Kasih Sayang
Beranda » Berita » Bukan Sekadar Takdir, Ini Rahasia Ilmiah Orang yang Selalu Beruntung, Bisa Dipelajari dan Dipraktikkan

Bukan Sekadar Takdir, Ini Rahasia Ilmiah Orang yang Selalu Beruntung, Bisa Dipelajari dan Dipraktikkan

mencari keberuntungan dalam hujan
Sederhananya, meningkatkan keberuntungan adalah bagaimana menumbuhkan harapan yang tangguh—yakin pada hal baik yang akan terjadi, dan tidak terjadi, serta mencari alasan untuk tetap maju ke depan. (Foto: Pixabay)

JEDADULU.COM – Ada orang yang seolah selalu kecipratan rezeki: nemu uang di jalan, dapat kesempatan kerja tanpa sengaja, atau selalu selamat dari musibah. Sebaliknya, adapula yang merasa hidupnya “sial terus”.

Tapi benarkah keberuntungan murni soal takdir? Seorang psikolog membuktikan bahwa “orang beruntung” ternyata memiliki kebiasaan dan pola pikir khusus yang bisa dipelajari siapa pun.

Sebelum membahas lebih jauh, mari mengenal Tsutomu Yamaguchi. Pria Jepang ini selamat dari bom atom Hiroshima pada 6 Agustus 1945, lalu pulang ke kampung halamannya di Nagasaki. Tiga hari kemudian, bom atom kedua jatuh tepat di Nagasaki. Lagi-lagi, Yamaguchi selamat.

Yanaguchi kemudian dikenal sebagai hibakusha ganda—penyintas dua bom atom, sebuah status langka dalam sejarah Jepang. Ada yang bilang dia orang paling sial, ada juga yang menyebutnya paling beruntung. Tapi yang jelas, Yamaguchi menjalani hidup hingga 93 tahun dan menjadi pejuang perdamaian.

Kisah Yamaguchi membuka pertanyaan besar: apa sebenarnya definisi beruntung?

Bangun Pagi Langsung Mood Booster: Ini Dia 5 Kebiasaan Sederhana yang Bikin Mental Sehat

Teori Psikolog Richard Wiseman: Keberuntungan Bisa Dilatih

Richard Wiseman, psikolog asal Inggris, menghabiskan lebih dari satu dekade meneliti orang-orang yang merasa sangat beruntung dan sangat tidak beruntung. Hasilnya ia tulis dalam buku The Luck Factor.

Wiseman menyimpulkan: keberuntungan tidak datang kepada mereka yang hanya menunggu nasib, tetapi kepada mereka yang aktif menciptakan peluang dengan prinsip psikologis tertentu.

Empat Prinsip Orang Beruntung

Berdasarkan penelitian Wiseman, ada empat prinsip utama yang membedakan orang beruntung dan tidak beruntung:

Alarm Pagi dan Layar Malam: Krisis Tidur Remaja Kian Nyata, Bagaimana dengan di Indonesia?

PrinsipOrang BeruntungOrang Tidak Beruntung
🧘 Sikap MentalCenderung santai dan terbuka, sehingga peluang lebih mudah terlihatCemas berlebihan, fokus sempit dan kaku, peluang terlewat
🤝 Interaksi SosialOptimis, ramah, dan percaya diri, mendapat respons positif dari orang lainMenarik diri, antisipasi penolakan, justru menyebabkan penolakan
💡 Menghadapi KegagalanLihat kemunduran sebagai pembelajaran sementaraLarut dalam spiral kegagalan
🔄 Variasi RutinitasSuka mencoba hal baru, rute baru, menyapa orang asingPola hidup monoton, sedikit peluang kejutan

Keberuntungan adalah Self-Fulfilling Prophecy

Wiseman menjelaskan bahwa orang beruntung memiliki optimisme tinggi yang bersifat self-fulfilling prophecy. Saat mereka mengharapkan interaksi sosial berjalan baik, mereka akan lebih terbuka dan ramah. Respons positif dari orang lain pun datang sebagai timbal balik.

Sebaliknya, mereka yang sudah mengantisipasi penolakan justru akan menarik diri dan menyebabkan penolakan itu benar-benar terjadi.

“Buku Harian Keberuntungan”: Trik Melatih Otak agar Lebih Bersyukur

Salah satu intervensi paling sukses yang dibuat Wiseman adalah program “buku harian keberuntungan”. Peserta diminta menulis satu hal positif atau keberuntungan yang dialami setiap malam. Latihan sederhana ini memicu otak untuk mengingat hal-hal baik sepanjang hari, mirip dengan “latihan rasa syukur”.

10 Tips Jitu Jaga Kebugaran Saat Puasa: Dari Latihan Ringan hingga Strategi Sahur Anti Lemas

Semakin banyak “eksperimen” yang dilakukan seseorang—seperti suasana baru, bertemu orang baru, menghadapi gangguan tak terduga—semakin banyak pula kesempatan untuk beruntung. Orang beruntung memandang ancaman sebagai kesempatan mencoba hal baru.

Cara Praktis Menciptakan Keberuntungan Sendiri

Jika keberuntungan bukan takdir buta, maka ia bisa dilatih. Intinya adalah mengubah pola pikir dari kendali eksternal (sekadar menunggu takdir) ke pola pikir internal yang menciptakan kondisi agar hal positif lebih memungkinkan.

Beberapa cara sederhana yang bisa dicoba:

  1. Tambahkan variasi dalam rutinitas. Pilih rute berbeda ke kantor, berlama-lama di kedai kopi, atau sapa orang yang biasanya diabaikan.
  2. Mulai percakapan dengan orang baru. Mereka yang beruntung lebih sering mengambil inisiatif.
  3. Ikuti intuisi kecil. Peluang sering datang dari keputusan impulsif yang positif.
  4. Bangkit lebih cepat dari fase terpuruk. Kemunduran adalah bagian dari eksperimen kehidupan.

Harapan yang Tangguh: Kunci Utama

Sederhananya, meningkatkan keberuntungan adalah bagaimana menumbuhkan harapan yang tangguh—yakin pada hal baik yang akan terjadi, dan tidak terjadi, serta mencari alasan untuk tetap maju ke depan.

Seperti lelucon lama tentang seorang ayah yang berdoa setiap malam agar menang lotre. Lalu Tuhan menjawab, “Aku sedang berusaha, tetapi kamu harus membeli tiket.”

Keberuntungan memang butuh inisiatif. Jadi, sudahkah kamu “membeli tiket” hari ini?

(Psychology Today)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *