JEDADULU.COM — Tiga bulan menjalani rehabilitasi akibat penyalahgunaan narkoba menjadi titik balik bagi Onadio Leonardo. Vokalis Killing Me Inside Re:union itu menuangkan seluruh rasa sesal dan perenungannya ke dalam karya terbaru bertajuk “Senyawa dan Candu” yang resmi dirilis di berbagai platform musik digital mulai Jumat (13/2/2026) .
Lagu ini lahir dari kegelisahan Onad selama masa pemulihan di Yayasan Pemulihan Natura Indonesia (ULTRA), Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Di tengah keterbatasan ruang gerak, ia memilih menulis sebagai pelarian dari kehampaan.
“Saat rehab, gue enggak tahu mau ngapain, akhirnya gue nulis lagu lagi,” ujar Onad dalam siaran pers yang diterima media di Jakarta. “Ini adalah bentuk penyesalan terbesar gue karena membuat kesalahan fatal.”
Karya Paling Personal
Laki-laki berusia 36 tahun itu mengakui bahwa “Senyawa dan Candu” adalah lagu paling personal yang pernah ia ciptakan sepanjang kariernya. Bukan sekadar rangkaian kata, melainkan potongan jujur dari pengalaman pahit yang nyaris meruntuhkan hidupnya.
“Gue belum pernah bikin lagu se-personal ini. It’s all about me,” tegas Onad.
Sansan (vokalis) dan Raka (gitaris) turut membantu penggarapan aransemen musik, dibantu oleh Rudye, eks personel Killing Me Inside yang masih setia mendukung di belakang layar.
Respons positif langsung datang dari rekan-rekan segrup. Mereka menilai lagu ini begitu merepresentasikan kondisi Onad pasca-rehabilitasi.
“Mereka langsung terima, katanya ‘Ini lo banget sih’,” kenang Onad. “Akhirnya kayak ‘ya udah ini pas banget sih’ mereka bilang: ‘personal, momennya lagi dapat, lo baru cabut dari rehab, let’s go’,” imbuhnya.
Era Baru Killing Me Inside Re:union
“Setelah bertahun-tahun tidak membuat lagu dengan Bahasa Indonesia, akhirnya kejadian juga waktu kami mau rebranding,” ujar Onad, merujuk pada transformasi musik mereka dari era keras “The Tormented” ke era “Biarlah” yang lebih melodius.
Trio ini memperkenalkan warna musik baru yang lebih pop dengan visual yang lebih cerah, menandai babak baru setelah Onad kembali dari masa pemulihan.
“Gue ngerasa kayaknya ini ramuan Killing Me Inside Re:union yang paling pas, karena kita selalu gagal bikin lagu berbahasa Indonesia. Akhirnya kejadian juga dan kayaknya ini deh yang kita suka,” jelasnya.
Bukan Sekadar Single
Killing Me Inside Re:union tidak berhenti di “Senyawa dan Candu”. Onad membocorkan rencana besar mereka ke depan, termasuk merilis Extended Play (EP) setelah bertahun-tahun hanya meluncurkan single.
“Killing Me kan (rilis) single melulu. Nah udah lama nih kita enggak ngeluarin EP. Itu salah satunya. Yang jelas, priority gue tahun ini adalah Killing Me Inside Re:Union,” pungkas Onad.
Bagi penggemar setia yang sejak lama menanti konsistensi band beraliran emo asal Jakarta ini, “Senyawa dan Candu” menjadi jembatan emosi antara masa lalu dan masa depan Killing Me Inside Re:union. Sebuah pengakuan jujur yang dikemas dalam nada, lahir dari titik terendah yang justru melahirkan awal baru.
(Sumber: ANTARA News, VOI)

Komentar