Tontonan
Beranda ยป Berita ยป Killing Me Inside Re:union Kembali dengan Lagu Baru, Onad: Ini Penyesalan Terbesar Gue

Killing Me Inside Re:union Kembali dengan Lagu Baru, Onad: Ini Penyesalan Terbesar Gue

Foto personel grup musik Killing Me Inside Re:union, Onad (kiri), Raka (kanan), dan Sansan (tengah bawah), dalam poster peluncuran lagu "Senyawa dan Candu" yang diunggah di platform Instagram. (Foto: Akun Instagram @reunion_jkt)
Foto personel grup musik Killing Me Inside Re:union, Onad (kiri), Raka (kanan), dan Sansan (tengah bawah), dalam poster peluncuran lagu "Senyawa dan Candu" yang diunggah di platform Instagram. (Foto: Akun Instagram @reunion_jkt)

JEDADULU.COM — Tiga bulan menjalani rehabilitasi akibat penyalahgunaan narkoba menjadi titik balik bagi Onadio Leonardo. Vokalis Killing Me Inside Re:union itu menuangkan seluruh rasa sesal dan perenungannya ke dalam karya terbaru bertajuk “Senyawa dan Candu” yang resmi dirilis di berbagai platform musik digital mulai Jumat (13/2/2026) .

Lagu ini lahir dari kegelisahan Onad selama masa pemulihan di Yayasan Pemulihan Natura Indonesia (ULTRA), Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Di tengah keterbatasan ruang gerak, ia memilih menulis sebagai pelarian dari kehampaan.

“Saat rehab, gue enggak tahu mau ngapain, akhirnya gue nulis lagu lagi,” ujar Onad dalam siaran pers yang diterima media di Jakarta. “Ini adalah bentuk penyesalan terbesar gue karena membuat kesalahan fatal.”

Karya Paling Personal

Laki-laki berusia 36 tahun itu mengakui bahwa “Senyawa dan Candu” adalah lagu paling personal yang pernah ia ciptakan sepanjang kariernya. Bukan sekadar rangkaian kata, melainkan potongan jujur dari pengalaman pahit yang nyaris meruntuhkan hidupnya.

Tak Lagi Sembilan, ZEROBASEONE Lanjut dengan Formasi Lima Orang, Empat Anggota Hengkang

“Gue belum pernah bikin lagu se-personal ini. It’s all about me,” tegas Onad.

Sansan (vokalis) dan Raka (gitaris) turut membantu penggarapan aransemen musik, dibantu oleh Rudye, eks personel Killing Me Inside yang masih setia mendukung di belakang layar.

Respons positif langsung datang dari rekan-rekan segrup. Mereka menilai lagu ini begitu merepresentasikan kondisi Onad pasca-rehabilitasi.

“Mereka langsung terima, katanya ‘Ini lo banget sih’,” kenang Onad. “Akhirnya kayak ‘ya udah ini pas banget sih’ mereka bilang: ‘personal, momennya lagi dapat, lo baru cabut dari rehab, let’s go’,” imbuhnya.

Era Baru Killing Me Inside Re:union

Setelah Mr. Queen, Shin Hae Sun dan Na In Woo Reuni di Netflix! Kali Ini Saling Tukar Jiwa Tiap Hari

“Setelah bertahun-tahun tidak membuat lagu dengan Bahasa Indonesia, akhirnya kejadian juga waktu kami mau rebranding,” ujar Onad, merujuk pada transformasi musik mereka dari era keras “The Tormented” ke era “Biarlah” yang lebih melodius.

Trio ini memperkenalkan warna musik baru yang lebih pop dengan visual yang lebih cerah, menandai babak baru setelah Onad kembali dari masa pemulihan.

“Gue ngerasa kayaknya ini ramuan Killing Me Inside Re:union yang paling pas, karena kita selalu gagal bikin lagu berbahasa Indonesia. Akhirnya kejadian juga dan kayaknya ini deh yang kita suka,” jelasnya.

Bukan Sekadar Single

Killing Me Inside Re:union tidak berhenti di “Senyawa dan Candu”. Onad membocorkan rencana besar mereka ke depan, termasuk merilis Extended Play (EP) setelah bertahun-tahun hanya meluncurkan single.

Bikin Sejarah! Konser Comeback BTS Pecahkan Rekor Penonton di Tottenham Hotspur Stadium

“Killing Me kan (rilis) single melulu. Nah udah lama nih kita enggak ngeluarin EP. Itu salah satunya. Yang jelas, priority gue tahun ini adalah Killing Me Inside Re:Union,” pungkas Onad.

Bagi penggemar setia yang sejak lama menanti konsistensi band beraliran emo asal Jakarta ini, “Senyawa dan Candu” menjadi jembatan emosi antara masa lalu dan masa depan Killing Me Inside Re:union. Sebuah pengakuan jujur yang dikemas dalam nada, lahir dari titik terendah yang justru melahirkan awal baru.

(Sumber: ANTARA News, VOI)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *