JEDADULU.COM – Di tengah gempuran pabrikan lain yang sibuk meluncurkan motor listrik murah, Yamaha justru memilih berjalan di lajur yang berbeda. Pabrikan berlogo garpu tala itu bukannya tak punya senjata, melainkan lebih memilih berjualan mesin irit ketimbang buru-buru melepas kuda listrik ke pasaran.
Manajer Humas PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM), Rifki Maulana, dengan gamblang mengakui bahwa perusahaannya masih memasang mode “wait and see” untuk pasar kendaraan listrik di Tanah Air. “Concern-nya Yamaha sama EV yang pasti, kita masih watch and learn. Kita masih lihat kondisi market-nya,” kata Rifki di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Investasi besar yang harus digelontorkan untuk serius bermain di segmen setrum ini menjadi alasan utama Yamaha belum mau terburu-buru. “Karena kan kita tahu, investasi itu kan bukan hal yang sedikit ya,” jelas Rifki.
Ngumpet di Balik Ojol
Meski belum jualan massal, bukan berarti Yamaha tinggal diam. Sejak akhir tahun lalu, mereka telah menggelar uji coba Yamaha Neo’s bersama Grab Indonesia di wilayah Jabodetabek. Program ini bukan proyek ritel biasa, melainkan studi bisnis langsung dari prinsipal Yamaha di Jepang untuk menguji sistem tukar baterai serta ketahanan performa motor listrik di bawah tekanan penggunaan komersial harian.
“Yamaha Neo’s gimana kabarnya? Tes sama ojol sekitar tiga bulan, dari September sampai Desember. Itu project dari YMC, prinsipal di Jepang. Sekarang lagi dievaluasi. Kita di YIMM belum tahu kelanjutannya,” ungkap Rifki pada kesempatan berbeda.
Dengan kata lain, motor listrik Yamaha masih sekadar “siluman”—wujudnya ada, suara desas-desusnya terdengar, tapi belum bisa dibawa pulang.
Jurus Andalan: Bukan Listrik, Tapi Blue Core
Alih-alih terseret arus mainstream, Yamaha saat ini lebih nyaman memainkan kartu efisiensi. Mereka terus mengasah teknologi Blue Core pada mesin bensin konvensional untuk tetap relevan di tengah kenaikan harga BBM.
“Yang pasti, dibandingkan dengan mesin generasi sebelumnya, mesin-mesin dengan teknologi Blue Core efisiensi bahan bakarnya sudah jauh lebih baik,” tegas Rifki.
Bukan sekadar klaim, strategi ini terbukti ampuh. Di Thailand, opsi hybrid seperti Grand Filano sukses menjadi motor terlaris Yamaha, membuktikan bahwa transisi tak harus langsung 100 persen baterai.
Pun di pasar domestik, Yamaha sudah memperkenalkan Fazio Hybrid-Connected dan Grand Filano Hybrid-Connected untuk segmen premium yang menginginkan efisiensi tanpa kerepotan mengisi daya listrik.
Tak Mau Asal Setrum
Rifki menegaskan bahwa keputusan Yamaha tak melulu soal biaya. Menurutnya, Yamaha adalah perusahaan yang sangat ketat dalam hal standar kepatuhan dan kualitas produk. Mereka tak ingin asal meluncurkan motor listrik hanya untuk sekadar ikut meramaikan pasar, lalu bisnisnya tak sesuai ekspektasi dan justru mengecewakan konsumen setia.
“Yamaha itu kan satu compliance, kedua memang sangat mengutamakan quality product. Hal-hal seperti itu yang memang kami sangat hati-hati,” ujar Rifki.
Jadi, jika masih penasaran kapan motor listrik Yamaha mendarat di garasi, bersabarlah. Untuk saat ini, pabrikan Iwata ini masih asyik membuktikan bahwa kunci irit dan performa belum tentu harus pakai colokan.
(Sumber: Yamaha)

Komentar