JEDADULU.COM โ Remaja di berbagai negara menghadapi persoalan yang sama: kurang tidur. Studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah JAMA dan dikutip New York Post mengungkap tren yang makin mengkhawatirkan.
Dalam rentang 16 tahun terakhir, persentase remaja yang tidur kurang dari lima jam per malam terus meningkat.
Data penelitian menunjukkan, angka remaja kurang tidur naik dari 69 persen pada 2007 menjadi hampir 77 persen pada 2023. Padahal, para ahli merekomendasikan waktu tidur delapan hingga 10 jam setiap malam bagi kelompok usia ini.
โIntinya, ada krisis tidur pada remaja dan situasinya semakin memburuk. Ini telah menjadi keadaan darurat kesehatan masyarakat yang serius,โ ujar Direktur Klinis Kesehatan Perilaku Digital di Northwell Health, Courtney Bancroft, Senin (2/3/2026).
Bukan Cuma Soal Gawai
Selama ini layar ponsel seringkali menjadi kambing hitam. Namun penelitian menemukan, remaja yang menggunakan ponsel atau tablet kurang dari empat jam sehari pun tetap memiliki kualitas tidur buruk.
Artinya, persoalannya lebih luas dari sekadar durasi screen time.
Hari sekolah yang panjang, tugas akademik, les tambahan, kegiatan ekstrakurikuler, hingga dinamika pergaulan membuat waktu istirahat makin tergerus. Belum lagi faktor biologis yang tak bisa dihindari.
Menurut Bancroft, ritme sirkadian remaja memang berubah. Produksi melatoninโhormon yang memicu rasa kantukโbaru optimal sekitar pukul 11 malam. Jadi, secara alami mereka memang sulit tidur lebih awal.
Masalahnya, alarm pagi tetap berbunyi sebelum matahari tinggi.
Bagaimana dengan Indonesia?
Jika menengok ke Indonesia, situasinya tak jauh berbeda.
Di banyak daerah, siswa SMP dan SMA sudah harus masuk sekolah pukul 06.30 WIB, bahkan ada yang lebih pagi. Itu berarti mereka harus bangun sekitar pukul 04.30โ05.00 WIB untuk bersiap dan menempuh perjalanan.
Bandingkan dengan jam biologis remaja yang baru benar-benar mengantuk menjelang tengah malam.
Praktisi pendidikan di Jakarta, D Pratama, menilai persoalan ini jarang dibahas serius.
โSelama ini kita fokus ke disiplin dan ketepatan waktu, tapi jarang membicarakan apakah jam masuk sekolah sudah sesuai dengan kebutuhan biologis anak,โ ujar Pratama kepada wartawan.
Belum lagi fenomena les sore, bimbingan belajar, hingga tugas daring yang kerap dikerjakan hingga malam. Di kota-kota besar, perjalanan pulang yang macet juga memakan energi tambahan.
Dengan pola seperti itu, tidur delapan jam terasa seperti kemewahan.
Dampak ke Kesehatan Mental
Kurang tidur bukan sekadar membuat siswa mengantuk di kelas. Berbagai studi menunjukkan keterkaitannya dengan depresi, kecemasan, gangguan konsentrasi, bahkan peningkatan risiko perilaku menyakiti diri.
Yang mengejutkan, dampak ini terjadi hampir pada semua remaja, termasuk mereka yang tidak terlibat dalam perilaku berisiko seperti penyalahgunaan zat.
Di Indonesia sendiri, isu kesehatan mental remaja mulai mendapat perhatian dalam beberapa tahun terakhir. Namun diskusi tentang kualitas tidur belum menjadi arus utama.
Padahal, tidur adalah fondasi kesehatan yang paling mendasar.
Perlukah Evaluasi Jam Masuk Sekolah?
Membatasi penggunaan gawai sebelum tidur tetap penting. Namun para ahli menilai solusi tak bisa berhenti di situ.
Penyesuaian jam masuk sekolah, pengaturan beban akademik, hingga edukasi tentang manajemen waktu menjadi bagian dari solusi yang lebih menyeluruh.
Jika tidak, remaja akan terus berada dalam siklus bangun terlalu pagi dan tidur terlalu larutโkombinasi yang pelan-pelan menggerus kesehatan mereka.
Pertanyaannya kini, apakah sistem pendidikan siap beradaptasi dengan sains tentang tubuh remaja?
(Berbagai Sumber)

Komentar