JEDADULU.COM — Nama Kezia Syifa mendadak ramai dibicarakan di media sosial (medsos). Perempuan berhijab asal Tangerang itu viral setelah diketahui resmi bergabung sebagai anggota militer Amerika Serikat. Bukan karena sensasi, melainkan karena kisah hidupnya yang dinilai tak biasa dan penuh makna.
Momen perpisahan Syifa dengan keluarganya di sebuah bandara menjadi awal cerita yang menyentuh banyak orang. Dalam video yang beredar pada Rabu (21/1/2026), perempuan berusia 20 tahun itu tampak berdiri tegap dengan mata berkaca-kaca, mengenakan hijab, bersiap memulai babak baru sebagai bagian dari Maryland Army National Guard.
Syifa diketahui merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) yang sejak 2023 menetap di Maryland bersama keluarganya. Pada 2025, wanita yang kini berusia 20 tahun itu resmi diterima sebagai anggota militer Amerika Serikat melalui jalur legal dan prosedural, dengan status permanent resident (Green Card).
Bertugas di Logistik, Bukan Pasukan Tempur
Berbeda dari anggapan sebagian warganet, Syifa tidak bertugas sebagai pasukan tempur. Ia mengemban posisi MOS 92A (Automated Logistical Specialist), bidang yang berfokus pada manajemen logistik militer, mulai dari pendataan hingga distribusi perlengkapan.
Dalam dunia militer, peran logistik kerap disebut sebagai ‘urat nadi’ operasional. Tanpa sistem logistik yang rapi, pasukan di lapangan tak akan bisa bergerak maksimal.
“Tanpa logistik, tentara cuma barisan orang berseragam,” tulis salah satu warganet dalam kolom komentar yang ikut viral.
Tetap Berhijab Saat Bertugas
Salah satu hal yang paling menyedot perhatian publik adalah keputusan Syifa untuk tetap mengenakan hijab saat menjalankan tugas militer. Hal ini dimungkinkan karena kebijakan inklusif militer Amerika Serikat yang memberi ruang bagi anggota dengan latar belakang keyakinan tertentu.
Fakta ini memicu beragam reaksi. Banyak warganet menyebut kisah Syifa sebagai simbol bahwa identitas dan profesionalisme bisa berjalan beriringan.
“Bangga banget lihat hijaber bisa menembus sistem global tanpa harus kehilangan jati diri,” tulis seorang pengguna Instagram.
Namun, tak sedikit pula yang melontarkan kritik dan pertanyaan, terutama soal loyalitas dan status kewarganegaraan.
Klarifikasi Keluarga
Menanggapi berbagai spekulasi, Safitri, ibu Syifa, menegaskan bahwa putrinya mengikuti seluruh proses secara resmi. Video perpisahan yang diunggah ke media sosial, menurutnya, murni dokumentasi keluarga, bukan upaya mencari sensasi. “Semua lewat jalur legal, tidak ada yang ditutup-tutupi,” ujarnya dalam keterangan yang beredar.
Hingga kini, Syifa masih menjalani masa pelatihan. Informasi yang beredar di publik pun terbatas pada data dasar: usia, asal daerah, domisili, dan penempatan tugas.
Pro-Kontra di Media Sosial
Seiring viralnya kisah Syifa, perdebatan pun mengemuka. Ada yang melihatnya sebagai inspirasi hijaber muda yang berani bermimpi besar, adapula yang menyayangkan fenomena putra-putri Indonesia memilih berkarier di luar negeri.
Beberapa warganet bahkan mengaitkan kisah Syifa dengan isu sulitnya masuk institusi tertentu di dalam negeri, hingga perbandingan yang bernada satir terhadap kondisi politik nasional.
Meski demikian, di balik hiruk-pikuk komentar, satu pesan tampak menguat: “mimpi tidak selalu harus dikerdilkan oleh batas geografis maupun stereotip”.
Kezia Syifa mungkin tidak mengangkat senjata di garis depan, tetapi kisahnya telah mengangkat diskusi besar tentang identitas, kesempatan, dan pilihan hidup di era global. Sebuah cerita yang lebih dari sekadar viral—melainkan cermin bagi banyak generasi muda.
(***)

Komentar