JEDADULU.COM — Di banyak ruang kelas, pelajaran sains sering terasa rumit. Rumus demi rumus harus dihafal, sementara proses di baliknya hanya bisa dibayangkan. Tak heran, konsep seperti teori kinetik gas kerapkali membuat siswa mengernyitkan dahi. Namun suasana itu mulai berubah sejak Papan Interaktif Digital (PID) hadir di sekolah.
Lewat layar sentuh berukuran besar, siswa kini bisa melihat langsung bagaimana partikel bergerak, saling bergesekan, hingga memunculkan tekanan dalam suatu sistem. Pelajaran yang dulu abstrak, kini tampil dalam bentuk visual yang mudah dipahami.
Bagi banyak siswa, pelajaran sains sering identik dengan rumus panjang, hitungan, dan konsep yang sulit dibayangkan. Tak heran jika Fisika, Kimia, atau Biologi kerap dianggap sebagai mata pelajaran “berat”. Namun, suasana itu mulai berubah sejak PID hadir di ruang kelas.
Di sejumlah sekolah di Sumatra Selatan, papan digital ini mengubah cara belajar menjadi lebih visual dan interaktif. Siswa tak lagi hanya menatap papan tulis, tetapi bisa melihat simulasi langsung, animasi, hingga eksperimen virtual yang membuat materi terasa lebih nyata.
“Sekarang belajarnya lebih seru, kayak nonton tapi sambil mikir,” kata Rizqa Kamila, siswa SMAN 1 Indralaya. Ia mengaku lebih mudah memahami materi karena bisa melihat langsung proses yang sebelumnya hanya ada di buku.
Hal serupa dirasakan Rifki Abian, siswa kelas X SMAN 1 Indralaya. Menurutnya, visualisasi membuat pelajaran lebih melekat di ingatan. “Kalau cuma rumus suka cepat lupa. Tapi kalau sudah lihat simulasinya, jadi lebih kebayang,” ujarnya.
Dari sisi guru, PID juga membawa suasana baru di kelas. Kepala SMAN 1 Indralaya, Pudyo Laksono, menyebut papan digital membantu menghidupkan diskusi. “Siswa jadi lebih aktif bertanya dan penasaran. Kelas terasa lebih hidup,” jelasnya.
Tak hanya di SMA, pemanfaatan PID juga dirasakan di tingkat SMP dan SD. Kepala SMPN 1 Lubuk Liat, Marion, menilai siswa cepat beradaptasi karena tampilannya mirip gadget yang sehari-hari mereka gunakan. “Anak-anak lebih percaya diri karena sudah familiar dengan sistemnya,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala SDN 6 Pemulutan Barat, Desi Huswinda, melihat teknologi ini membuat suasana kelas lebih menyenangkan. “Anak-anak jadi lebih fokus dan tidak cepat bosan. Belajar terasa seperti bermain,” tuturnya.
Program Digitalisasi Pembelajaran dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ini bukan hanya soal menghadirkan perangkat, tetapi juga tentang menghadirkan pengalaman belajar yang lebih relevan dengan gaya hidup generasi digital.
Kini, ruang kelas tak lagi sekadar tempat mencatat dan menghafal. Dengan sentuhan teknologi, belajar sains berubah menjadi pengalaman yang lebih visual, interaktif, dan—yang terpenting—lebih menyenangkan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan, digitalisasi pembelajaran bukan sekadar pengadaan perangkat. Program ini menjangkau lebih dari 288 ribu satuan pendidikan di Indonesia, termasuk daerah terpencil yang turut dibekali listrik dan jaringan internet satelit.
Dengan pendekatan ini, teknologi hadir bukan sebagai tujuan, melainkan jembatan agar siswa lebih memahami sains secara utuh—bukan hanya hafal rumus, tetapi benar-benar “ngeh” prosesnya. Selain itu, dengan pendekatan visual dan interaktif, papan digital perlahan menggeser cara belajar lama. Kini siswa diajak benar-benar memahami sains lewat pengalaman di kelas.
(***)

Komentar