Kementerian Kebudayaan membuka Sayembara Produksi Film Narasi Kepahlawanan Indonesia 2026 untuk melahirkan film sejarah berkualitas karya sineas nasional.
JEDADULU.COM – Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) resmi membuka Program Produksi Film Narasi Kepahlawanan Indonesia 2026 sebagai upaya mendorong lahirnya karya-karya sinema yang mengangkat sejarah perjuangan bangsa sekaligus memperkuat memori kolektif masyarakat, terutama generasi muda.
Program yang diluncurkan Direktorat Film, Musik, dan Seni itu mengusung tema Menyulam Ingatan, Merawat Kebangsaan: Menghidupkan Peristiwa Sejarah 1945–1950 dalam Sinema Kontemporer.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan film memiliki peran strategis, bukan sekadar sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media edukasi yang mampu menanamkan nilai-nilai perjuangan dan kebangsaan kepada masyarakat.
“Film adalah produk budaya yang memiliki platform yang sangat baik untuk menghadirkan edukasi sejarah sekaligus menanamkan nilai-nilai perjuangan, pengorbanan, dan kebangsaan kepada masyarakat,” ujar Fadli Zon di Jakarta, Kamis (9/9/2026).
Menurutnya, periode 1945 hingga 1950 merupakan salah satu fase paling penting dalam perjalanan Republik Indonesia. Pada masa tersebut, perjuangan bangsa tidak hanya berlangsung di medan perang, tetapi juga melalui jalur diplomasi, ekonomi, pers, hingga gerakan seni dan kebudayaan.
Sayangnya, banyak kisah bersejarah dari periode tersebut yang belum banyak diangkat ke layar lebar.
Karena itu, pemerintah membuka ruang bagi para sineas untuk menghadirkan perspektif baru dalam mengangkat sejarah Indonesia dengan tetap berlandaskan riset yang kuat serta pendampingan dari para sejarawan.
“Kita ingin membawa masa lalu ke hari ini agar tetap relevan. Ruang kreativitas sangat terbuka, tetapi konteks sejarah harus tetap terjaga melalui kolaborasi dengan para sejarawan,” kata Fadli.
Sayembara Terbuka untuk Rumah Produksi dan Komunitas Film
Direktur Film, Musik, dan Seni Kementerian Kebudayaan Irini Dewi Wanti menjelaskan program tersebut tidak hanya memberikan dukungan pendanaan, tetapi juga membangun kolaborasi antara insan perfilman dengan akademisi, sejarawan, arsiparis, penulis skenario, produser, hingga sutradara.
Menurutnya, seluruh proposal akan melalui proses seleksi yang terbuka dan profesional, mulai dari seleksi administrasi, penilaian dewan juri, presentasi proyek (pitching), pengembangan naskah, hingga pendampingan selama proses produksi.
“Direktorat Film, Musik, dan Seni telah menyiapkan seluruh perangkat pelaksanaan program, mulai dari pedoman pelaksanaan, mekanisme pendaftaran, sistem seleksi, perangkat penilaian, hingga skema pendampingan,” ujar Irini Dewi Wanti.
Program ini terbuka bagi rumah produksi, perusahaan perfilman, komunitas film, maupun sineas Indonesia yang memenuhi persyaratan administrasi dan memiliki rekam jejak dalam produksi film.
Dua Kategori Film
Sayembara dibagi menjadi dua kategori, yakni Film Panjang berdurasi minimal 75 menit dan Film Pendek berdurasi 15 hingga 30 menit.
Untuk kategori film panjang, peserta diberi keleluasaan mengeksplorasi berbagai tokoh maupun dinamika perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia melalui berbagai genre.
Sementara kategori film pendek akan berfokus pada sejumlah peristiwa sejarah penting, seperti Peristiwa Rengasdengklok, Proklamasi Kemerdekaan, Pertempuran Surabaya 10 November, Agresi Militer Belanda, Gerilya Jenderal Soedirman, Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), hingga perjuangan diplomasi dan ekonomi pada masa awal republik.
Pendaftaran Dibuka Mulai 10 Juli
Pendaftaran sayembara dibuka mulai 10 Juli hingga 10 Agustus 2026 secara daring. Peserta dapat mengunduh petunjuk teknis sekaligus melakukan pendaftaran melalui laman resmi filmkepahlawanan.id.
Melalui program ini, Kementerian Kebudayaan berharap semakin banyak film bertema sejarah yang mampu menghidupkan kembali narasi kepahlawanan Indonesia dengan pendekatan yang relevan bagi masyarakat masa kini, sekaligus memperkuat ekosistem perfilman nasional sebagai media pelestarian memori kolektif bangsa.
(Kementerian Kebudayaan RI)
