JEDADULU.COM โ Pernah merasa remaja di sekitar Anda mudah sekali meledak emosinya, marah tanpa sebab, atau mengalami perubahan suasana hati yang drastis? Bisa jadi, apa yang mereka konsumsi sehari-hari menjadi biang keroknya.
Sebuah studi klinis terbaru dari Selandia Baru mengungkap hubungan mengejutkan antara nutrisi buruk dengan disregulasi suasana hati pada remaja.
Penelitian yang dipimpin oleh psikolog klinis Universitas Canterbury, Prof. Julia Rucklidge, Ph.D., melibatkan 132 remaja berusia 12 hingga 17 tahun dari seluruh Selandia Baru yang menunjukkan iritabilitas tingkat sedang hingga berat.
Beberapa dari mereka terkait dengan kondisi yang disebut Disruptive Mood Dysregulation Disorder (DMDD), gangguan yang memengaruhi sekitar 5 persen anak-anak dan remaja di Amerika Serikat.
Uji Klinis: Vitamin vs Plasebo
Para peneliti membagi peserta menjadi dua kelompok. Kelompok pertama menerima suplemen mikronutrienโberupa kombinasi vitamin dan mineralโdalam bentuk pil tiga kali sehari selama delapan minggu. Kelompok lainnya hanya diberi plasebo.
Hasilnya menarik: kedua kelompok mengalami peningkatan suasana hati, yang diamati melalui konsultasi mingguan dengan psikolog. Namun yang paling signifikan, banyak peserta dari kelompok mikronutrien mengalami penurunan pikiran untuk bunuh diri, yang dialami oleh sekitar seperempat peserta di awal percobaan.
“Bukan berarti anak-anak itu kekurangan nutrisi tertentu. Kondisi mereka mungkin sedemikian rupa sehingga masing-masing membutuhkan lebih banyak dukungan daripada sistem tubuh yang sehat pada umumnya,” kata Rucklidge.
Rucklidge menganalogikan dengan orang yang sedang flu. “Jika saya benar-benar sakit, kebutuhan nutrisi saya akan lebih tinggi karena sistem kekebalan tubuh perlu didukung. Jika saya stres, kebutuhan nutrisi juga meningkat,” jelasnya.
Otak Remaja Sedang Direnovasi
Masa remaja adalah periode kritis perkembangan otak. Para peneliti mengutip studi yang menghubungkan pola makan buruk dengan perkembangan masalah kesehatan mental pada kaum muda. Malnutrisi dini memiliki efek kritis yang menyebabkan komplikasi saat anak memasuki usia remaja.
“Apa yang terjadi pada masa remajaโotak mereka sedang mengalami rekonstruksi. Metrik tidak seimbang, kebutuhan nutrisi mereka lebih tinggi. Mereka mengalami percepatan pertumbuhan, otak mereka sedang berubah,” papar Rucklidge.
Masalah muncul ketika pertumbuhan pesat itu hanya didorong oleh pola makan makanan ultra-olahan alias ultra-processed foods (UPF) yang minim nutrisi. Hasilnya adalah benturan kekuatan yang mendatangkan kesengsaraan berupa disregulasi emosi dan gangguan mental.
Perbandingan: Pola Makan Sehat vs Ultra-Olahan
| Aspek | Pola Makan Sehat | Pola Makan Ultra-Olahan |
|---|---|---|
| Dampak pada Otak | Mendukung perkembangan kognitif | Menghambat fungsi neurotransmitter |
| Stabilitas Emosi | Lebih stabil, mudah mengontrol amarah | Cepat marah, disregulasi suasana hati |
| Kesehatan Mental | Risiko depresi lebih rendah | Risiko gangguan mental lebih tinggi |
| Kebutuhan Nutrisi | Terpenuhi dengan baik | Defisit mikronutrien penting |
Peringatan: Bukan Ajakan Konsumsi Sembarangan
Rucklidge menegaskan bahwa penelitian ini bukan berarti semua orang harus mulai mengonsumsi suplemen secara sembarangan. “Suplemen memang bisa bermanfaat dalam beberapa keadaan, tetapi bukan obat mujarab,” tegasnya.
Rucklidge berharap proyek ini menjadi peringatan bahwa lingkungan makanan sangat berpengaruh pada pertumbuhan otak. Daripada bergantung pada suplemen, solusi jangka panjang adalah memperbaiki kualitas makanan sehari-hari dengan mengurangi konsumsi makanan ultra-olahan dan memperbanyak asupan nutrisi alami.
Untuk orang tua dan pendidik, memperhatikan asupan gizi remaja sama pentingnya dengan mendukung kesehatan mental mereka. Karena apa yang masuk ke dalam tubuh, akan menentukan bagaimana otak bekerja dan bagaimana emosi dikelola.
(Berbagai Sumber)

Komentar