyawa Brangkah berada di ujung jari kananku.

Wisma Gelatik, Srengseng Sawah 1996

Oleh Endro Yuwanto “Kau tak bermaksud membunuhku kan, kau…kau tak akan menembakku kan?” Wajah Brangkah nampak pucat, beda sekali den...
Menulis Indonesia 10 Mar 2020
Jedadulu

Bolehkah Aku Mati di Sini? (Cerpen)


Oleh Endro Yuwanto


"Pak, numpang nanya, bolehkah saya mati di sini?"

"Hush, ngomong apa kamu, sana pergi, dasar gendeng! Baru buka pagar sudah diganggu orang sinting!"

Cahaya matahari pagi baru mengintip di ufuk timur. Aku berjalan gontai meninggalkan rumah elite di komplek real estate milik para pejabat di tengah kota metropolitan ini. Rupanya, lelaki setengah baya yang berperut buncit itu tak mengizinkan aku mati di depan rumahnya. Pelan-pelan aku berjalan meninggalkan komplek real estate itu. Aku kembali mengelilingi sudut-sudut kota untuk mencari lokasi yang tepat untuk mati.

Kematian sepenuhnya memang takdir yang di Atas. Bisa saja saat sedang bercengkerama dengan anak-anak dan istri, tiba-tiba saat menguyah permen, kerongkongan tersedak dan akhirnya tak bisa bernafas. Bisa jadi saat bepergian dengan angkutan umum seperti bus ataupun kereta api, kecelakaan merengut nyawa kita. Bisa saja ketika asyik berbelanja atau mengambil duit di bank, perampok datang dan membacok tubuh kita hingga memisahkan nyawa dari raga. Jadi, kematian bisa kapan saja dan di mana saja. Dan, apa salahnya jika aku menentukan lokasi yang tepat untuk kematianku sendiri.

Mati memang takdir yang di Atas. Namun gilanya, berkat kecanggihan teknologi kedokteran, manusia bisa menentukan kematian manusia lainnya. Bulan lalu, dokter di sebuah rumah sakit swasta terkemuka di kota ini menvonis umurku tak akan lama lagi. ''Kemungkinan dua minggu lagi, Pak,'' ujar dokter muda berkacamata minus itu dengan ringannya. Seolah ia sudah bisa meramal kapan manusia yang sedang sakit akan mati.

Umurku mungkin selisih empat atau lima tahun lebih tua dari dokter itu, namun dia sudah bisa memprediksi jalan hidupku. Sungguh tak adil. Kata dia, aku terjangkit penyakit berbahaya dan menular yang sampai sekarang belum ada obat penawarnya. Jika kekebalan tubuhku rentan, usiaku mungkin lebih pendek lagi. Ketika dirunut ke belakang, dokter itu pun tahu, kalau aku pernah melakukan hubungan intim dengan perempuan yang bukan pasangan resmiku alias bukan istriku.

Ya kuakui, aku memang beberapa kali pernah melakukannya saat dinas di luar kota, tanpa sepengetahuan istri. Tapi sungguh, semua kulakukan hanya untuk menghormati rekan-rekan kerjaku yang bersusah-payah memberi fasilitas. Selain itu, tinggal di luar kota selama satu atau dua bulan dan jauh dari istri dan anak-anak jelas membuat aku kesepian. Berhubungan dengan perempuan-perempuan muda itu bisa sedikit mengusir kesepianku. Tentu saja tanpa sedikit pun melibatkan rasa cinta.

Aku memang bersalah. Namun, apakah pantas, jika dokter yang lebih muda dariku itu membeberkan rahasia busukku kepada istriku, setelah aku menceritakan apa yang aku lakukan di luar kota. Dan mungkin istriku juga sudah menceritakan semua aib bapaknya kepada dua putriku yang masih SD. Ketika istri dan mertuaku mengusirku dari rumah, aku pasrah, mungkin ini langkah terbaik untuk menghapus semua kesalahanku.

Namun, dendamku dengan dokter itu semakin mengkristal. Jika dia bisa menentukan kapan aku akan mati, aku tentu juga punya hak untuk menentukan di mana aku akan mati.

***

''Engkong, bolehkah aku mati di depan tokomu?''

"Oalaaah, kamu nggak waras ya, mau mati di depan tokoku? Bagaimana para pelangganku nanti? Pasti mereka pada kabur, tokoku  juga akan jauh dari rezeki. Bisa-bisa aku disangka pembunuh. Kalau mati di sana saja, kuburan!'' cetus pemilik toko, seorang lelaki tua keturunan Tionghoa.

Benar juga kata pemilik toko itu, sebenarnya tepat yang layak mati adalah di kuburan. Namun aku masih ragu, jika mati di sana, siapa yang akan menyaksikanku. Paling para penggali kubur yang langsung membuangku ke liang lahat. Iya kalau langsung dikubur, jika mereka menyelidiki asal-usulku, bisa-bisa mereka melapor ke istriku dan lalu meminta ongkos biaya pemakaman yang lumayan mahal di kota ini. Nama burukku akan selalu dikenang, sudah menyusahkan keluarga, mati pun masih tetap menyusahkan.

Dalam lubuk hatiku, sebenarnya aku ingin mati jauh dari rumah mertua yang selama ini aku tempati bersama istri dan anak-anak. Tapi, jujur saja, aku juga ingin mati di lokasi yang mudah dikenal orang, sehingga berita kematianku bisa menyebar ke seantero kota. Syukur-syukur, istriku mendengar soal kematianku nanti. Tapi aku tak ingin mati di kuburan, itu terlalu biasa.

***

Tinggal dua hari lagi dari jadwal dokter muda yang meramal kematianku. Aku masih rajin mengikuti perkembangan berita di berbagai kota. Selama perjalanan mencari lokasi untuk mati, berita-berita soal kematian akibat bunuh diri dari media cetak dan elektronik semakin sering aku lihat, dengar, dan baca. Bahkan, anak-anak kecil yang berusia belasan tahun juga mulai banyak yang melakukannya. Cara mati gantung diri, mengiris urat nadi hingga putus dengan pisau atau silet, melompat dari gedung bertingkat, dan meminum  racun sudah bukan sesuatu yang aneh lagi. Aku pikir, jika aku mati dengan cara seperti itu, orang-orang sudah tidak terlalu mempedulikan lagi atau bahkan mencemooh dan menganggap angin lalu.

Tentu, aku ingin mati dengan meninggalkan kesan positif bagi istri dan anak-anakku. Aku ingin mereka bersedih dan menangisi kepergianku, dan bukan menyumpah dan bersyukur bila aku telah mati. Aku ingin kematianku indah dan bila mungkin semua orang menaruh iba padaku.

Tak terasa, langkah kakiku sudah menjejak di pelataran  kuburan yang sunyi. Dua orang berbaju gelap tiba-tiba menghampiriku. ''Saya dengar bapak ingin mati ya? Kami bisa menolong bapak, mencari lokasi yang tepat untuk mati,'' ujar salah seorang yang mengenakan topi merah.

''Siapa Anda ini, kenapa berbaik hati membantu saya?'' rasa curiga menghiasi benakku.

''Kami dari kepolisian di kota ini dan sedang berburu buronan yang sulit dikejar, si Kolor Ijo,'' jawab yang lainnya sembari menyalakan rokok  ''Anda tinggal menanggalkan baju dan celana, lalu mengenakan kolor ini, mudah bukan. Saya jamin kematian Anda tidak akan menyakitkan dan kami akan menempatkan jasad Anda di lokasi yang paling indah,'' lanjut dia seraya menyeringai.

Aku terhenyak. Aku bukan orang bodoh! Jelas saja aku menolak kematian dengan cara seperti itu. Namaku akan lebih tercemar dan keesokan harinya menjadi head-line seluruh acara kriminal di televisi yang konon rating-nya sangat tinggi. Istri dan anak-anakku akan semakin membenci dan julukanku akan bertambah menjadi sang pemerkosa. Hih, gila! Dan sebaliknya, dua polisi ini akan mendapat ketenaran lantaran dianggap bisa mengejar dan membunuh sang legenda itu. Enak saja!

''Maaf saya perlu berpikir dulu. Anda-anda sebaiknya menunggu di sini, saya mau merenung di bawah pohon beringin di sudut kuburan itu,'' ujarku lekas. ''Oke boleh-boleh saja, tapi jangan lama-lama ya,'' ujar pria bertopi merah sambil tersenyum menyeringai.

Aku berjalan bergegas meninggalkan dua polisi itu menuju rerimbunan pohon beringin. Dari balik batang pohon, aku mengintip. Dua polisi itu terlihat asyik mengobrol sambil menghisap rokok. Pelan-pelan aku berjalan dengan berjingkat-jingkat. Malam yang gelap tanpa bulan dan bintang, dan juga bangunan cungkup makam yang tinggi, mempermudah diriku untuk menjauh dari pohon beringin. Tinggal selangkah lagi, aku keluar dari kuburan. Kupanjat tembok keliling setinggi 1,5 meter. 'Uuuups!' Aku meloncat ringan diiringi perasaan lega setelah berhasil melarikan diri.

***

Tinggal satu hari lagi dari ramalan dokter. Sekitar 24 jam lagi aku akan mati. Rasa penasaran kian menghinggapi. Hingga hari terakhir, aku belum juga menemukan lokasi yang tepat untuk mati. Ternyata sulit juga mencari lokasi yang tepat untuk mati. Mungkin jika sekadar mati, aku bisa melakukannya di mana saja. Tapi aku ingin kematianku dikenang. Aku berharap dikasihani seluruh orang yang kukenal dan kucintai. Aku ingin mati sebagai pahlawan bukan pecundang.

Pahlawan. Ya pahlawan, selintas gagasan yang cukup masuk akal berkelebat. Aku bisa mati saat dianggap berjasa bagi orang lain. Tentu saja aku harus melakukan sesuatu.  Aku lalu ingat pelacur-pelacur yang membuat segalanya menjadi berantakan seperti ini. ''Merekalah pangkal semua masalah ini,'' gumamku. Aku bergegas menuju lokalisasi di sudut utara kota ini.

***

Tubuh perempuan setengah telanjang itu masih terlentang di atas kasur yang kumal. Sesekali ia mendesah. ''Mas main sekali saja ya? Kalau gitu saya mau pergi nih. Bisa langsung dibayar?'' suara merajuk perempuan bergincu tebal itu membangunkan kesadaranku kembali. Sejak melakukan persetubuhan yang ganjil tadi, aku sudah berniat tak membayar perempuan itu. Bahkan aku sudah merencanakan akan membunuhnya seusai menikmati tubuh mulusnya.

Tapi, tanganku seakan mengenggam sesuatu yang berat saat hendak mengambil pisau lipat yang sengaja aku selipkan di saku celana. Inilah saatnya sebelum aku meninggalkan kamar bordil ini. Jika perempuan itu mati, maka berkuranglah kemaksiatan di kota ini. Paling tidak, lelaki-lelaki yang menjadi korban sepertiku akan berkurang.

Aku menghela napas. Pelan-pelan tanganku merogoh saku celana. Perempuan itu tersenyum. Ia mungkin mengira aku hendak mengambil uang. Dinginnya pisau lipat terasa membekukan genggaman tanganku yang mulai gemeter. Kupandangi lekat-lekat perempuan yang mungkin masih berusia 20 tahunan itu. Pandangannya penuh harap. Aku mencoba menyelami pandangannya sebelum dadanya berlumuran darah.

Keraguan merasukiku. Apakah perempuan ini penyebab segala kejahatan di kota ini dan pantas mati? Mungkinkah dia menjual tubuhnya demi sesuatu yang sebenarnya mulia. Mungkinkah dia sedang kuliah dan butuh biaya. Mungkinkah ibu atau bapaknya sedang sakit keras dan membutuhkan perawatan di rumah sakit. Atau mungkinkah dia melakukan semua itu demi untuk menyekolahkan adik-adiknya yang masih kecil?

Aku semakin bimbang. Samar-samar aku mengingat kisah 'Babad Madjapahit' yang pernah aku baca. Kisah tentang Lembu Sora, berabad-abad yang silam. Kala itu, Rangga Lawe terkulai lemas di tepi sungai, Kebo Anabrang roboh bersimbah darah. Dan Lembu Sora menatap nanar dengan keris terhunus yang masih meneteskan darah berkilat. Lembu Sora tak mengerti siapa yang patut disalahkan. Dua karibnya yang terkapar itu, dirinya, atau bahkan rajanya. Sementara, kehidupan telah menggariskannya. Pantaskah ia menyalahkan kehidupan yang pada akhirnya memberikan kematian. Keris yang masih saja tergenggam di tangan Lembu Sora diangkat tinggi-tinggi dan di arahkan tepat ke jantungnya. Namun keris itu pelan-pelan diturunkannya kembali. Kala itu Lembu Sora menyadari, suatu saat kematian pasti menjemputnya, dengan jalan yang ia sendiri tak akan pernah mengerti.

''Buat Apa pisau itu Mas ?'' lamunanku buyar. Perempuan yang entah siapa namanya dan itu tak penting bagiku, sudah berdiri di hadapanku. Aku sedikit tergagap. ''Eh nggak. Saya salah ambil. Ini uangnya,'' Aku sodorkan beberapa lembar 50 ribu-an dan lantas meninggalkan kamar itu. Langkahku gontai penuh kebingungan dan kebimbangan.

***

Jam di lengan kiriku sudah menunjuk pukul 23.55. Tinggal lima menit lagi aku mungkin akan mati. Detik demi detik seperti berjalan lebih cepat. Suara degup jantungku kian keras berdetak. Suasana serasa sunyi. Bahkan suara binatang-binatang malam pun nyaris tak terdengar. Mendung hitam menutup langit. Kenangan-kenangan masa kecil, remaja, hingga dewasa, lalu menikahi istriku, memiliki anak, dan dosa-dosa yang pernah kulakukan, berkelebat di depan mata. Seperti adegan lamban dalam film. Aku merasa malaikat maut bakal menjemputku. Tanda-tandanya begitu jelas terasa. Mungkin dokter muda itu memang ahli meramalkan nasib.

Tapi, hingga kini aku masih kecewa. Aku merasa gagal menentukan lokasi yang tepat untuk kematianku sendiri. Kini aku berada di tanah lapang di sudut kota. Mungkin ini tempat para pemuda-pemuda kampung bermain bola di waktu sore. Alangkah janggalnya bila aku mati di sini, di tengah lapangan bola. Memang, cukup banyak pemain bola yang mati di tengah lapangan, dan nama mereka harum dikenang sebagai pahlawan olahraga. Tapi, bila nyawaku melayang di sini, orang pasti menyangka aku tewas lantaran mengidap suatu penyakit. Tentu bukan kejadian yang aneh lagi.

Kulirik jam di lengan kiriku. Tinggal dua detik lagi hari akan berganti. Aku memejamkan mata. Satu detik berlalu. Detak jantungku makin nyaring terdengar. Detik berikutnya berlalu. Rasa takut dan was-was bercampur menjadi satu. Aku berharap kematianku indah dan tak menyakitkan.

Tapi, enam puluh detik telah lewat, tak ada tanda-tanda malaikat maut menjemput atau menyinggahi tubuhku.

Jam menunjuk pukul 01.30. Aku belum juga mati.

***

''Ha, ha, ha...,!'' Aku tertawa lega dan puas sekali. Suara tawaku yang keras dan nyaring memantul ke sudut-sudut lapangan. Hingga dinihari telah lewat, malaikat maut ternyata tak mengambil nyawaku. Aku masih segar-bugar. Ramalan dokter muda itu meleset. Aku masih hidup. Aku hidup!

Aku segera berdiri dan membuka mata lebar-lebar. Jam tangan di lengan kiri kulepas dan kubuang jauh-jauh. Sekarang bagiku, bukan saatnya lagi menentukan lokasi yang tepat untuk mati. Saat ini, giliranku untuk menentukan waktu kematian dokter muda yang brengsek itu. Berbekal pisau lipat, aku bergegas menuju rumah sang dokter.

                                          
Slipi Jaya, Maret 2004  

Oleh Endro Yuwanto "Pak, numpang nanya, bolehkah saya mati di sini?" "Hush, ngomong apa kamu, sana pergi, dasar gendeng! Ba...
Menulis Indonesia 1 Mar 2020