SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ulas Dulu
Beranda ยป Berita ยป Valentine Kemanusiaan

Valentine Kemanusiaan

Di Hari Valentine, kami merayakan kasih sayang kemanusiaan dengan cokelat, kurma, lampion, dan jiwa yang damai.
Di Hari Valentine, kami merayakan kasih sayang kemanusiaan dengan cokelat, kurma, lampion, dan jiwa yang damai. (Foto: Canva)

Oleh Mila Muzakkar *)

Matahari begitu terik pagi itu. Silaunya menembus ke dalam kaca helm yang kupakai. Gojek yang kutumpangi memasuki gang yang dipadati oleh pedagang berbagai jenis makanan. Lampion menghiasi sepanjang jalanan.

Barisan lampion terpasang indah di teras hingga seisi ruangan salah satu gereja tua di kawasan Pecinan Glodok. Ornamen-ornamen di dalamnya pun menunjukkan gaya khas Tionghoa. Lebih mirip kelenteng ketimbang gereja.

Memang, sebelum berfungsi sebagai gereja sekitar tahun 1954, tanah dan bangunan ini adalah rumah warga Tionghoa. Tak sedikit orang yang “salah kamar”.

Di halaman depan, puluhan anak mudaโ€”memakai pakaian warna pink dan merah khas hari Valentine dan Imlekโ€”berkumpul, ngobrol, melihat-lihat ke sekeliling, sebagian terlihat sibuk mengambil gambar. Segera aku bergabung dengan mereka.

Panduan Ringkas Salat Tarawih dan Witir di Rumah Beserta Dalilnya

“90 persen warga di sini adalah keturunan Tionghoa. Jadi ornamen khas masih dipertahankan,” sambung sang koster.

Aku membaca ini sebagai wujud nyata toleransi beragama.

Ada hal lain yang menarik perhatianku. Di depan pintu masuk gereja, terpampang standing banner cukup besar yang bertuliskan: “Pertobatan ekologis: mari kita pelihara bumi milik kita bersama.”

Dan hanya beberapa langkah dari pintu gereja, terpasang poster-poster dengan bingkai besar. Di sana tertulis kalimat-kalimat sakti:

Amalkan Pancasila: kita adil, bangsa sejahtera.”

Awas Kena Tipu! 5 Makanan “Sehat” Ini Ternyata Termasuk Ultra Proses, Ada Yogurt hingga Tahu

“Amalkan Pancasila: kita berhikmat, bangsa bermartabat.”

“Wow, keren banget!” gumamku.

Ia bukan sekadar kata-kata, tapi menjadi metode dakwah yang strategis dan kekinian. Setiap jemaat datang akan membaca, lalu mendengarnya dari ucapan pastor di atas mimbar gereja Santa Maria De Fatima.

“Di masjid-masjid sudah ada poster-poster kayak gini belum ya?” Pertanyaan itu tiba-tiba berseliweran di kepalaku.

**

Sering Keliru Soal Haid? Simak Penjelasan Fikihnya di Sini

Hari itu, 14 Februari 2026, puluhan anak muda lintas agama berkumpul untuk acara “Hang Out Kebinekaan” yang diadakan oleh Generasi Literat.

Pukul 10.30 pagi, acara dimulai. Tuan rumah menyampaikan bahwa gereja ini selalu ramai didatangi para turis lokal dan internasional. Namun baru kali ini didatangi anak-anak muda lintas agama.

“Saya baru tahu ada komunitas kayak gini,” ucap Pak Andreas.

Aku pun memberi sambutan mewakili pelaksana acara. Dalam sambutanku, aku menyampaikan:

Hari ini kita datang ke gereja bukan cuma buat โ€œmain ke tempat orang lainโ€.

Kita datang dengan niat yang lebih dalam: belajar melihat perbedaan bukan sebagai ancaman, tapi sebagai kesempatan untuk saling mengenal dan bertumbuh.

Langkah kita hari ini sedang bilang ke dunia: anak muda masih punya harapan, masih memilih dialog daripada curiga, memilih kenalan daripada menghakimi.

Hari ini, bertepatan dengan Valentine. Hari yang identik dengan cinta dan kasih sayang.

Kita sedang mempraktikkan cinta versi yang lebih luas: bukan cuma cinta romantis, tapi cinta kemanusiaan.

Karena kebinekaan itu bukan slogan atau hafalan teori, tapi pekerjaan hati: menyadari bahwa Tuhan sengaja menciptakan manusia berbeda, membuka hati untuk saling mendengar, lalu berusaha saling memahami dan saling menghargai.

Dialog, tanya jawab, dan refleksi pun terjadi antara peserta dengan koster. Kami mengakhiri dengan memberi cokelat pada koster.

“Karena ini hari Valentine, kami memberi cokelat kemanusiaan ya, Pak,” ucapku dengan senyum paling manis.

**

Hanya berjarak sekitar lima menit dari gereja, rombongan Hang Out Kebinekaan berjalan ke tempat hang out kedua: Vihara Toasebio.

Kami disambut oleh Ketua Harian Yayasan Vihara Dharma Jaya Toasebio, Pak Tjanra Sentosa. Pak Tjanra mengajak kami tur ke semua sudut vihara sembari menjelaskan sejarah dan fungsi masing-masing.

Saat itu vihara ramai dengan persiapan Imlek. Beberapa umat Buddhis juga terlihat lalu-lalang untuk bersembahyang.

Dalam setengah hari, puluhan anak muda lintas agama telah mengunjungi dua rumah ibadah yang berbeda. Di Hari Valentine, kami merayakan kasih sayang kemanusiaan dengan cokelat, kurma, dan jiwa yang damai.

Perdamaian dunia mungkin terdengar jauh. Perubahan besar mungkin tidak terjadi hari ini. Tapi apa yang kami lakukan hari ini memberi harapan bahwa dunia akan tetap baik-baik saja sebab anak-anak muda memilih mengenal ketimbang membenci duluan, berani saling mendengar, saling menghargai, dan tetap memilih cinta di tengah perbedaan.

Jakarta, 18 Februari 2026

*) Founder Generasi Literat

Pada 14 Februari 2026, puluhan anak muda lintas agama berkumpul untuk acara “Hang Out Kebinekaan” yang diadakan oleh Generasi Literat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *