JEDADULU.COM; COLOMBO — Dunia internasional kembali diguncang eskalasi konflik yang memakan korban jiwa. Sebuah insiden nahas terjadi di perairan Samudra Hindia, saat kapal perang Iran, IRIS Dena, tenggelam setelah diserang torpedo oleh kapal selam Amerika Serikat (AS).
Bukan hanya kerugian materi, tragedi ini meninggalkan duka mendalam dengan belasan korban jiwa yang bertebaran di lautan. Pernyataan keras langsung dilontarkan Teheran. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dengan nada berapi-api menegaskan bahwa AS akan “sangat menyesali” tindakan brutal ini.
Araghchi menuding Washington melakukan kekejaman di laut lepas tanpa peringatan, menyerang kapal yang sedang dalam perjalanan pulang setelah menjadi tamu dalam latihan militer di India.
“AS telah melakukan kekejaman di laut, 2.000 mil dari pantai Iran. Fregat Dena, tamu Angkatan Laut India yang membawa hampir 130 pelaut, dihantam di perairan internasional tanpa peringatan,” kecam Araghchi di media sosial X, Kamis (5/3/2026).
Kengerian di Samudra Hindia
Peristiwa memilukan ini terjadi di lepas pantai selatan Sri Lanka, tepatnya sekitar 40 kilometer dari kota Galle. Kapal fregat IRIS Dena, yang baru saja selesai mengikuti pameran armada internasional (International Fleet Review) di Visakhapatnam, India, dihantam torpedo Mark 48 yang diluncurkan dari kapal selam AS.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, bahkan menyebut serangan ini sebagai “kematian senyap” dan mencatatnya sebagai sejarah karena ini adalah pertama kalinya sejak Perang Dunia II kapal selam AS menenggelamkan kapal musuh dengan torpedo.
Sekitar pukul 5 pagi waktu setempat, sinyal darurat dipancarkan dari kapal yang sekarat. Namun, ketika tim penyelamat Sri Lanka tiba satu jam kemudian, IRIS Dena telah lenyap ditelan Samudra Hindia, hanya menyisakan bercak minyak hitam yang mengambang di permukaan air.
Berikut adalah gambaran kronologi singkat dan data korban yang berhasil dihimpun:
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Nama Kapal | IRIS Dena (kelas Moudge) |
| Lokasi Kejadian | 40 km selatan Galle, Sri Lanka (Samudra Hindia) |
| Waktu Serangan | Rabu dini hari, 4 Maret 2026 |
| Penyebab | Torpedo Mark 48 dari kapal selam AS |
| Jumlah Awak | Sekitar 130-180 personel (berdasarkan sumber berbeda) |
| Korban Tewas | 87 orang |
| Selamat (Luka-luka) | 32 orang |
| Hilang | Puluhan orang (masih dalam pencarian) |
Duka dan Kemarahan di Tengah Laut
Pemandangan memilukan terlihat di perairan Galle. Otoritas setempat, dibantu nelayan dan kapal patroli, berusaha keras mengevakuasi korban selamat dan mengangkat jenazah para pelaut.
Juru bicara Angkatan Laut Sri Lanka, Buddhika Sampath, mengonfirmasi bahwa operasi pencarian masih terus dilakukan untuk menemukan puluhan personel yang dinyatakan hilang.
“Kami menanggapi panggilan darurat tersebut sesuai dengan kewajiban internasional kami,” ujar Sampath, seraya menambahkan bahwa insiden ini berada di dalam area pencarian dan penyelamatan Sri Lanka di Samudra Hindia.
Para korban selamat yang sebagian besar menderita luka-luka kini mendapat perawatan intensif di Rumah Sakit Karapitiya, Galle.
Preseden Berbahaya dan Ancaman Balasan
Bagi Iran, serangan ini bukan hanya soal korban jiwa, tetapi juga preseden berbahaya dalam hukum laut internasional.
Menlu Araghchi menyoroti bahwa serangan terjadi di perairan internasional, jauh dari zona konflik tradisional di Timur Tengah. Ia memperingatkan bahwa tindakan AS telah membuka kotak pandora yang akan berakibat fatal.
“Ingat kata-kata saya: AS akan sangat menyesali preseden yang telah ditetapkannya,” tegas Araghchi, memicu spekulasi tentang bentuk balasan apa yang akan dilancarkan Teheran.
Di sisi lain, militer AS mengeklaim aksi ini sebagai demonstrasi nyata dari jangkauan global kekuatan mereka. Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, menyebutnya sebagai demonstrasi luar biasa dari kemampuan Amerika untuk “memburu, menemukan, dan membunuh” target di mana pun di dunia.
Ketegangan pun semakin memuncak, apalagi serangan ini terjadi di tengah gelombang serangan udara AS dan Israel ke Iran yang telah berlangsung selama beberapa hari dan memakan banyak korban di pihak Iran.
Sikap Sri Lanka: Netral tapi Manusiawi
Di tengah panasnya konflik, Sri Lanka memilih sikap netral. Pemerintah setempat menegaskan bahwa keterlibatan mereka murni berdasarkan kewajiban kemanusiaan dan hukum maritim internasional.
Menteri Kesehatan Nalinda Jayatissa menyatakan bahwa pemerintah melakukan intervensi yang diperlukan untuk membatasi ancaman terhadap jiwa dan memastikan keamanan regional. Sikap ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak, mengingat posisi Sri Lanka yang berada di jalur pelayaran sibuk Samudra Hindia.
Tragedi IRIS Dena ini tidak hanya menambah daftar panjang korban konflik, tetapi juga memicu pertanyaan besar tentang etika peperangan di era modern.
Bisakah sebuah negara dengan sesuka hati menyerang kapal negara lain di perairan internasional? Di mana batas antara menunjukkan kekuatan dan melakukan pelanggaran kemanusiaan? Yang jelas, Samudra Hindia yang biru kini telah berubah menjadi saksi bisu kesedihan puluhan keluarga yang kehilangan orang tercinta.
(Berbagai Sumber)

Komentar