22/09/2026
virus h3n2 kemenkes

Sampel influenza A(H3N2) subclade K. (Foto: Kementerian Kesehatan/Kemenkes)

JEDADULU.COM – Influenza A tengah menjadi perhatian menyusul meningkatnya temuan virus influenza di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi ini juga mendapat perhatian Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), terutama karena sebagian kasus ditemukan pada kelompok anak.

Data Kementerian Kesehatan hingga 19 September 2026 menunjukkan proporsi positif influenza dalam surveilans minggu ke-36 mencapai 46 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan minggu sebelumnya yang berada di level 35 persen.

Dari 185 spesimen yang diperiksa, sebanyak 86 dinyatakan positif influenza. Rinciannya terdiri atas 76 kasus influenza A(H1N1)pdm09, delapan A(H3N2), dan dua influenza B Victoria.

Kelompok anak usia 0-4 tahun tercatat menyumbang 42 persen dari kasus influenza yang terdeteksi.

Meski angka temuan meningkat, Kementerian Kesehatan menyatakan aktivitas influenza secara keseluruhan masih berada dalam kategori rendah dan situasinya masih terkendali. Karena itu, munculnya influenza A tidak serta-merta berarti Indonesia sedang menghadapi wabah.

Lantas, apa sebenarnya influenza A dan seberapa berbahayakah penyakit ini?

Apa Itu Influenza A?

Influenza A merupakan salah satu jenis virus influenza yang dapat menyebabkan infeksi pada saluran pernapasan manusia.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), influenza musiman pada manusia paling sering disebabkan oleh virus influenza tipe A dan B.

Virus influenza A kemudian dibedakan menjadi sejumlah subtipe berdasarkan dua protein yang terdapat di permukaan virus, yakni hemaglutinin (H) dan neuraminidase (N).

Beberapa subtipe influenza A yang beredar pada manusia antara lain A(H1N1)pdm09 dan A(H3N2).

Nama H1N1 mungkin terdengar mengkhawatirkan karena berkaitan dengan pandemi influenza pada 2009. Namun, A(H1N1)pdm09 kini telah menjadi salah satu virus influenza musiman yang terus beredar pada manusia.

Artinya, ketika H1N1 kembali ditemukan dalam laporan influenza saat ini, hal tersebut tidak berarti pandemi 2009 kembali terjadi.

Bagaimana Influenza A Menular?

Influenza A dapat menular dari satu orang ke orang lain dengan relatif mudah.

Penularan terutama terjadi melalui partikel pernapasan ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin atau berbicara. Risiko penularan juga dapat meningkat ketika seseorang berada di tempat ramai dan melakukan kontak dekat dengan orang yang sedang sakit.

Karena itu, influenza dapat menyebar di berbagai lingkungan, mulai dari sekolah, tempat kerja, rumah, fasilitas kesehatan hingga ruang tertutup lainnya.

Di Indonesia, influenza juga dapat beredar sepanjang tahun. Aktivitas influenza dapat dipengaruhi faktor cuaca dan berpotensi meningkat ketika musim penghujan.

Gejala Influenza A

Gejala influenza A pada dasarnya tidak selalu berbeda jauh dengan influenza lainnya.

Gejala influenza umumnya muncul secara tiba-tiba. Keluhan yang sering muncul antara lain demam, batuk, sakit tenggorokan, pilek, sakit kepala, nyeri otot dan sendi serta rasa lelah yang cukup berat.

Batuk bahkan dapat berlangsung lebih lama dibandingkan gejala lainnya, yakni hingga dua minggu atau lebih.

Pada sebagian orang, gejala dapat terasa seperti flu biasa dan kemudian membaik dengan sendirinya dalam waktu sekitar satu minggu.

Namun, influenza juga dapat berkembang menjadi penyakit yang lebih serius pada kondisi tertentu.

Apakah Influenza A Berbahaya?

Influenza A bisa menjadi penyakit serius, meski sebagian besar orang yang terinfeksi dapat pulih tanpa memerlukan perawatan khusus.

Risiko komplikasi terutama lebih tinggi pada kelompok tertentu. WHO menyebut anak-anak berusia di bawah lima tahun, lanjut usia, ibu hamil serta orang dengan penyakit kronis tertentu sebagai kelompok yang lebih berisiko mengalami influenza berat.

Penyakit kronis yang dapat meningkatkan risiko komplikasi antara lain penyakit jantung, paru-paru, ginjal, hati, gangguan metabolik serta beberapa kondisi yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh.

Dalam kondisi tertentu, influenza dapat menyebabkan komplikasi seperti pneumonia atau infeksi paru-paru. Pada kasus berat, infeksi juga dapat menyebabkan sepsis dan gangguan pada organ tubuh.

Influenza juga bisa memperburuk penyakit yang sebelumnya sudah dimiliki seseorang, misalnya asma serta penyakit paru dan jantung.

Karena itu, anggapan bahwa influenza selalu sebatas “flu biasa” tidak sepenuhnya tepat. Tingkat risiko sangat bergantung pada kondisi orang yang terinfeksi.

Bagaimana dengan H3N2 Subclade K?

Influenza A(H3N2) subclade K juga sempat menjadi perhatian di Indonesia sepanjang 2026.

Kementerian Kesehatan sebelumnya menerbitkan surat edaran mengenai penanggulangan influenza A(H3N2) subclade K.

Dalam dokumen tersebut disebutkan bahwa subclade K pertama kali terdeteksi di Indonesia pada September 2025. Hingga 10 Januari 2026, tercatat 74 kasus yang ditemukan di 13 provinsi.

Mayoritas kasus pada saat itu menunjukkan gejala ringan hingga sedang.

Dalam laporan surveilans terbaru hingga 19 September 2026, Kementerian Kesehatan masih mencatat keberadaan H3N2 subclade K di 13 provinsi.

Namun, data surveilans tersebut juga menunjukkan tidak ada kasus influenza positif yang dirawat di ruang ICU pada minggu ke-36 di rumah sakit sentinel yang diperiksa.

Dengan demikian, istilah subclade K tidak otomatis berarti seseorang akan mengalami penyakit berat. Tingkat keparahan tetap dipengaruhi kondisi individu, usia, penyakit penyerta dan berbagai faktor lainnya.

Kapan Harus ke Dokter?

Flu umumnya dapat membaik dengan istirahat dan asupan cairan yang cukup. Namun, masyarakat perlu lebih waspada apabila gejala justru semakin berat atau tidak kunjung membaik.

Beberapa tanda yang perlu mendapat perhatian medis antara lain kesulitan bernapas, sesak, nyeri atau tekanan di dada, kebingungan, pusing berat, tubuh sangat lemas, dehidrasi atau kondisi yang sempat membaik tetapi kemudian kembali memburuk.

Kementerian Kesehatan juga mengimbau masyarakat mengakses fasilitas pelayanan kesehatan apabila gejala memburuk atau tidak membaik setelah lebih dari tiga hari.

Sementara bagi kelompok berisiko, seperti anak kecil, lansia, ibu hamil dan orang dengan penyakit penyerta, konsultasi sebaiknya dilakukan sebelum gejala berkembang menjadi lebih berat.

Jadi, influenza A memang perlu diperhatikan, tetapi peningkatan temuan virus tidak otomatis berarti terjadi wabah. Yang paling penting adalah mengenali gejala, memahami kelompok yang berisiko dan segera mencari pertolongan medis ketika kondisi memburuk.

(Berbagai Sumber)