JEDADULU.COM– Dalam beberapa dekade terakhir, masyarakat global mengalami kemajuan yang sangat signifikan dalam berbagai bidang kehidupan. Perkembangan ekonomi, inovasi teknologi, serta kemudahan akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan informasi telah menciptakan kondisi hidup yang secara objektif jauh lebih baik dibandingkan masa lalu.
Banyak orang yang tumbuh di era modern menikmati berbagai fasilitas yang sebelumnya sulit dibayangkan oleh generasi terdahulu.
Namun, di balik kemajuan tersebut muncul sebuah paradoks yang cukup menggelitik. Meskipun tingkat kemakmuran terus meningkat, berbagai laporan mengenai kesejahteraan menunjukkan bahwa tingkat kebahagiaan masyarakat tidak selalu mengalami peningkatan yang sejalan. Bahkan dalam beberapa kasus, tingkat kepuasan hidup justru menunjukkan kecenderungan menurun, terutama di kalangan generasi muda.
Fenomena ini terlihat secara jelas pada Generasi Z dan milenial yang lebih muda. Berdasarkan berbagai penelitian mengenai kesejahteraan global, kelompok usia ini melaporkan tingkat kesejahteraan subjektif yang relatif lebih rendah dibandingkan generasi yang lebih tua. Tidak sedikit dari mereka yang merasa hidupnya kurang bermakna serta mengalami kesulitan menemukan tujuan yang jelas dalam pekerjaan maupun aktivitas sehari-hari.
Kelompok milenial yang lebih tua cenderung menunjukkan kondisi yang sedikit lebih stabil, meskipun tetap menghadapi tekanan hidup yang cukup besar, terutama ketika memasuki fase kehidupan dewasa dengan berbagai tanggung jawab sosial dan ekonomi. Sementara itu, Generasi X dan Baby Boomers umumnya melaporkan tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi dibandingkan generasi yang lebih muda, meskipun jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya pada usia yang sama, tingkat kesejahteraan mereka juga tidak sepenuhnya setinggi dahulu.
Situasi ini semakin diperkuat oleh meningkatnya perhatian terhadap masalah kesepian dan isolasi sosial di masyarakat modern. Pada tahun 2023, Surgeon General Amerika Serikat bahkan menyatakan bahwa kesepian dan isolasi sosial telah berkembang menjadi sebuah epidemi kesehatan masyarakat. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga berpengaruh terhadap kesehatan fisik seseorang.
Melihat kondisi tersebut, muncul pertanyaan yang cukup mendasar: mengapa masyarakat dapat merasa kurang bahagia di tengah meningkatnya kemakmuran dan berbagai kemudahan hidup?
Salah satu penjelasan yang sering diajukan berkaitan dengan fenomena perbandingan sosial. Dalam sejarah manusia, individu pada umumnya membandingkan diri mereka dengan orang-orang yang berada di lingkungan terdekat, seperti keluarga, tetangga, teman sekolah, atau rekan kerja. Perbandingan tersebut terjadi dalam lingkup sosial yang relatif terbatas.
Namun, perkembangan media sosial telah mengubah pola perbandingan ini secara drastis. Saat ini, seseorang dapat dengan mudah melihat kehidupan orang lain dari berbagai belahan dunia melalui layar ponsel. Berbagai unggahan yang menampilkan perjalanan mewah, pencapaian karier, gaya hidup menarik, atau hubungan romantis sering kali menjadi bagian dari arus informasi sehari-hari.
Masalahnya, gambaran yang ditampilkan di media sosial umumnya merupakan potret kehidupan yang telah dipilih dan disusun secara selektif. Banyak orang hanya menampilkan momen terbaik mereka, sehingga menciptakan kesan bahwa kehidupan mereka selalu penuh keberhasilan dan kebahagiaan. Ketika remaja atau orang dewasa muda terus-menerus melihat gambaran semacam ini, mereka dapat merasa bahwa kehidupan mereka sendiri kurang menarik atau kurang berhasil, meskipun sebenarnya mereka berada dalam kondisi yang cukup baik.
Fenomena ini juga dapat menciptakan situasi yang menyerupai permainan zero-sum, di mana semakin tinggi visibilitas atau popularitas seseorang di dunia digital, semakin besar kemungkinan orang lain merasa tidak terlihat atau kurang dihargai. Penelitian menunjukkan bahwa dinamika semacam ini dapat berkaitan dengan meningkatnya kecemasan dan gejala depresi, khususnya pada remaja yang sedang membangun identitas diri dan rasa harga diri.
Namun demikian, perbandingan sosial bukanlah satu-satunya faktor yang menjelaskan fenomena menurunnya kebahagiaan di kalangan generasi muda. Terdapat pula perubahan yang cukup mendasar dalam cara masyarakat memaknai kehidupan yang baik dan bermakna.
Di era digital saat ini, banyak anak muda secara tidak langsung didorong untuk memandang kebahagiaan dan kesuksesan sebagai sesuatu yang perlu ditampilkan kepada orang lain. Media sosial sering kali dipenuhi dengan berbagai unggahan yang menampilkan prestasi, pengalaman menarik, maupun momen kebahagiaan yang tampak sempurna. Dalam kondisi seperti ini, kebahagiaan seakan-akan menjadi sesuatu yang perlu dibuktikan melalui pengakuan publik.
Akibatnya, sebagian orang mulai mengejar berbagai simbol kesuksesan eksternal dengan harapan bahwa pencapaian tersebut akan membawa kebahagiaan. Mereka berusaha mengikuti jalur yang dianggap ideal, seperti memperoleh pendidikan tinggi, mendapatkan pekerjaan bergengsi, memiliki gaya hidup yang menarik, atau menjalani pengalaman yang dapat dibagikan secara daring.
Namun, ketika pencapaian tersebut benar-benar diraih, pengalaman emosional yang dirasakan tidak selalu sesuai dengan harapan yang sebelumnya dibayangkan. Sering kali muncul perasaan kecewa karena keberhasilan eksternal tersebut tidak sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan batin yang lebih mendalam, seperti rasa memiliki, makna hidup, atau hubungan yang autentik dengan orang lain.
Ketidaksesuaian antara aspirasi dan pengalaman hidup ini menjadi salah satu sumber ketidakpuasan yang cukup signifikan. Banyak individu mengikuti jalan menuju kesuksesan yang secara sosial dianggap ideal, tetapi dalam kehidupan sehari-hari mereka tetap merasa kurang terhubung dengan hal-hal yang benar-benar memberikan arti bagi diri mereka.
Padahal, dalam banyak kasus, kebahagiaan justru tumbuh dari pengalaman yang sederhana dan sering kali tidak terlalu mencolok. Hubungan yang hangat dengan keluarga dan teman, keterlibatan dalam aktivitas yang bermakna, serta komitmen terhadap nilai-nilai pribadi sering kali menjadi sumber utama rasa puas dalam kehidupan.
Kemajuan ekonomi memang dapat meningkatkan kualitas hidup dalam berbagai aspek penting. Namun setelah kebutuhan dasar terpenuhi, tambahan kekayaan atau sumber daya material tidak selalu memberikan dampak besar terhadap pengalaman kebahagiaan sehari-hari. Dalam tahap ini, faktor-faktor seperti hubungan sosial, otonomi pribadi, serta rasa memiliki dalam suatu komunitas menjadi jauh lebih penting.
Meskipun demikian, solusi terhadap permasalahan ini tidaklah sesederhana menyarankan generasi muda untuk mengurangi penggunaan media sosial. Remaja dan orang dewasa muda sering menunjukkan kecenderungan untuk menolak ketika mereka merasa kebebasan mereka dibatasi. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih efektif adalah memahami kebutuhan emosional yang mendorong perilaku tersebut.
Keinginan untuk terus menggunakan media sosial sering kali dipicu oleh perasaan bosan, kesepian, atau kebutuhan untuk merasa terhubung dengan orang lain. Jika kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat dipenuhi melalui cara lain yang lebih bermakna, seperti interaksi sosial langsung atau aktivitas yang memberikan rasa tujuan, maka kebiasaan tersebut dapat berubah secara alami.
Generasi Z hidup dalam sebuah lingkungan yang penuh dengan peluang yang belum pernah ada sebelumnya. Mereka memiliki akses yang luas terhadap pendidikan, teknologi, serta berbagai kemungkinan karier. Namun pada saat yang sama, mereka juga menghadapi tekanan yang kuat untuk terus menunjukkan keberhasilan dan kebahagiaan di ruang publik digital.
Kombinasi antara peluang yang besar dan rasa ketidakpuasan yang terus muncul inilah yang menjadi tantangan psikologis khas bagi generasi ini. Mengatasi tantangan tersebut mungkin tidak hanya bergantung pada upaya untuk memperoleh lebih banyak hal dalam kehidupan. Sebaliknya, kebahagiaan mungkin lebih bergantung pada kemampuan untuk menghargai apa yang telah dimiliki serta mempertimbangkan dengan bijaksana hal-hal apa saja yang benar-benar layak untuk dikejar.
Sumber: Bedzow, I. (2026). Why Gen Z feel less happy even as society gets richer. Psychology Today.
Murthy, V. (2023). Our Epidemic of Loneliness and Isolation: The U.S. Surgeon Generalโs Advisory on the Healing Effects of Social Connection and Community.
Global Flourishing Study. (2024). Global Well-Being and Life Satisfaction Report.

Komentar