JEDADULU.COM โ Setiap tahun, jutaan orang berbondong-bondong meninggalkan kota menuju kampung halaman. Tradisi ini kita kenal dengan nama “mudik”.
Tapi pernahkah Anda bertanya, dari mana sebenarnya istilah “mudik” berasal? Ternyata, kata ini menyimpan sejarah panjang yang sudah ada sejak zaman kerajaan, jauh sebelum istilah ini identik dengan Lebaran.
Banyak yang mengira mudik adalah singkatan dari bahasa Jawa “mulih dilik” yang berarti pulang sebentar. Namun, para ahli bahasa membantah anggapan ini.
“Mulih dilik itu keratabasa atau upaya mencocok-cocokkan arti kata berdasarkan suku katanya, sama seperti ‘benci’ yang diartikan ‘benar-benar cinta’. Itu tidak tepat secara etimologi,” kata pegiat bahasa Ivan Lanin, belum lama ini.
Lalu, apa arti mudik yang sebenarnya?
Dari “Udik” ke “Mudik”: Jejak Bahasa Melayu
Secara etimologis, kata “mudik” berasal dari bahasa Melayu, yaitu “udik” yang berarti hulu sungai atau pedalaman.
Antropolog UGM, Prof. Heddy Shri Ahimsa Putra, menjelaskan bahwa pada masa lampau, masyarakat Melayu banyak tinggal di daerah hulu sungai. Mereka biasa bepergian ke hilir menggunakan perahu atau biduk untuk berdagang atau mengurus keperluan. Setelah urusan selesai, mereka akan kembali ke hulu pada sore hari. Aktivitas “pulang ke hulu” inilah yang kemudian disebut sebagai “mudik”.
Bukti tertulis penggunaan kata ini bahkan sudah ada sejak lama. Dalam naskah kuno Hikayat Raja Pasai yang diperkirakan berasal dari tahun 1390, kata “mudik” sudah digunakan dengan arti ‘pergi ke hulu sungai’.
Tradisi Mudik Zaman Majapahit
Fakta menarik lainnya, tradisi mudik ternyata sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. Dilansir dari laman Kementerian PANRB, tradisi ini telah berlangsung sejak zaman Kerajaan Majapahit.
Saat itu, para petani dan pekerja yang merantau ke pusat kerajaan atau kota raja memiliki kebiasaan untuk pulang ke kampung halaman. Tujuannya bukan untuk merayakan Lebaran (karena Islam belum berkembang luas), melainkan untuk berkumpul bersama keluarga, membersihkan makam leluhur, dan meminta keselamatan dalam mencari rezeki di perantauan.
Transformasi Makna: Dari Hulu Sungai ke Kampung Halaman
Dalam perkembangannya, kata “mudik” mengalami perluasan makna. Ivan Lanin menjelaskan, “Dari arti awal ‘pergi ke hulu sungai’, kata ini mengalami perubahan makna menjadi ‘pergi ke kampung’ karena hulu sungai atau pedalaman dianggap identik dengan kampung asal”.
Komponen makna yang dipertahankan adalah “tempat asal”, bukan lagi jenis tempatnya (hulu sungai). Jadi, meskipun kampung halaman seseorang sekarang sudah menjadi kota besar, kata mudik tetap relevan digunakan.
Kapan Mudik Identik dengan Lebaran?
Istilah mudik mulai identik dengan Hari Raya Idul Fitri pada tahun 1970-an. Era ini ditandai dengan pesatnya pembangunan dan urbanisasi besar-besaran ke kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung.
Para perantau yang bekerja di ibu kota memanfaatkan cuti panjang Lebaran sebagai satu-satunya kesempatan untuk kembali ke kampung halaman dan berkumpul dengan keluarga besar.
Sejak saat itu, tradisi ini menguat dan menjadi fenomena nasional yang terus bertahan hingga kini.
Kilas Balik Sejarah Mudik
| Periode | Peristiwa Penting |
|---|---|
| Abad ke-14 (1390) | Kata “mudik” tercatat dalam naskah Hikayat Raja Pasai dengan arti ‘pergi ke hulu sungai’ |
| Zaman Majapahit | Tradisi pulang kampung sudah dilakukan petani dan pekerja untuk ziarah makam leluhur |
| Tahun 1970-an | Mudik mulai identik dengan Lebaran seiring meningkatnya urbanisasi ke Jakarta |
Reaksi Netizen
Klarifikasi soal asal-usul kata mudik ini pun ramai diperbincangkan di media sosial. Akun @bahasaku_id menulis, “Baru tahu kalau ‘mudik’ bukan singkatan ‘mulih dilik’. Ternyata dari bahasa Melayu ‘udik’ yang berarti hulu. Ilmu baru!”
Warganet @sejarah_yuk menimpali, “Keren juga ya, tradisi mudik sudah ada sejak Majapahit. Berarti leluhur kita memang sudah punya budaya kuat untuk selalu kembali ke asal.”
Ada juga yang berkomentar dengan gaya humor, “Berarti kalau mudik ke hulu sungai, kita mudik sambil bawa perahu dong? Tapi sekarang mudiknya bawa koper dan oleh-oleh, beda zaman beda cara!” tulis @komeng_gokil.
Jadi, mudik bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah kata dan praktik budaya yang telah mengakar kuat dalam sejarah bangsa, berevolusi dari perjalanan menyusuri sungai menjadi ritual nasional yang menyatukan keluarga pada hari raya.
(Berbagai Sumber)

Komentar