JEDADULU.COM โ Di tengah memanasnya konflik Timur Tengah pasca-serangan gabungan Amerika Serikat (AS)-Israel ke Iran pekan lalu, nama Prof Jiang Xueqin kembali mencuri perhatian publik. Bukan tanpa sebab, pengamat sejarah dan geopolitik lulusan Yale University ini ternyata sudah memprediksi perang ini sejak 2024 lalu. Dan prediksinya kini terbukti.
Kanal YouTube miliknya, Predictive History, yang juga kerapkali ditonton oleh aktris Indonesia Dian Sastrowardoyo, tiba-tiba ramai dikunjungi warganet yang penasaran dengan analisisnya.
Dalam video terbaru yang diunggah Selasa (3/3/2026), Prof Jiang dengan lugas menyatakan bahwa meski AS dan Israel unggul secara teknologi militer, mereka tidak akan mampu memenangkan perang melawan Iran.
Prediksi 2024 yang Kini Jadi Nyata
Pada 10 Mei 2024, Prof Jiang sudah menyampaikan analisis mendalam tentang alasan AS akan menginvasi Iran. Saat itu ia menyebut dua faktor utama: lobi Israel dan kebutuhan AS untuk mempertahankan statusnya sebagai “kerajaan” (empire).
“Sekarang, Perang Dunia III telah dimulai. AS dan Israel telah mulai menyerang Iran dan kita sekarang berada di hari keempat perang ini. Kita dapat memperkirakan perang ini akan berlangsung selama berminggu-minggu, mungkin juga bertahun-tahun. Tapi setelah perang ini berakhir, dunia tidak akan pernah sama lagi,” ujar Prof Jiang.
Fondasi Kerajaan AS: Petrodolar dan GCC
Prof Jiang menjelaskan bahwa untuk memahami mengapa AS begitu ngotot, maka harus melihat kembali sejarah pembentukan Amerika pada 1776. Kekuatan AS sebagai kerajaan modern, menurutnya, bertumpu pada dua pilar: negara-negara Teluk (GCC) dan sistem petrodolar.
“Jika GCC kolaps, maka perekonomian Amerika akan runtuh. 80 persen makanan yang dikonsumsi negara-negara GCC adalah impor. Jika Selat Hormuz ditutup, mereka akan kelaparan. Selat Hormuz adalah kunci, dan Iran menutupnya untuk mencekik ekonomi global dan meruntuhkan kerajaan AS,” jelasnya Prof Jiang.
Doktrin Militer Abad 20 vs Perang Abad 21
Salah satu poin paling tajam dari analisis Prof Jiang adalah kritiknya terhadap doktrin militer AS yang dinilainya tidak relevan untuk perang modern.
AS menggunakan strategi “shock and awe”โmemenggal kepala musuh dengan harapan tubuhnya akan runtuh. Tapi Iran melihat ini sebagai perang agama. Iran mengumumkan perang penuh, dan komando serta kendali mereka terdesentralisasi. Jika satu pimpinan gugur, yang lain akan melanjutkan.
“Jadi Anda memenggal kepalanya, itu tidak mengubah apa pun. Sayangnya, Israel dan Amerika menggunakan ini sebagai doktrin militer. Meskipun Amerika tampak seperti tentara tak terkalahkan, mereka tidak dilengkapi untuk berperang dalam perang abad ke-21 melawan drone, melawan fanatik agama,” tegas Prof Jiang.
Perbandingan: AS-Iran dalam Analisis Prof Jiang
| Aspek | AS-Israel | Iran |
|---|---|---|
| Doktrin Militer | Shock and Awe (pemenggalan kepala) | Perang agama, terdesentralisasi |
| Fondasi Kekuatan | Petrodolar & aliansi GCC | Ketahanan domestik & penguasaan Selat Hormuz |
| Kesiapan Perang | Teknologi tinggi, tapi tidak siap perang gerilya modern | Fanatik agama, siap perang total |
| Titik Lemah | Runtuh jika GCC kolaps | Rentan blokade ekonomi |
| Prediksi | Tidak akan menang, dunia berubah selamanya | Mampu bertahan, mengubah tatanan global |
Dampak ke Ekonomi Global
Penutupan Selat Hormuz yang dilakukan Iran sebagai balasan atas serangan AS-Israel telah memicu kekhawatiran global. Selat strategis ini mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Jika berlarut, harga minyak bisa meroket dan memicu resesi global.
Prof Jiang menegaskan bahwa konsekuensi perang ini tidak akan terbatas pada militer. Runtuhnya petrodolar akan mengubah peta ekonomi dunia secara fundamental.
Dian Sastro dan Fenomena Prof Jiang
Menariknya, Prof Jiang menjadi sorotan publik Indonesia setelah aktris Dian Sastrowardoyo mengaku gemar menonton konten-kontennya. Dalam berbagai kesempatan, Dian memang dikenal sebagai sosok yang gemar mendalami sejarah dan geopolitik.
Kini, di tengah krisis global, kanal YouTube Prof Jiang menjadi rujukan banyak orang yang ingin memahami lebih dalam akar konflik dan prediksi masa depan.
Kesimpulan Prof Jiang: Dunia tidak akan Kembali Seperti Sebelumnya
Prof Jiang mengakhiri analisisnya dengan peringatan keras: apa pun hasil akhir perang ini, dunia tidak akan pernah sama lagi. Tatanan global yang dibangun AS pasca-Perang Dunia II sedang berada di ujung tanduk.
Apakah prediksinya akan tepat seratus persen? Hanya waktu yang bisa menjawab. Namun yang pasti, analisisnya telah memberi kerangka berpikir baru untuk memahami kompleksitas konflik yang sedang berlangsung.
(Berbagai Sumber)

Komentar