Momen
Beranda » Berita » Dorong Impact Investing Jadi Instrumen Pemerataan, Amartha-CELIOS Luncurkan Fintech Media Toolkit

Dorong Impact Investing Jadi Instrumen Pemerataan, Amartha-CELIOS Luncurkan Fintech Media Toolkit

Amartha dan Center of Economic and Law Studies (CELIOS) meluncurkan Financial Technology (Fintech) Media Toolkit, Selasa (5/3/2024). (Foto: Dok. Amartha)
Amartha dan Center of Economic and Law Studies (CELIOS) meluncurkan Financial Technology (Fintech) Media Toolkit, Selasa (5/3/2024). (Foto: Dok. Amartha)

BISNIS — Masyarakat akar rumput di Indonesia yang belum terlayani oleh layanan keuangan formal memiliki potensi pertumbuhan untuk lebih produktif jika mendapatkan akses yang setara terhadap layanan keuangan. Dengan akses permodalan, segmen akar rumput berpeluang untuk mengembangkan usaha ultra mikro dan meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

Merujuk data Bank Dunia, sekitar 97,74 juta orang dewasa di Indonesia masuk kategori unbanked. Ini artinya setara dengan 48 persen populasi dewasa di dalam negeri.

Sulitnya mengakses pembiayaan menjadi tantangan bagi segmen akar rumput dalam memulai usaha. Survei Bank Indonesia (BI) 2020 menunjukkan sekitar 69,5 persen UMKM masih belum memiliki akses kredit perbankan. Padahal, UMKM segmen akar rumput adalah kelompok yang memiliki resiliensi tinggi untuk menopang pertumbuhan perekonomian riil Indonesia.

Hal ini dibuktikan Amartha melalui Sustainability Report 2022, di mana mitra UMKM Amartha masih mampu meningkatkan pendapatan keluarga sebesar 70 persen meskipun mengalami tantangan semasa pandemi.

Kredit menjadi salah satu instrumen yang banyak dipilih sebagai alat memperlancar konsumsi. Sumber keuangan informal, seperti teman, keluarga, bahkan termasuk rentenir masih menjadi sumber penambahan pembiayaan khususnya bagi kelompok masyarakat menengah ke bawah.

Istora Bergemuruh! Alwi Farhan Juara Indonesia Masters 2026, Tunggal Putra RI Akhirnya Bangkit

Di sinilah, financial technology (fintech) menyediakan solusi inovatif dengan menawarkan kemudahan akses layanan keuangan agar mendorong inklusivitas keuangan lebih merata. Salah satunya adalah penyediaan layanan keuangan bagi masyarakat akar rumput yang memiliki usaha kecil dan ultra mikro, tetapi selama ini tidak dapat mengakses layanan keuangan secara mudah dan aman.

Melihat peran besar fintech ini, Amartha, prosperity platform yang berfokus pada penyediaan layanan keuangan inklusif untuk segmen ultra mikro di pedesaan, menjalin kolaborasi dengan Center of Economic and Law Studies (CELIOS), lembaga riset yang bergerak dalam lingkup analisis makro-ekonomi, kebijakan publik, ekonomi berkelanjutan, dan ekonomi digital meluncurkan Financial Technology (Fintech) Media Toolkit.

Ditemui di kegiatan "Fintech Journalists: Menjelajahi Dampak Fintech Melalui Lensa Jurnalistik, Selasa (5/3/2024), Chief Risk and Sustainability Officer Amartha Aria Widyanto menjelaskan tujuan dari kegiatan peluncuran tersebut.

“Amartha dan CELIOS meluncurkan Fintech Media Toolkit sebagai wujud advokasi perkuat pemahaman publik terhadap fintech sebagai penyedia layanan keuangan mikro berbasis teknologi yang mampu mensejahterakan masyarakat secara merata dan inklusif. Penyaluran kredit mikro Amartha sendiri tujuan utamanya adalah mendukung segmen akar rumput agar produktif sekaligus mendorong pemerataan kesejahteraan di wilayah rural,” ujar Aria.

Sustainability Report Amartha 2022 menunjukkan layanan keuangan bagi segmen akar rumput yang produktif akan mendukung pemerataan kesejahteraan dan mempercepat inklusivitas keuangan Indonesia. Lanskap fintech Indonesia sendiri memang menunjukkan perkembangan pesat dengan hadirnya beragam layanan. Tren peningkatan volume penyaluran pinjaman secara digital atau online (pinjol) dari Januari 2020 hingga September 2023 tercatat Rp 21 triliun.

Fotografer Pendiri Ruang Seni MES 56 Jim Allen Abel Tutup Usia di Bandung

Menurut Aria, Fintech Media Toolkit merekomendasikan empat aspek sebagai pedoman penguatan pembiayaan UMKM, meliputi: pertama, peningkatan peran dan pemanfaatan Fintech, kedua, peningkatan resiliensi UMKM khususnya dalam masa krisis, ketiga, perlunya membantu UMKM dalam transisi hijau, dan keempat, perlunya ketersediaan data granular UMKM untuk membantu UMKM mengakses pembiayaan.

Adapun Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira menyatakan, Fintech Media Toolkit ini merangkum berbagai konsep, inisiatif, strategi, dan kisah lapangan fintech di segmen akar rumput produktif, sebagai alat bantu tingkatkan public awareness. "Penguatan industri fintech dapat diawali dengan penguatan fase credit scoring, sebagai upaya mitigasi risiko untuk menjaga kualitas penyaluran kredit mikro yang sehat," jelas dia.

Sebagai contoh, sambung Bhima, Amartha mengoptimalkan penggunaan risk-profiling berbasis AI (kecerdasan buatan) agar lebih akurat untuk memitigasi risiko, serta menjaga kualitas pinjaman ke UMKM. "Hal tersebut merupakan standar yang sangat baik di industri,” ungkap dia.

Baca selanjutnya…


Bhima melanjutkan, misi akhirnya adalah mendorong peningkatan pemahaman publik yang lebih positif dan mengajak turut berpartisipasi dalam gerakan kolektif “impact investing”. Masyarakat umum, terutama generasi muda, sambung dia, dapat berpartisipasi aktif mendukung fintech segmen akar rumput sektor produktif dengan berpartisipasi melalui “impact investing".

Duka Musik Indonesia, Lucky Widja Vokalis Element Meninggal Dunia di Usia 49 Tahun

Salah satu kegiatan "Fintech Journalists: Menjelajahi Dampak Fintech Melalui Lensa Jurnalistik, Selasa (5/3/2024). (Foto: republika.co.id)
Salah satu kegiatan "Fintech Journalists: Menjelajahi Dampak Fintech Melalui Lensa Jurnalistik, Selasa (5/3/2024). (Foto: republika.co.id)

Aria menimpali, impact investing atau investasi berdampak merupakan salah satu strategi investasi yang tidak hanya memberikan keuntungan finansial terhadap para investor, tetapi juga turut berkontribusi dalam memberikan dampak sosial maupun lingkungan yang lebih luas dan positif. Kemitraan strategis antara sektor swasta, pemerintah, dan lembaga keuangan menjadi landasan pentingdalam membentuk ekosistem yang mendukung pertumbuhan impact investing.

Aria menambahkan, salah satu case study yang mengemuka adalah perjalanan Amartha mendukung impact investing secara berkelanjutan. Sejak didirikan pada 2010, Amartha berkontribusi pada kelompok-kelompok yang rentan di Indonesia seperti anak-anak dan para perempuan. Amartha menjembatani para pemilik modal baik dari individu hingga institusi berskala global untuk menyalurkan permodalan berkelanjutan kepada UMKM akar rumput di wilayah rural. Tujuannya adalah pemerataan kesejahteraan.

“Melalui bisnis modelnya, Amartha memberikan akses pendidikan di sektor formal maupun informal, mendorong pemerataan digitalisasi untuk sektor pendidikan di wilayah pedesaan, hingga mendorong para perempuan di wilayah pinggiran pedesaan untuk lebih berdaya secara ekonomi dan keberlanjutan,” kata Aria menandaskan.

Adapun PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) didirikan pada tahun 2010 sebagai perusahaan microfinance. Pada tahun 2016 Amartha bertransformasi menjadi perusahaan teknologi finansial dan memiliki izin di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Amartha merupakan prosperity platform dengan misi menghadirkan layanan keuangan digital inklusif kepada komunitas akar rumput dan dunia melalui teknologi, inklusivitas, dan keberlanjutan. Amartha telah menyalurkan modal kerja lebih dari Rp 17.3 triliun kepada lebih dari 2.1 juta UKM yang dipimpin perempuan di 72 ribu desa di Indonesia.