Daftar Klaim Pseudosains Paling Kontroversial di Dunia

    Pseudosains Rasisme Ilmiah. (Gambar: www.theguardian.com)

          


Pseudosains adalah proposisi, temuan, atau sistem penjelasan yang disajikan sebagai sains tetapi tidak memiliki ketelitian yang penting dalam metode ilmiah. Pseudosains memunculkan berbagai macam hoaks atau kebohongan yang dikemas seolah ilmiah. Pseudosains juga bisa merupakan hasil penelitian yang didasarkan pada premis yang salah, desain eksperimen yang cacat, atau data yang buruk.

Klaim-klaim ini sering kali diabaikan oleh komunitas ilmiah karena mereka tidak konsisten dengan bukti empiris yang luas dan tidak mengikuti metode ilmiah yang rigor. Bantahan terhadap klaim-klaim ini didasarkan pada bukti yang kuat dari berbagai disiplin ilmu, termasuk astronomi, fisika, arkeologi, dan linguistik.

Pseudosains apa saja yang masih dipercaya oleh sebagian orang, ya? Yuk, disimak!

1. Rasisme Ilmiah

Richard Lynn adalah seorang psikolog yang terkenal karena karyanya tentang perbedaan kecerdasan antar ras, yang telah menuai kontroversi dan kritik signifikan.  Para pembelanya mengaku membela kebenaran yang tidak menyenangkan, namun ilmu pengetahuan ras masih tetap palsu. (Gavin Evans:2018). Masih ingat dengan data yang menunjukan rata rata IQ Orang Indonesia hanya 78? orang inilah yang menyebarkan hoax tersebut.

Salah satu klaimnya adalah bahwa ada perbedaan rata-rata dalam kecerdasan antara ras, dengan menyatakan bahwa orang kulit hitam memiliki IQ yang lebih rendah daripada orang kulit putih. Selain itu, ia juga terkenal karena penelitiannya yang kontroversial tentang perbedaan rata-rata kecerdasan antara bangsa dan kelompok etnis.

Richard Lynn pernah menjabat sebagai asisten editor dan pemimpin redaksi jurnal Mankind Quarterly, yang sering dianggap sebagai jurnal supremasi kulit putih dan pendukung rasisme ilmiah. Penelitian Lynn berfokus pada kecerdasan, dan ia dikenal karena pandangannya mengenai perbedaan kecerdasan berdasarkan jenis kelamin dan ras.

Banyak ilmuwan telah mengkritik karya Richard Lynn tentang perbedaan ras dan kebangsaan dalam kecerdasan karena dianggap kurang memenuhi standar ketelitian ilmiah, salah mengartikan data, dan mempromosikan agenda politik rasialis.  

Beberapa cendekiawan dan intelektual menyatakan bahwa Lynn terlibat dengan jaringan akademisi dan organisasi yang mendukung rasisme ilmiah. Pada akhir 1970-an, Lynn menulis bahwa ia menemukan orang Asia Timur memiliki kecerdasan rata-rata (IQ) lebih tinggi daripada orang Eropa, dan orang Eropa memiliki IQ rata-rata lebih tinggi daripada orang Afrika sub-Sahara. Pada tahun 1990, ia mengusulkan bahwa efek Flynn—peningkatan bertahap skor IQ di seluruh dunia sejak 1930-an—mungkin dijelaskan oleh perbaikan nutrisi. 

Buku terkenalnya termasuk "IQ and the Wealth of Nations" dan "The Bell Curve" (bersama Richard Herrnstein).

Dalam dua buku yang ditulis bersama Vanhanen, Lynn dan Vanhanen berargumen bahwa perbedaan indeks perkembangan antar negara sebagian disebabkan oleh IQ rata-rata warganya. Earl Hunt dan Werner Wittmann (2008) mempertanyakan validitas metode penelitian mereka dan kualitas data yang sangat tidak konsisten yang digunakan Lynn dan Vanhanen dalam analisis mereka. 
 
Lynn juga berpendapat bahwa tingkat kesuburan yang tinggi di antara individu dengan IQ rendah merupakan ancaman besar bagi peradaban Barat, karena ia percaya bahwa orang dengan skor IQ rendah pada akhirnya akan melebihi jumlah individu dengan IQ tinggi. Ia mendukung langkah-langkah politik untuk mencegah hal ini, termasuk kebijakan anti-imigrasi dan eugenika, yang memicu kritik keras secara internasional.

Gagasan bahwa ras tertentu secara inheren lebih cerdas daripada ras lain disuarakan oleh sekelompok kecil antropolog, peneliti IQ, psikolog, dan pakar yang menggambarkan diri mereka sebagai pembangkang yang mulia, yang membela fakta-fakta yang tidak menyenangkan. Melalui perpaduan yang mengejutkan antara sumber-sumber media pinggiran dan arus utama, ide-ide ini menjangkau khalayak baru, yang menganggapnya sebagai bukti superioritas ras tertentu. 

Meskipun ilmu pengetahuan ras telah berulang kali dibantah oleh penelitian ilmiah, dalam beberapa tahun terakhir ilmu ini kembali muncul. Banyak pendukung ilmu ras yang paling gigih saat ini adalah bintang “alt-right”, yang suka menggunakan pseudosains untuk memberikan pembenaran intelektual terhadap politik etno-nasionalis. Jika Anda yakin bahwa masyarakat miskin menjadi miskin karena mereka pada dasarnya kurang cerdas, maka mudah untuk mengambil kesimpulan bahwa solusi liberal, seperti tindakan afirmatif atau bantuan asing, pasti akan gagal. 

Ada beberapa fakta tak terbantahkan dan tokoh-tokoh yang membantah klaim-klaim Lynn dengan kuat. 

Berikut adalah beberapa poin penting dan tokoh-tokoh kunci dalam perdebatan ini:

1. Pengaruh Lingkungan Terhadap Kecerdasan:

Fakta: Penelitian menunjukkan bahwa faktor lingkungan, seperti akses ke pendidikan, nutrisi, status sosial ekonomi, dan paparan racun, memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan kecerdasan.

Peneliti: James Flynn, yang terkenal dengan "Flynn Effect," menunjukkan bahwa IQ populasi telah meningkat secara signifikan dari generasi ke generasi, yang tidak dapat dijelaskan oleh perubahan genetik tetapi oleh perbaikan kondisi lingkungan.

2. Metodologi yang Dipertanyakan:

Fakta: Banyak penelitian Lynn menggunakan data yang tidak konsisten dan metodologi yang dipertanyakan. Sebagai contoh, Lynn sering menggabungkan data IQ dari berbagai studi yang tidak setara dalam hal metode pengukuran dan populasi yang diteliti.

Peneliti: Stephen Jay Gould, dalam bukunya "The Mismeasure of Man," mengkritik metode pengukuran kecerdasan yang digunakan oleh Lynn dan menunjukkan bagaimana bias dan kesalahan metodologis dapat mempengaruhi hasil penelitian.

3. Bias Rasial dan Kepentingan Ideologis:

Fakta:  Beberapa kritik terhadap karya Lynn menunjukkan bahwa hasil penelitiannya dapat dipengaruhi oleh bias rasial dan kepentingan ideologis tertentu.
 
Peneliti: Richard Nisbett, dalam bukunya "Intelligence and How to Get It: Why Schools and Cultures Count," menekankan bahwa faktor budaya dan pendidikan jauh lebih menentukan dalam perkembangan kecerdasan daripada faktor genetik yang dihipotesiskan oleh Lynn.

4. Kesulitan dalam Replikasi:
FaktaTemuan-temuan Lynn sulit direplikasi oleh peneliti lain, yang merupakan tanda penting dari validitas ilmiah yang dipertanyakan.

Peneliti: Earl Hunt, dalam bukunya "Human Intelligence," menunjukkan bahwa banyak klaim Lynn tidak dapat direplikasi dalam studi yang lebih ketat dan terkendali, yang menimbulkan keraguan besar terhadap validitas temuan Lynn.

5. Kesetaraan Kecerdasan Antar Ras:

Fakta: Banyak penelitian modern menunjukkan bahwa ketika faktor-faktor sosial ekonomi dan pendidikan dikendalikan, perbedaan dalam hasil tes kecerdasan antara kelompok rasial berkurang secara signifikan atau bahkan menghilang.

Peneliti: Sandra Scarr dan Richard Weinberg, melalui studi adopsi transrasial mereka, menunjukkan bahwa anak-anak kulit hitam yang diadopsi oleh keluarga kulit putih yang berada dalam lingkungan sosial ekonomi yang baik menunjukkan skor IQ yang lebih tinggi daripada rata-rata nasional untuk orang kulit hitam.

Tokoh-Tokoh yang Membantah Richard Lynn:

1. James Flynn:
  Kontribusi: Mengembangkan konsep "Flynn Effect," yang menunjukkan peningkatan IQ yang signifikan dari generasi ke generasi akibat faktor lingkungan, bukan genetik.

2. Stephen Jay Gould:
  Kontribusi: Mengkritik metode pengukuran kecerdasan yang digunakan oleh Lynn dalam bukunya "The Mismeasure of Man," menunjukkan bias dan kesalahan metodologis.

3. Richard Nisbett:
Kontribusi: Menunjukkan pentingnya faktor budaya dan pendidikan dalam bukunya "Intelligence and How to Get It: Why Schools and Cultures Count," membantah klaim genetik Lynn tentang kecerdasan.

4. Earl Hunt:
Kontribusi: Menunjukkan kesulitan dalam mereplikasi temuan Lynn dalam bukunya "Human Intelligence," dan menekankan pentingnya validitas ilmiah yang rigor.

5. Sandra Scarr dan Richard Weinberg:
Kontribusi: Melalui studi adopsi transrasial mereka, menunjukkan bahwa lingkungan sosial ekonomi yang baik dapat meningkatkan skor IQ anak-anak kulit hitam, membantah klaim Lynn tentang determinisme genetik rasial dalam kecerdasan.

Karya Richard Lynn tentang perbedaan kecerdasan antar ras telah banyak dikritik dan dibantah oleh komunitas ilmiah. Fakta-fakta tentang pengaruh besar faktor lingkungan terhadap kecerdasan, metodologi yang dipertanyakan, dan kesulitan dalam mereplikasi hasil penelitian Lynn menunjukkan bahwa klaimnya tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Tokoh-tokoh seperti James Flynn, Stephen Jay Gould, Richard Nisbett, Earl Hunt, dan Sandra Scarr telah memberikan bantahan yang kuat dan berbasis bukti terhadap pandangan Lynn.

2. Taj Mahal dan Ka'abah Bekas Kuil Hindu

Purushottam Nagesh Oak (1917-2007) adalah seorang penulis dan peneliti India yang dikenal karena klaimnya tentang sejarah alternatif India.

Klaim: Salah satu klaim terkenalnya adalah bahwa bangunan Taj Mahal aslinya adalah kuil Hindu yang disebut "Tejo Mahalaya", dan bahwa banyak struktur lain di India sebenarnya berasal dari masa Hindu dan dibangun ulang oleh Muslim. Selain itu, ia juga mengklaim bahwa Kekaisaran Vikramaditya menguasai wilayah yang luas termasuk Asia.

P.N. Oak mengklaim bahwa Ka'bah di Mekah, situs paling suci dalam Islam, sebenarnya adalah kuil kuno Shiva Linggam yang didedikasikan untuk Dewa Siwa, salah satu dewa utama dalam agama Hindu.

Buku: Beberapa bukunya termasuk "Taj Mahal: The True Story" dan "Some Blunders of Indian Historical Research".

Bantahan Pseudosains: Klaim P.N. Oak telah ditolak oleh mayoritas ahli sejarah karena:
  - Kurangnya bukti arkeologis yang mendukung klaimnya.
  - Metode penelitiannya tidak ilmiah dan sering kali bersifat spekulatif.
  - Mengabaikan bukti sejarah yang telah ditetapkan secara luas.

Tidak ada bukti arkeologis atau dokumentasi historis yang mendukung klaim bahwa Ka'bah pernah menjadi kuil Hindu. Struktur dan sejarah Ka'bah didokumentasikan dengan baik dalam literatur Islam dan arkeologi Timur Tengah.

Sejarawan Islam dan arkeolog Timur Tengah, seperti Patricia Crone, telah melakukan penelitian mendalam tentang sejarah Ka'bah dan menemukan bukti yang konsisten dengan tradisi Islam, tanpa indikasi adanya koneksi ke agama Hindu.

Oak sering kali mengandalkan etimologi spekulatif dan interpretasi subjektif dari nama dan teks kuno, yang tidak didukung oleh bukti empiris.

Peneliti: Akademisi seperti Irfan Habib dan Romila Thapar menunjukkan bahwa metode interpretasi Oak tidak sesuai dengan standar akademik yang rigor dan sering kali mengabaikan konteks sejarah dan budaya.

Oak juga mengklaim bahwa Kekaisaran Vikramaditya, yang konon memerintah dari India, menguasai sebagian besar Asia, termasuk Rusia. Menjadikan Vikramaditya sebagai kekaisaran terbesar sepanjang sejarah melebihi Imperium Britania.

Bantahan:

1. Ketiadaan Bukti Historis:

Fakta: Tidak ada bukti sejarah atau arkeologis yang mendukung klaim bahwa Kekaisaran Vikramaditya pernah menguasai wilayah yang luas seperti yang diklaim oleh Oak. Sejarah Rusia dan Asia Tengah memiliki dokumentasi yang jelas dan berbeda mengenai kerajaan dan kekaisaran yang pernah ada di wilayah tersebut.

Sejarawan yang mengkhususkan diri dalam sejarah Rusia dan Asia, seperti Richard Pipes dan George Vernadsky, tidak menemukan bukti yang mendukung adanya pengaruh atau kekuasaan India yang sedemikian luas.

2. Metodologi yang Dipertanyakan:

Fakta: Oak sering kali menggunakan bukti yang tidak dapat diverifikasi dan interpretasi teks yang tidak akurat untuk mendukung klaimnya.

Akademisi seperti D.N. Jha dan Romila Thapar telah menunjukkan bahwa pendekatan Oak tidak sesuai dengan metodologi sejarah yang rigor dan sering kali mengandung bias nasionalistik yang tidak didukung oleh bukti empiris.

Tokoh-Tokoh yang Membantah P.N. Oak:

1. Irfan Habib:
Kontribusi: Sejarawan terkemuka yang telah mengkritik klaim Oak sebagai tidak berdasar dan tidak didukung oleh bukti sejarah yang kredibel.

2. Romila Thapar:

Kontribusi: Sejarawan terkenal yang secara kritis mengevaluasi metode dan klaim Oak, menunjukkan kekurangan bukti dan interpretasi yang tidak akurat.

3. D.N. Jha:
Kontribusi: Ahli sejarah yang menunjukkan bahwa klaim-klaim Oak sering kali didasarkan pada etimologi spekulatif dan bukti yang tidak dapat diverifikasi.

4. Richard Pipes dan George Vernadsky:

Kontribusi: Sejarawan yang mengkhususkan diri dalam sejarah Rusia dan Asia Tengah, tidak menemukan bukti yang mendukung klaim Oak tentang Kekaisaran Vikramaditya.

Klaim P.N. Oak tentang Ka'bah sebagai kuil Dewa Siwa dan Kekaisaran Vikramaditya yang menguasai Asia termasuk Rusia, telah banyak dibantah oleh sejarawan dan arkeolog terkemuka. Kritik-kritik ini didasarkan pada kekurangan bukti arkeologis dan historis, serta metodologi yang dipertanyakan. Tokoh-tokoh seperti Irfan Habib, Romila Thapar, dan D.N. Jha telah secara kritis mengevaluasi klaim-klaim Oak dan menunjukkan bahwa mereka tidak didukung oleh bukti empiris yang kuat.

3. Klaim Bumi Datar: 

Penulis: Berbagai tokoh, termasuk Eric Dubay dan Mark Sargent
- Eric Dubay: "The Flat-Earth Conspiracy"
- Mark Sargent: "Flat Earth Clues"
- Rob Skiba: "Testing the Globe"
- Nathan Thompson: "The Infinite Plane Society"

Pendukung teori Bumi datar berpendapat bahwa Bumi bukanlah bola yang berputar, melainkan sebuah cakram datar. Mereka mengklaim bahwa foto-foto Bumi dari luar angkasa adalah palsu, dan bahwa fenomena seperti lengkungan horison dan gravitasi dapat dijelaskan dengan teori mereka sendiri.

Pendukung teori Bumi datar menuduh NASA memalsukan misi luar angkasa dan foto-foto Bumi dari luar angkasa. Mereka berpendapat bahwa semua bukti yang menunjukkan Bumi bulat adalah hasil manipulasi oleh NASA dan badan antariksa lainnya.

Pendukung teori ini mengklaim bahwa Antartika adalah dinding es yang mengelilingi Bumi datar, dan bahwa pemerintah dunia telah bersekongkol untuk menyembunyikan kebenaran ini dari publik. Mereka berpendapat bahwa penerbangan dan ekspedisi ke Antartika diatur untuk mencegah orang menemukan kebenaran.

Bantahan Pseudosains:

1. Kolaborasi Internasional:

Banyak negara memiliki program antariksa sendiri dan telah memotret Bumi dari luar angkasa, yang semuanya menunjukkan Bumi bulat. Ini termasuk badan antariksa dari negara-negara seperti Rusia, China, India, dan Eropa.

2. Bukti Independen: Selain NASA, ada banyak sumber independen yang telah membuktikan bentuk Bumi bulat, termasuk foto-foto yang diambil oleh satelit cuaca, komunikasi, dan penginderaan jauh.

3. Teknologi dan Penelitian: Ilmuwan dan insinyur di seluruh dunia menggunakan model Bumi bulat untuk navigasi, peluncuran satelit, dan banyak aplikasi ilmiah lainnya. Jika Bumi datar, banyak dari teknologi ini tidak akan berfungsi dengan benar.

4. Ekspedisi dan Penelitian di Antartika: Banyak ekspedisi dan penelitian ilmiah yang dilakukan di Antartika oleh berbagai negara. Data dan temuan dari ekspedisi ini tersedia untuk umum dan menunjukkan bahwa Antartika adalah benua di ujung selatan Bumi.

5. Penerbangan Komersial: Beberapa penerbangan komersial terbang melintasi Antartika atau di dekatnya, dan jalur penerbangan ini tidak sesuai dengan model Bumi datar.

6. Perjanjian Antartika: Perjanjian Antartika mengatur penggunaan wilayah ini untuk tujuan damai dan penelitian ilmiah, dan tidak mendukung teori konspirasi yang diajukan oleh pendukung Bumi datar.

7. Evidensi Satelit dan Foto dari Luar Angkasa: Foto-foto Bumi dari satelit dan misi luar angkasa, seperti yang diambil oleh NASA, menunjukkan Bumi sebagai bola. Ini didukung oleh data dari berbagai misi luar angkasa dan satelit dari berbagai negara.

8. Fenomena Gravitasi: Gravitasi menyebabkan objek jatuh ke arah pusat massa. Jika Bumi datar, distribusi gravitasi akan berbeda dan tidak sesuai dengan pengamatan kita sehari-hari.

9. Kurva Horison: Dengan menggunakan teleskop atau pesawat terbang pada ketinggian tinggi, lengkungan horison dapat diamati, yang tidak mungkin jika Bumi datar.

4.  Manusia Diciptakan oleh Ras Alien Anunakki

Zecharia Sitchin mengklaim bahwa Anunnaki, dewa-dewa dalam mitologi Sumeria, sebenarnya adalah makhluk luar angkasa dari planet Nibiru yang menciptakan manusia melalui rekayasa genetika untuk menjadi budak mereka dalam menambang emas. Sitchin menginterpretasikan teks-teks kuno Mesopotamia sebagai bukti dari intervensi alien ini.

Buku dan Sumber:
- Zecharia Sitchin: "The 12th Planet" dan seri buku "Earth Chronicles"

Bantahan Pseudosains:

1. Kesalahan Interpretasi Teks Kuno: Ahli bahasa Sumeria dan Assyriologi telah mengkritik interpretasi Sitchin terhadap teks-teks kuno sebagai tidak akurat dan tidak sesuai dengan pemahaman ilmiah tentang bahasa dan budaya Sumeria.
2. Ketiadaan Bukti Arkeologis: Tidak ada bukti arkeologis yang mendukung klaim bahwa Anunnaki adalah makhluk luar angkasa atau bahwa planet Nibiru pernah ada. Planet Nibiru tidak ditemukan dalam astronomi modern.
3. Penjelasan Alternatif: Banyak cerita dalam mitologi Sumeria dapat dijelaskan melalui konteks budaya dan agama mereka tanpa memerlukan intervensi alien. Mitologi ini lebih cenderung mencerminkan pandangan dunia dan kepercayaan spiritual masyarakat Sumeria daripada bukti kontak dengan makhluk luar angkasa.

5.  Pendaratan di Bulan adalah Palsu

Para pendukung teori konspirasi ini mengklaim bahwa pendaratan di bulan oleh NASA, terutama misi Apollo 11 pada tahun 1969, adalah rekayasa. Mereka menyatakan bahwa NASA memalsukan pendaratan di bulan menggunakan set film dan teknik khusus efek, dan bahwa semua bukti foto, video, dan material bulan adalah palsu.

Padahal banyak negara, termasuk Uni Soviet yang merupakan saingan utama AS dalam Perlombaan Antariksa, melacak dan memverifikasi misi Apollo menggunakan radar dan teleskop mereka sendiri. Astronom dan ilmuwan dari berbagai negara, termasuk pihak yang netral, telah mengonfirmasi pendaratan di bulan berdasarkan pengamatan mereka sendiri.

Mulai dari analisis fotografi dan video hingga pengamatan teleskop, sampel batuan bulan, dan kesaksian ribuan orang yang terlibat, menunjukkan bahwa pendaratan di bulan adalah nyata dan bukan rekayasa. Klaim bahwa pendaratan di bulan adalah hasil rekayasa tidak bertahan di bawah pemeriksaan ilmiah yang ketat, sementara bukti yang ada sangat kuat mendukung keaslian misi Apollo.

Penulis dan Pendukung:

Beberapa tokoh terkenal yang mendukung teori konspirasi ini termasuk Bill Kaysing, Ralph Rene, dan Bart Sibrel.
Buku dan Sumber:
- Bill Kaysing: "We Never Went to the Moon: America's Thirty Billion Dollar Swindle"
- Ralph Rene: "NASA Mooned America!"
- Bart Sibrel: Dokumenter "A Funny Thing Happened on the Way to the Moon"

Bantahan Pseudosains:

1. Bukti Fotografi dan Video:

Fakta: Foto-foto dan video yang diambil selama misi Apollo menunjukkan pemandangan bulan, bendera Amerika Serikat yang berkibar, dan jejak kaki di permukaan bulan. Analisis independen terhadap foto-foto ini menunjukkan bahwa mereka konsisten dengan lingkungan di bulan dan tidak menunjukkan tanda-tanda pemalsuan.

Peneliti: Banyak insinyur dan fotografer profesional telah memeriksa foto-foto dan video ini dan menemukan bahwa mereka tidak mungkin direkayasa menggunakan teknologi yang tersedia pada tahun 1960-an. Misalnya, fotogrametris dan teknisi seperti Dr. Ralph Morse telah membantah klaim ini dengan analisis teknis.

 Kondisi pencahayaan di bulan, dengan tidak adanya atmosfer, menghasilkan bayangan yang sangat tajam dan paralel. Foto-foto yang diambil selama misi Apollo menunjukkan bayangan yang konsisten dengan kondisi ini.

2. Sampel Batu Bulan:

Fakta: Selama misi Apollo, para astronot membawa kembali sekitar 382 kilogram batuan bulan ke Bumi. Batu-batu ini telah dianalisis oleh ilmuwan dari seluruh dunia dan memiliki komposisi kimia dan isotop yang unik yang tidak ditemukan di Bumi.

Peneliti: Geolog seperti Dr. Harrison Schmitt, seorang astronot Apollo 17 dan ilmuwan yang mempelajari batuan bulan, menegaskan bahwa batuan ini tidak bisa dipalsukan dan menunjukkan karakteristik yang unik dari lingkungan bulan.

3. Jejak dan Pengamatan Teleskop:

Fakta: Jejak pendaratan Apollo, seperti modul pendaratan dan jejak kaki astronot, dapat diamati oleh teleskop dan pengorbit bulan modern seperti Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) yang diluncurkan oleh NASA.

Peneliti: Para ilmuwan yang bekerja dengan LRO, seperti Dr. Mark Robinson dari Arizona State University, telah mempublikasikan foto-foto beresolusi tinggi dari situs pendaratan Apollo yang menunjukkan jejak yang ditinggalkan oleh astronot.

4. Kesaksian Ribuan Orang:

Fakta: Lebih dari 400.000 orang terlibat dalam program Apollo, termasuk insinyur, ilmuwan, teknisi, dan astronot. Sulit untuk membayangkan bahwa begitu banyak orang bisa terlibat dalam konspirasi yang begitu besar tanpa ada satu pun yang membocorkan informasi.

Peneliti: Para insinyur dan teknisi seperti Gene Kranz, Direktur Penerbangan Apollo, telah menulis buku dan memberikan kesaksian yang mendetail tentang pengalaman mereka selama misi Apollo, menegaskan bahwa pendaratan di bulan adalah nyata.

5. Pengujian Retroreflektor:

Fakta: Para astronot Apollo meninggalkan retroreflektor di permukaan bulan yang masih digunakan sampai hari ini untuk mengukur jarak antara Bumi dan Bulan dengan menggunakan laser.

Peneliti: Fisikawan dan astronom di berbagai observatorium di seluruh dunia, seperti McDonald Observatory di Texas, secara rutin menggunakan reflektor ini untuk penelitian ilmiah, membuktikan bahwa alat-alat ini benar-benar ada di bulan.
Tokoh-Tokoh yang Membantah Klaim Penyangkalan Pendaratan di Bulan:

1. Dr. Ralph Morse:
Kontribusi: Fotografer yang menganalisis dan membantah klaim tentang pemalsuan foto-foto pendaratan di bulan.

2. Dr. Harrison Schmitt:

Kontribusi: Astronot Apollo 17 dan geolog yang mempelajari batuan bulan, memberikan bukti ilmiah yang mendukung keaslian sampel batuan bulan.

3. Dr. Mark Robinson:

Kontribusi: Ilmuwan yang bekerja dengan Lunar Reconnaissance Orbiter, mempublikasikan foto-foto beresolusi tinggi dari situs pendaratan Apollo.

4. Gene Kranz:

Kontribusi: Direktur Penerbangan Apollo yang memberikan kesaksian mendetail tentang pengalaman selama misi Apollo dan menegaskan keaslian pendaratan di bulan.

Penyangkalan pendaratan di bulan adalah contoh dari pseudosains yang mengabaikan bukti ilmiah yang kuat dan terpercaya. Bukti dari fotografi, batuan bulan, pengamatan teleskop, kesaksian ribuan orang yang terlibat dalam program Apollo, dan pengujian retroreflektor semuanya mendukung kenyataan bahwa pendaratan di bulan oleh NASA adalah nyata. Tokoh-tokoh seperti Dr. Ralph Morse, Dr. Harrison Schmitt, Dr. Mark Robinson, dan Gene Kranz telah memberikan bantahan yang kuat terhadap klaim-klaim penyangkalan ini, menunjukkan bahwa pendaratan di bulan didasarkan pada bukti ilmiah yang tak terbantahkan.

6. Manusia Kadal adalah Elit Global yang Menguasai Bumi:

Sebuah jajak pendapat atau survei menemukan bahwa 12 persen generasi milenial percaya bahwa dunia sedang dikendalikan oleh kadal dalam bentuk manusia. 

Ide yang diperjuangkan oleh mantan presenter BBC dan pesepakola Hereford United, David Icke, menyatakan bahwa alien kadal yang berubah bentuk menjadi manusia telah menguasai Bumi selama berabad-abad.

Dia mengklaim bahwa penguasa - termasuk presiden Amerika dan anggota Keluarga Kerajaan Inggris - benar-benar "humanoid reptil" keturunan alien dinosaurus yang mengendalikan dan memanipulasi masyarakat manusia untuk keuntungan mereka sendiri.

Bukti tak terbantahkan yang menunjukkan bahwa klaim David Icke tentang manusia kadal atau reptilian humanoid salah meliputi:

1. Bukti Biologis dan Evolusi:

Tidak ada bukti ilmiah yang mendukung kemungkinan manusia berubah bentuk menjadi reptil atau memiliki hubungan biologis dengan reptil.
Fosil dan bukti evolusi manusia menunjukkan perkembangan manusia yang berbeda dari reptil, dengan cabang evolusi yang jelas dan berbeda.

2. Konsistensi dengan Prinsip-prinsip Biologi:
 
Klaim tentang manusia kadal bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar biologi, seperti struktur genetik dan perkembangan evolusi manusia.

Tidak ada mekanisme biologis yang dikenal yang dapat menjelaskan transformasi manusia menjadi makhluk reptil.

3. Kurangnya Bukti Empiris yang Konsisten:
   - Tidak ada bukti empiris yang konsisten mendukung keberadaan manusia kadal. Tidak ada bukti langsung seperti fosil, rekaman genetik, atau bukti fisik lainnya yang menunjukkan keberadaan manusia kadal.

4. Klaim yang Tidak Konsisten dan Tidak Dapat Dibuktikan:
   - Klaim David Icke sering kali didasarkan pada spekulasi, interpretasi yang salah, atau pengalaman pribadi yang tidak dapat diverifikasi.
   - Ia sering kali menghubung-hubungkan peristiwa dan simbol secara sewenang-wenang tanpa bukti yang kuat.

5. Konsensus Ilmiah yang Luas:
   - Klaim tentang manusia kadal tidak didukung oleh mayoritas ilmuwan, biolog, atau ahli antropologi. Ini tidak sesuai dengan pengetahuan ilmiah yang ada dan tidak memiliki dukungan dari komunitas ilmiah.

Berdasarkan bukti-bukti ini, klaim David Icke tentang manusia kadal tidak dapat dianggap sebagai teori ilmiah yang terbukti. Sebaliknya, klaim tersebut lebih cocok sebagai teori konspirasi atau pseudosains yang tidak didukung oleh bukti empiris yang kuat.
 
(Damar Pratama Yuwanto)


Sumber:

Mengenai Manusia Kadal David Icke:

1. Icke, David. (1998). "The Biggest Secret: The Book That Will Change the World". Bridge of Love Publications.
   
2. Icke, David. (2017). "Everything You Need to Know But Have Never Been Told". David Icke Books.

 Pseudosains dan Teori Konspirasi:

1. Carroll, Robert Todd. (2003). "The Skeptic's Dictionary: A Collection of Strange Beliefs, Amusing Deceptions, and Dangerous Delusions". John Wiley & Sons.

2. Shermer, Michael. (2002). "Why People Believe Weird Things: Pseudoscience, Superstition, and Other Confusions of Our Time". Holt Paperbacks.

3. Sunstein, Cass R., & Vermeule, Adrian. (2009). "Conspiracy Theories: Causes and Cures". Journal of Political Philosophy, 17(2), 202-227.

Teori Pseudosains Lainnya:

1. Sitchin, Zecharia. (1976). "The 12th Planet (Book I of The Earth Chronicles)". Harper.

2. Lynn, Richard, & Vanhanen, Tatu. (2006). "IQ and Global Inequality". Washington Summit Publishers.

3. Oak, P. N. (1989). "Some Blunders of Indian Historical Research". Bharatiya Sahitya Sadan.

4. Kaysing, Bill. (2002). "We Never Went to the Moon: America's Thirty Billion Dollar Swindle". Health Research Books.

 Kritisisme terhadap Teori Pseudosains:

1. Pigliucci, Massimo, & Boudry, Maarten. (2013). "Philosophy of Pseudoscience: Reconsidering the Demarcation Problem". University of Chicago Press.

2. Nickell, Joe. (2001). "The UFO Invasion: The Roswell Incident, Alien Abductions, and Government Coverups". Prometheus Books.

3. Lilienfeld, Scott O., Lynn, Steven J., & Ruscio, John. (2010). "50 Great Myths of Popular Psychology: Shattering Widespread Misconceptions about Human Behavior". Wiley-Blackwell.
 Mengenai Kritisisme terhadap Klaim Richard Lynn:

1. Nisbett, Richard E. (2009). "Intelligence and How to Get It: Why Schools and Cultures Count". W. W. Norton & Company.

2. Flynn, James R.* (2009). "What Is Intelligence?: Beyond the Flynn Effect". Cambridge University Press.

3. Sternberg, Robert J., Grigorenko, Elena L., & Kidd, Kenneth K.* (2005). "Intelligence, Race, and Genetics". American Psychologist, 60(1), 46–59.

4. Hunt, Earl. (2011). "Human Intelligence". Cambridge University Press.

Karya-karya yang Membantah Klaim Richard Lynn:

1. Gottfredson, Linda S. (2005). "Suppressing Intelligence Research: Hurting Those We Intend to Help". In R. H. Wright & N. A. Cummings (Eds.), "Destructive Trends in Mental Health: The Well Intentioned Path to Harm" (pp. 155–186). Routledge.

2. Suzuki, Lisa A., & Aronson, Joshua. (2005). "The Cultural Malleability of Intelligence and Its Impact on the Racial/Ethnic Hierarchy". "Psychological Review", 112(1), 60–88.

3. Sternberg, Robert J. (2005). "The Economist Intelligence Unit's Quality of Life Index: A Valuable Social Indicator?". "The Psychologist", 18(1), 30–31.

4. Wicherts, Jelte M., Dolan, Conor V., & van der Maas, Han L. J.* (2010). "A Systematic Literature Review of the Average IQ of Sub-Saharan Africans". "Intelligence", 38(1), 1–20.

5. Hunt, Morton. (2012). "The New IQ: How Immigration, Multiculturalism, and Islam Are Changing What It Means to Be Intelligent". Praeger.

6. Fryer Jr, Roland G., & Levitt, Steven D. (2006). "The Black-White Test Score Gap Through Third Grade". "American Law and Economics Review", 8(2), 249–281.

Kritisisme terhadap Metodologi dan Interpretasi Richard Lynn:

1. Sternberg, Robert J., Grigorenko, Elena L., & Kidd, Kenneth K.* (Eds.). (2005). "The Construct of Intelligence". Cambridge University Press.

2. Hunt, Earl. (2006). "The Role of Intelligence in Modern Society". "American Scientist", 94(5), 399–405.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.