JEDADULU.COM; JAKARTA โ Sebuah surat yang ditulis tangan dengan tinta biru menjadi saksi bisu kepedihan yang tak terperi. “Assalamualaikum Ibu/Bapak yang menemukan adik saya. Saya Zidan ingin minta tolong untuk merawat adik saya karena ibu saya meninggal saat melahirkan,” demikian bunyi pesan yang ditinggalkan Zidan (12 tahun) bersama adik bayinya, Ameera Ramadhani, di gerobak nasi uduk Jalan Pejaten Raya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (3/3/2026) sore.
Bayi perempuan berusia dua hari itu ditemukan dalam kondisi masih hidup, terbungkus selimut putih dan mengenakan baju motif boneka beruang biru. Di sampingnya, Zidan meletakkan tas berisi susu bubuk, tisu basah, sarung tangan, dan surat yang ditulisnya dengan penuh kepasrahan.
Surat Perpisahan Seorang Kakak
Dalam surat yang kemudian viral di media sosial itu, Zidan menuliskan permohonan yang sangat menyentuh. Ia meminta agar adiknya dianggap seperti anak sendiri oleh siapa pun yang menemukannya.
“Tolong anggap seperti anak sendiri karena saya tidak akan menemukan atau mengunjunginya dia lagi. Saya tidak mau masa depan dia seperti saya. Terima kasih,” tulis Zidan dengan ejaan yang apa adanya.
Kalimat “saya tidak akan menemukan atau mengunjunginya dia lagi” menunjukkan betapa Zidan sudah mengambil keputusan final untuk berpisah selamanya dari adiknya demi masa depan yang lebih baik bagi sang bayi.
Kapolsek Pasar Minggu, Kompol Anggiat Sinambela, menjelaskan kronologi penemuan. Awalnya saksi Dinda mendengar suara tangis bayi dari lantai dua rumahnya. Setelah mencari sumber suara, ia menemukan tas berisi bayi di dalam gerobak nasi uduk depan rumah warga.
Saksi lain, Marlinah, bersama Dinda kemudian melaporkan temuan ini ke RT setempat dan Polsek Pasar Minggu. Tim piket fungsi segera turun ke lokasi untuk melakukan pencarian rekaman CCTV dan berkoordinasi dengan berbagai pihak.
Respons Cepat Puskesmas dan Dinas Sosial
Pukul 19.55 WIB, bayi mungil itu akhirnya dibawa ke Puskesmas Pasar Minggu untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut. Kondisinya diperkirakan stabil meski baru berusia dua hari dan harus mengalami peristiwa traumatis.
Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan juga diterjunkan untuk melakukan pendampingan dan asesmen lebih lanjut terhadap kasus ini. Pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mencari keberadaan Zidan yang diduga kuat sebagai kakak kandung bayi tersebut.
Reaksi Publik: Antara Duka dan Kemarahan
Kisah ini sontak mengguncang media sosial. Tagar #ZidanKecil dan #AmeeraRamadhani ramai diperbincangkan. Publik terbelah antara rasa haru pada pengorbanan Zidan dan kemarahan pada sistem yang gagal melindungi dua anak yatim ini.
Seorang netizen menulis, “Hancur hati baca surat Zidan. Dia cuma anak kecil yang harus jadi orang tua buat adiknya. Mana keluarga? Mana tetangga? Mana pemerintah?”
Yang lain menambahkan, “Zidan rela pisah selamanya demi masa depan adiknya. Ini cinta sejati. Tapi ironis, kenapa harus sampai kayak gini? Harusnya ada sistem yang nangkap mereka sebelum sampai titik ini.”
Akun @sahabat_anak mengingatkan, “Ini alarm buat kita semua. Kasus anak terlantar masih jadi PR besar bangsa ini. Jangan cuma baper, tapi dorong pemerintah punya program perlindungan sosial yang bener-bener menjangkau akar rumput.”
Fakta Pilu di Balik Penelantaran Anak
Kasus seperti Ameera dan Zidan bukanlah yang pertama. Data Kementerian Sosial menunjukkan bahwa setiap tahun masih ribuan anak Indonesia terpaksa berpisah dari keluarganya akibat kemiskinan, kematian orang tua, atau ketidakmampuan ekonomi.
Namun, kasus Pasar Minggu ini memiliki keunikan tersendiri: sang kakak, yang masih anak-anak sendiri, mengambil keputusan besar yang memilukan demi masa depan adiknya. Sebuah pengorbanan yang seharusnya tidak perlu terjadi jika ada jaring pengaman sosial yang memadai.
Kasus ini mengajarkan kita bahwa kemiskinan dan ketiadaan jaring pengaman sosial bisa memaksa anak-anak mengambil keputusan tragis. Zidan, yang baru berusia 12 tahun, harus memikul beban yang bahkan orang dewasa pun akan kewalahan menghadapinya.
Pemerintah daerah dan pusat perlu segera mengevaluasi sistem perlindungan anak dan keluarga rentan. Keberadaan puskesmas, dinas sosial, dan RT/RW seharusnya bisa menjadi garda terdepan untuk menangkap kasus seperti ini sebelum sampai pada titik penelantaran.
Sementara itu, doa dan harapan terbaik semoga Ameera mendapatkan keluarga asuh yang benar-benar menyayanginya, dan Zidan bisa ditemukan serta mendapatkan pendampingan psikologis dan sosial yang layak. Dua anak ini layak mendapatkan masa depan yang cerah, meski awal hidupnya begitu kelam.
(Berbagai Sumber)

Komentar