Tontonan
Beranda » Berita » Ingin Matahari (Cerpen)

Ingin Matahari (Cerpen)

Oleh Endro Yuwanto

Kami tak ingin mengambil
bintang bintang itu, meski engkau menawarkan satu yang paling terang.
Kami tak ingin bergerak menuju bintang, karena itu terlalu jauh dan tak
berarti apa apa bagi kami. Kami terlalu mencintai matahari, bintang
terdekat yang selalu menemani dan menyentuh kami sepanjang hari.

Dari
pagi hingga petang, ia hadir mencerahkan jalan hidup kami. Ketika malam
gulita, ia memantulkan bayangannya pada rembulan untuk menerangi
langkah kami. Sedangkan, bintang gemintang, meski berjumlah jutaan
bahkan mungkin miliaran, sinarnya terlalu kecil untuk menerangi
kehidupan. Mereka juga terlalu jauh. Bahkan sangat jauh, hingga sulit
untuk digapai.

‘’Ia akan jadi matahari, Nina,’’ ujarku lembut seraya membelai perut istriku yang sedang mengandung enam bulan.

‘’Ya
Mas, ia akan menjadi anak laki laki yang kuat. Anak yang saleh dan
berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia akan menjelma seperti matahari,’’
sahut istriku sembari tersenyum mesra.

10 Karakter Terkuat di Jujutsu Kaisen

Sepanjang
sebelas tahun pernikahan kami, mahligai kehidupan kami layaknya sebuah
bahtera luas yang indah dan dipenuhi dengan berjuta keindahan. Kami
mengayuh biduk dengan semangat cinta yang penuh dan dalam. Sungguh,
seakan suatu bentuk kehidupan yang indah terpampang di hadapan kami. Aku
dan istriku laksana kijang yang berlari larian di padang rumput hijau
yang daun daunnya berkilauan, setelah dipulas cahaya matahari.

Namun
kebahagiaan kami terasa belum lengkap lantaran si buah hati belum hadir
di antara kami. Kondisi rahim istriku memang lemah sehingga sulit untuk
memiliki anak, walaupun itu tak mustahil. Berbagai cara dan pengobatan
telah kami lalui demi hadirnya si buah hati.

Tuhan
selalu memberi jalan dan harapan bagi umatnya yang selalu berusaha dan
berdoa. Tanpa disangka, setelah penantian panjang selama sebelas tahun,
matahari akhirnya akan terbit dari rahim istriku. Penantian panjang yang
akan menuju akhir beberapa bulan ke depan. Juga penantian terakhir
untuk memiliki buah hati setelah sang dokter mengabarkan istriku tak
memungkinkan untuk hamil lagi, karena itu berisiko tinggi bagi
keselamatan jiwanya. Maka, lantaran kehadirannya yang semakin
mencerahkan kehidupan kami, aku dan istriku sepakat akan memberi nama
bayi itu dengan nama singkat, ‘Matahari’.

Namun dua
pekan kemudian, kebahagiaan kami ternoda. Badai kejam krisis ekonomi
tiba tiba mengguncang biduk kami. Krisis ekonomi yang melanda negeri ini
memaksaku melepas jabatan sebagai manajer di sebuah pabrik rokok di
kota Kudus. Aku menjadi salah satu korban pengurangan tenaga kerja.

Tak
hanya itu, rumah dinas yang kami huni selama ini, biduk indah tempat
kami mengapung dalam kebahagiaan, terpaksa diambil alih oleh perusahaan.
Kabut gelap seakan menyelimuti langkah kami.

Webtoon Populer The Remarried Empress Resmi Tamat Setelah 7 Tahun

Dengan
uang pesangon seadanya, kami mencoba bertahan di Kudus. Tapi kota kecil
itu seperti tak memberi harapan besar buat kami. Beberapa usaha yang
kami jalani kandas di tengah jalan. Lantas, terngiang ucapan seorang
kawan, ‘’Di negeri ini, peredaran uang hanya berpusat di ibukota.’’

Keputusasaan
dan sebuah pengharapan tentang kehidupan yang lebih baik, akhirnya
mengantar kami ke ibukota, ketika kandungan istriku sudah menginjak usia
delapan bulan. Di Jakarta, kami mengontrak sebuah rumah petak nan
mungil di Cipete, Jakarta Selatan.

***

Hari
hari selalu kujalani untuk mencari lowongan pekerjaan yang layak sesuai
dengan bidang dan ijazahku dari fakultas teknik, sebuah universitas
negeri di Purwokerto. Tak semudah yang kubayangkan. Tak satu pun dari
puluhan perusahaan yang kudatangi mengulurkan tangannya.

Di
tengah kegalauan yang panjang lantaran beban hidup yang kian
menghimpit, terbesit ide yang cukup menantang. Dengan sisa uang pesangan
yang masih di genggaman, kudatangi sebuah dealer sepeda motor di Pondok
Labu. Aku memberanikan diri mengkredit sebuah motor bekas. Motor
kreditan itu akan kujadikan modal. Aku berniat menjadi tukang ojek di
sekitar pasar yang tak jauh dari rumah kontrakan.

Dragon Ball Super: Beerus Diumumkan, Versi ‘Enhanced’ Siap Tayang Musim Gugur 2026

Setelah
memperoleh motor itu, hampir saban hari, kujalankan mesin buatan Jepang
itu dari satu tempat ke tempat yang lain. Hampir semua sudut sudut
Jakarta Selatan pernah kutelusuri. Panas yang terik dan hujan yang deras
adalah teman perjalananku.

Sedikit demi sedikit, aku
mampu mengumpulkan uang untuk biaya persalinan anak pertama sekaligus
anak terakhirku; anak tunggalku nanti, ‘Matahari’. Mungkin lantaran
terenyuh dengan kegigihanku mencari sesuap nasi, istriku juga berusaha
membantu. Ia berjualan gorengan di depan rumah kontrakan kami. Sungguh,
aku terharu melihat kesabaran, kesetiaan, dan ketulusannya.

Di
pangkalan ojek, seorang rekan sesama pengojek selalu meresahkanku.
Melihat pelanggan yang lebih sering menggunakan jasaku, ia selalu
menyindir pedas, ‘’Kamu pakai guna-guna, ya?’’

Aku
tersinggung mendengar ucapannya yang juga didengar rekan rekan pengojek
lainnya. Aku balas menghardiknya, ‘’Sialan, kalau mau cari rejeki lebih
banyak, cari pangkalan lainnya, sana!’’

Mungkin karena iri atau mungkin sakit hati, ia berujar lantang, ‘’Awas, lo. Istrimu sedang hamil tua!’’

Hari
berganti hari, aku masih menggeber motorku untuk mencari dan mengantar
para pemakai jasa ojek. Tak terasa empat pekan telah berlalu. Istriku
akhirnya melahirkan dengan selamat. Seorang bayi lelaki menjadi matahari
kami.  Matahati kami yang baru.

Namun, sebulan setelah
kelahiran itu, terjadi keganjilan. Kepala anakku semakin hari semakin
membesar. Beda dengan bayi-bayi lainnya. Aku resah dan istriku sangat
gelisah. Menurut dokter, anakku mengidap tumor ganas di kepalanya.
Penyembuhan hanya bisa melalui operasi, tutur sang dokter. Biaya
operasinya bisa sampai puluhan juta.

Kami langsung
lemas mendengar besarnya biaya yang harus kami tanggung. Dari mana kami
harus memperoleh uang sebesar itu? Aku jadi teringat makian rekan ojekku
dulu. Ah, aku berusaha membuang jauh pikiran buruk itu.

Enam
bulan berselang, kepala anakku kian membesar. Aku kasihan sekali
melihat penderitaannya. Untuk tidur pun ia mengalami kesulitan. Makan
pun ia harus menggunakan selang.

Entah dari mana
datangnya, suatu hari beberapa kru dari sebuah televisi swasta
memberikan bantuan biaya operasi anak kami. ‘’Ini dari para pemirsa yang
peduli,’’ tutur salah seorang kru.

Dua pekan kemudian,
operasi dilangsungkan di sebuah rumah sakit terkenal di pusat kota.
Betapa bahagianya kami. Harapan untuk memiliki Matahari sedikit terkuak.

Namun
kebahagiaan dan harapan itu hanya sesaat, bahkan sekejab. Tuhan
menghendaki lain. Operasi itu gagal! Anak kami satu satunya, yang sangat
kami impikan sejak lama, meninggal. Aku berteriak histeris. Istriku
menangis sejadi jadinya.

***

Di
pemakaman umum di sudut ibu kota, kami menguburkan Matahari. Sembari
menabur bunga di pusaranya, istriku bergumam lirih, ‘’Setelah kehidupan
ini, masihkah kita bersama lagi, Matahari, menyinari bumi, menerangi
hari hari yang sepi, entah akan dibawa ke mana lagi, jiwa ini,
Matahari…’’

Rintik rintik air hujan tiba tiba hadir
pagi itu membasahi tanah kuburan. Di antara gerimis, kami menangis,
menyertai anak pertama dan terakhir kami, yang pergi untuk selama
lamanya.

Slipi Jaya, 2001-2004

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *