JEDADULU.COM — Tren gaya hidup sehat kembali ramai di media sosial (medsos). Kali ini, istilah “fibremaxxing” atau kebiasaan mengonsumsi serat dalam jumlah tinggi menjadi sorotan.
Banyak warganet berlomba-lomba menambah asupan serat demi tubuh lebih sehat dan berat badan terkontrol. Namun, para ahli mengingatkan: terlalu banyak serat justru bisa mengganggu pencernaan.
Melansir laporan The Guardian, Senin (30/3/2026), ahli gizi dari King’s College London, Emily Leeming, menyatakan bahwa serat memang penting, tetapi tetap harus dikonsumsi secara proporsional.
“Serat mendukung kesehatan pencernaan, menurunkan risiko kanker usus dan penyakit jantung, serta membantu mengontrol gula darah,” ujar Leeming.
Rekomendasi asupan serat untuk orang dewasa sekitar 30 gram per hari. Namun, data survei nutrisi di Inggris dan Eropa menunjukkan rata-rata konsumsi masyarakat masih sekitar 16 gram per hari—hampir setengah dari angka anjuran.
Kondisi serupa juga terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia, berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) terkait pola makan global.
Meski begitu, meningkatkan asupan serat tidak boleh dilakukan secara drastis. Leeming mengingatkan bahwa lonjakan konsumsi serat secara tiba-tiba bisa memicu kembung, begah, bahkan gangguan buang air besar. “Serat bekerja seperti spons. Tanpa cukup cairan, justru bisa menimbulkan rasa tidak nyaman,” jelasnya.
Leeming juga tidak menyarankan konsumsi serat ekstrem, misalnya di atas 50 gram per hari. Selain sulit dipertahankan, pola makan terlalu restriktif berpotensi memicu ketidakseimbangan nutrisi.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal medis internasional menunjukkan tambahan sekitar 7 gram serat per hari sudah berkaitan dengan penurunan risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan kanker kolorektal. Bahkan peningkatan 5 gram per hari dikaitkan dengan penurunan risiko depresi hingga 5 persen.
Sumber serat alami bisa diperoleh dari sayuran hijau, buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, serta polong-polongan. Kuncinya adalah peningkatan bertahap dan diimbangi konsumsi air putih yang cukup.
Tren kesehatan memang menarik diikuti, tetapi pendekatan ekstrem bukan solusi jangka panjang. Pola makan sehat idealnya realistis, seimbang, dan sesuai kebutuhan tubuh masing-masing.
(Sumber: The Guardian)

Komentar