JEDADULU.COM — Salah satu alasan utama mengapa Dragon Ball karya Akira Toriyama mampu bertahan lintas generasi adalah deretan karakternya yang ikonik dan mudah dicintai. Serial ini dipenuhi sosok berhati murni yang rela berkorban demi kebaikan, sekaligus terkenal dengan redemption arc—perjalanan tokoh jahat yang berubah menjadi pahlawan.
Namun, tidak semua penebusan dalam Dragon Ball terasa alami atau memuaskan. Beberapa justru tampak janggal dan mengikis kekuatan karakter itu sendiri.
Dikutip dari CBR, Rabu (21/1/2026) banyak pahlawan terkuat Dragon Ball—seperti Piccolo, Vegeta, Android 18, hingga Majin Buu—awalnya adalah musuh yang berniat menghancurkan dunia. Dalam beberapa kasus, penebusan mereka justru melahirkan momen terbaik dalam cerita. Namun, ada pula karakter yang redemption arc-nya terasa dipaksakan atau tidak perlu sama sekali.
Pilaf Gang: Dari Penjahat Utama Jadi Badut Cerita
Emperor Pilaf, Shu, dan Mai, yang dikenal sebagai Pilaf Gang, adalah antagonis pertama dalam sejarah Dragon Ball. Mereka terus menjadi gangguan berulang sepanjang seri klasik, bahkan Pilaf berperan besar dalam membebaskan King Piccolo. Dengan rekam jejak seburuk itu, aneh rasanya melihat mereka “dimaafkan” begitu saja.
Di Dragon Ball Super, Pilaf Gang dirombak menjadi karakter komedi murni. Lebih aneh lagi, mereka berubah menjadi anak-anak akibat permintaan Dragon Ball yang ceroboh—sebuah kejadian penting yang bahkan tidak diperlihatkan di layar. Goku pun sama sekali tidak mengingat masa lalunya dengan mereka, sementara mantan musuh ini kini santai membantu para Z-Fighter. Perubahan ini terasa lebih seperti lelucon daripada perkembangan karakter yang bermakna.
Chiaotzu Kehilangan Potensi Setelah Menjadi Baik
Turnamen Dunia ke-22 sering dianggap sebagai salah satu puncak Dragon Ball klasik, berkat rivalitas Goku dan Krillin dengan murid Crane School, yakni Tien dan Chiaotzu. Setelah menyadari manipulasi Master Shen, keduanya berpihak pada Goku. Namun, berbeda dengan Tien, Chiaotzu nyaris tidak berkembang setelah itu.
Padahal, akan jauh lebih menarik jika Chiaotzu tetap berada di sisi gelap. Ia bisa menjadi bayangan masa lalu Tien—pengingat kegagalan dan pilihan keliru. Dengan kemampuan psikisnya, Chiaotzu berpotensi menjadi antagonis berbahaya yang benar-benar unik, alih-alih karakter pendukung yang terlupakan.
Gamma 1: Penebusan yang Terlalu Aman
Dalam film Dragon Ball Super: Super Hero, Android Gamma 1 dan Gamma 2 diciptakan dengan niat baik, namun dimanipulasi untuk memerangi Z-Fighter. Kisah mereka sebenarnya tragis dan manusiawi. Film berakhir dengan pengorbanan Gamma 2, sementara Gamma 1 bertahan hidup dan bergabung dengan Capsule Corporation.
Masalahnya, Dragon Ball tampaknya tidak membutuhkan satu Android super kuat lagi. Cerita ini justru akan lebih kuat jika kedua Gamma gugur, dan Dr. Hedo saja yang mendapatkan penebusan. Dengan begitu, tragedi mereka akan meninggalkan dampak emosional yang lebih besar.
Beerus Terlalu Ramah untuk Seorang Dewa Kehancuran
Kehadiran Beerus, Dewa Kehancuran Semesta 7, awalnya membawa ketegangan besar dan memperluas skala dunia Dragon Ball. Namun seiring waktu, Beerus berubah menjadi figur santai dan komedi, bahkan bertindak seperti mentor bagi Goku dan Vegeta.
Padahal, Dewa Kehancuran seharusnya menjadi sosok yang ditakuti, bukan diajak makan bersama. Jika Beerus tetap menjaga aura ancamannya, Dragon Ball bisa menciptakan konflik yang lebih dalam—terutama terkait masa lalu Vegeta dan kehancuran Planet Vegeta.
Nuova Shenron: Kedalaman yang Terlalu Singkat
Dragon Ball GT mungkin kontroversial, tetapi ide Shadow Dragons adalah salah satu konsep terbaiknya. Mereka lahir dari penyalahgunaan Dragon Balls selama bertahun-tahun. Di antara mereka, Nuova Shenron tampil berbeda karena memiliki kehormatan dan bahkan membantu Goku.
Sayangnya, penebusan Nuova Shenron terjadi terlalu cepat dan tidak sempat dieksplorasi. Alih-alih memperkuat pesan moral Shadow Dragons, konflik batinnya justru terasa sebagai alat cerita sesaat.
Majin Kuu & Duu: Kesempatan yang Terbuang untuk Teror Majin
Dalam Dragon Ball DAIMA, Majin Kuu dan Majin Duu diciptakan sebagai pion Demon King Gomah. Meski kuat, mereka justru digambarkan kekanak-kanakan dan lebih tertarik pada camilan serta hiburan.
Alih-alih menjadi ancaman mengerikan, keduanya malah membantu Goku. Karakter ini memang populer, tetapi Dragon Ball kehilangan kesempatan untuk mengingatkan penonton bahwa Majin seharusnya adalah agen kekacauan yang benar-benar menakutkan, seperti Kid Buu dulu.
Frieza: Kerja Sama yang tak Pernah Terasa Alami
Sebagai antagonis utama Dragon Ball, Frieza terus dihidupkan kembali. Puncaknya terjadi di Tournament of Power, ketika Goku justru merekrut Frieza sebagai anggota tim Semesta 7.
Meskipun menegangkan, kerja sama ini terasa janggal. Frieza akhirnya “dihadiahi” kebangkitannya, dan diperlakukan hampir seperti pahlawan. Keputusan ini hanya membuka jalan bagi kehancuran yang lebih besar di masa depan, sekaligus melemahkan status Frieza sebagai simbol kejahatan murni.
Dragon Ball memang identik dengan penebusan, tetapi tidak semua redemption arc diciptakan setara. Beberapa karakter justru lebih kuat dan menarik ketika tetap berada di sisi gelap. Di situlah letak dilema Dragon Ball modern: antara menjaga nuansa ringan dan berani mempertahankan ancaman sejati.
(***)

Komentar