20/10/2026
genlit launching buku

Puluhan anak muda dari beragam agama dan kepercayaan menyuarakan pengalaman hidup, identitas, serta harapan mereka tentang perdamaian melalui buku antologi berjudul Dengarkan Aku, Sebelum Kamu Menilai. Buku tersebut diluncurkan dalam acara Pesta Peace Stand Up Nusantara di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta, Sabtu (17/10/2026). (Foto: istimewa)

Generasi Literat meluncurkan buku antologi berisi kisah 25 anak muda lintas agama dan kepercayaan yang mengangkat pengalaman, identitas, dan perdamaian.

JEDADULU.COM — Pengalaman hidup dan suara anak muda dari beragam agama serta kepercayaan terangkum dalam buku antologi Dengarkan Aku, Sebelum Kamu Menilai. Buku yang memuat tulisan 25 anak muda itu diluncurkan dalam acara Pesta Peace Stand Up Nusantara di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta, Sabtu (17/10/2026).

Antologi ini menjadi salah satu hasil program Peace Stand Up Nusantara yang digagas Yayasan Generasi Literat bersama Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (MLKI) dan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI). Program tersebut didukung Sejuk, Tifa Foundation, serta Civicus Alliance.

Sebelum buku diterbitkan, para peserta mengikuti pelatihan di Bogor pada 15–17 Agustus 2026. Mereka berlatih mengemas pengalaman pribadi menjadi materi komedi tunggal, memproduksi video, dan menulis kisah reflektif tentang kehidupan di tengah masyarakat Indonesia yang beragam.

Dari kegiatan itu, lahir 25 video Peace Stand Up yang dipublikasikan melalui kanal digital Generasi Literat. Para peserta juga menuangkan pemikiran dan pengalaman mereka ke dalam buku antologi yang kini diperkenalkan kepada publik.

Direktur Generasi Literat, Mila Muzakkar, mengatakan program ini memberi kesempatan kepada anak muda dari kelompok agama dan kepercayaan yang belum banyak terdengar untuk menceritakan pengalaman mereka sendiri.

“Kalau selama ini yang bicara tentang keragaman adalah kelompok mayoritas, sekarang adalah saatnya untuk menyuarakannya sendiri. Buku ini merupakan salah satu wujud dari suara teman-teman komunitas muda penghayat, dan juga dari berbagai agama dan kepercayaan,” ujar Mila.

Menurut Mila, respons terhadap video peserta di ruang digital beragam, mulai dari apresiasi hingga hujatan. Hal itu memperlihatkan bahwa menyampaikan identitas dan pengalaman pribadi di ruang publik tidak selalu mudah. Meski demikian, keberanian untuk berbicara tetap penting agar masyarakat memiliki kesempatan mengenal pengalaman yang berbeda.

Mila berharap pembaca tidak berhenti pada membaca buku atau menghadiri acara peluncuran. Ia ingin karya tersebut mendorong setiap orang meninjau kembali cara mereka mendengarkan orang lain, terutama mereka yang memiliki latar belakang berbeda.

Pimpinan Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Lutfi, mengapresiasi pertemuan lintas agama dan kepercayaan dalam program tersebut. Ia menilai anak muda dapat berperan sebagai pencipta gagasan dan penyebar pesan perdamaian melalui teknologi serta platform digital.

Alfiana dari Tifa Foundation menyebut program ini sejalan dengan upaya memperkuat demokrasi digital, kebebasan berekspresi, dan inklusivitas di Asia Tenggara serta Asia Timur. Ia mengajak peserta agar tidak ragu menyampaikan gagasan dan pendapat.

“Jangan takut untuk berekspresi, jangan takut untuk mengeluarkan pendapat dan jangan takut untuk mengungkapkan ide kita,” pesannya.

Sementara itu, pimpinan MLKI, Retno, berharap generasi muda terus merawat keberagaman melalui dialog dan karya bersama. Peluncuran buku ini membawa pesan bahwa perdamaian tidak cukup dengan mengakui perbedaan, tetapi juga membutuhkan kesediaan untuk mendengarkan, menghormati hak orang lain, dan menolak diskriminasi.

Melalui buku dan video Peace Stand Up Nusantara, Generasi Literat berharap percakapan tentang keberagaman menjangkau lebih banyak orang dan membuka ruang perjumpaan yang aman bagi semua.

(*)